Malas sekali. Kita datang ke kedai kopi, gerah-gerah siang hari, ngidam iced lychee tea. Bukannya sigap menerima pesanan dan langsung antar ke meja, si manusia di balik bar itu malah mengernyit. Masalahnya? Dia ngotot kau harus coba kopi terbarunya. Ethiopia ethiopia—apalah itu namanya. Baiklah, kau mengalah. Dibikin es kopi ya, katamu. Gerah sekali pancaroba ini. Si barista tertawa dengan gaya yang membuatmu merasa seperti habis bertanya 1+1 itu berapa kepada guru TK.

Tidak, ini paling enak dibikin filter dan disajikan panas, katanya. Kau mulai haus sungguhan dan kehabisan tenaga untuk berdebat. Dijamin bikin harinya tambah cerah, Kak. Kau sedang tak niat tarik urat. Ya sudah, minta gula cairnya jangan lupa ya. Kali ini, si barista tersenyum tanpa kata.

Sesampainya di meja, tibalah cairan hitam yang—kok lebih mirip teh. Mau pekat tapi tak kesampaian. Mau kayak wine tapi kok coklat.

Begitu kau seruput, seketika kau tersedak. Malah pahit campur asam kecut yang ada. Kau samperi si barista sembari kau bawa gelas kopimu. Dengan sekuat tenaga kau tahan amarah, dan menjaga nada agar tak lantas jadi barbar di depan pengunjung lainnya. Mungkin si barista khilaf, bukannya masukkin gula tapi malah cuka. Pelan tapi maut, kau meminta, “Tambah gulanya, Mas.”

Si barista, tetap sumringah, menjawab dengan kesantunan yang satu desibel lagi resmi masuk notasi nyinyir, “Mungkin lidah Mbak belum biasa, tapi kopi spesialti emang nggak pake gula, Mbak.”

Niscaya, cuma amal dan doa yang bisa menyelamatkan si barista dengan senyum mentari.

Ini bukan salah siapa-siapa. Sindrom kopi spesialti memang datang tanpa diundang, namun langsung meradang. Bukan cuma peminum kopi negeri ini yang kelimpahan barista yang tiba-tiba datang dengan segudang jurus seduh. Di Australia sendiri, bahkan tren spesialti ini datangnya seperti fenomena bangun candi. Nggak ada angin nggak ada apa, tiba-tiba jadi.

Maafkan si barista yang kelewat semangat. Semalam dia habis menyeduh sepuluh kali, coba-coba resep demi secangkir kopi yang kau nikmati tadi.  Maafkan kalau proses celup-celup teh tambah sirup leci jadi kurang menantang untuknya. Maafkan dirinya yang butuh lidah lain untuk mencicip dan berkomentar. Tren seduh manual memang sedang naik-naiknya. Ia hanya ingin kau dapat produk terbaik  dari balik dapurnya. Dengan segala niat baiknya ini, pesanan es-teh-leci seringkali bikin ia patah hati.

Metode seduh manual dengan alat filter (kiri) dan syphon (kanan), yang jadi esensi kopi gelombang ketiga (third wave coffee). Populer di kalangan barista, namun belum jadi selera semua orang.

Sementara ada pelanggan yang getol memesan iced lychee tea dan minuman rasa-rasa setiap ke kedai kopi, ada pula pelanggan yang keranjingan baca eksperimen-eksperimen terkini dari perfectdailygrind.com atau baristahustle.com. Kalau yang tadi pesanannya bikin patah hati, yang ini dijamin bikin nenggak puyer tiga porsi.

Apalah salah demam blackberry sekian abad lalu yang melahirkan tren cabe-cabean? Jangan-jangan spesialti juga demikian. Bukan, bukan terus ada yang nyeduh V60 sembari dibonceng naik mio keliling kompleks. Ini soal tren yang bikin semua orang ingin ambil bagian. Perkara benar salah—kalau memang ada—itu urusan belakangan. Tren ini diserap kedai-kedai kopi, hingga turun ke baristanya, sebelum konsumen tahu apa yang tengah terjadi. Barista ingin dihargai, konsumen ingin dilayani.

Di semesta hospitalitas di mana keramahtamahan adalah segalanya, pelanggan selalu dan akan tetap jadi raja. Lalu apa berarti barista cuma bisa remuk redam melihat stok Ethiopian Yirgacheffe-nya yang kebalap habis oleh leci kalengan?

Tidak selalu harus seperti ini.

Di gelombang ketiga, seni menyeduh kopi jadi seserius percobaan di laboratorium. Alat-alat ‘nganeh’ seperti refractometer (atas) & termometer (bawah) jadi andalan barista dalam meramu rasa.

Di Rubiaceae Artisan Coffee Radio Dalam, pasangan tua yang semula hendak konsultasi soal kiat-kiat buka kedai kopi berhasil dibuat tergoda untuk mencoba seduh manual. Pasangan tua tersebut bukan peminum kopi. Bukan pembicaraan soal spesialti yang menarik hati mereka. Pasangan tua tersebut semula hanya berbagi keluh kesah tentang anak mereka yang berniat buka kedai kopi. Hanya kuping mahamendengar yang jadi modal Fanny Winardi, sang pemilik kedai kopi Rubiaceae.

Syarif dari Homebound Coffee Kelapa Gading, di sisi lain, punya cara berbeda untuk merangkul selera lidah pelanggannya. Ketika seorang pelanggan memesan taro latte yang tidak ada di menu, Syarif tidak lantas patah hati. Esok-esoknya, ia sengaja menyetok taro latte demi sang pelanggan. Kunjungan demi kunjungan, si peminum taro latte kini pindah hati ke cold brew. Stok taro latte Syarif tak lagi tersentuh.

Beda barista, beda cara. Satu hal yang serupa: tak ada kisah pencerahan non-peminum kopi yang terjadi di pertemuan pertama. Pertemuan demi pertemuan, cerita demi cerita, baru terjadilah.

Fanny Winardi, pemilik kedai kopi Rubiaceae Artisan Coffee Radio Dalam, memikat pelanggan melalui cerita.

Syarif Wahyudi, di balik bar Homebound Coffee Kelapa Gading, rela meladeni selera pelanggan yang menggemari taro latte.

Panggilan bisa jadi kunci. Berhenti di ‘kak’, ‘pak’, ‘bu’, ‘mbak’, ‘mas’ berarti melanggengkan status kita sebatas ‘pelanggan’ dan ‘barista’. Tidak selalu berarti harus bertukar nama pada pertemuan pertama. Sekelumit sapaan dan anggukan, basa-basi sederhana bisa jadi pintu pembuka. Memang dasar makhluk sosial. Layaknya orang-orang yang lebih bahagia tatkala mereka berinteraksi dengan kiri kanannya di transportasi umum, kita pun dapat bahagia dengan sesederhana berbicara dengan barista.

“Kami menemukan ketika orang-orang diminta melakukan interaksi sosial yang tidak dibuat-buat dengan para barista, daripada sekadar datang dan pergi, mereka pergi dengan rasa kepemilikan yang lebih besar,” ujar Elizabeth Dunn, psikolog asal Univeristy of British Columbia, yang melakukan penelitian tentang bagaimana ritual memesan kopi bisa jadi pengalaman yang sangat positif.

Bersama rekannya, Dunn membagi subjek penelitiannya ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama diminta untuk memulai interaksi sosial yang tidak dibuat-buat dengan barista melalui kontak mata, senyuman, dan percakapan singkat. Kelompok yang satu lagi diminta untuk bersikap seformal dan seefisien mungkin saat memesan kopi. Hasilnya nyata: mereka yang meluangkan beberapa detik untuk berbincang cilik dengan para barista berakhir pergi dengan perasaan lebih bahagia.

“Manusia memang dirancang sebagai makhluk sosial. Interaksi-interaksi semacam ini sangat penting untuk kesehatan kita pribadi. Bahkan yang kecil-kecil pun amat berarti.”

Diceramahi oleh orang yang seharusnya melayani pesanan kita, siapa sudi? Lain cerita jika jarak dan segan sudah semakin tipis adanya di antara kita dan barista. Menerima rekomendasi dari seorang teman, siapa tak mau mencoba?

Betul begitu, Coffeemates?

(Tulisan & suntingan oleh Klara Virencia.

Diadaptasi dari beberapa artikel berikut:
“Should We Allow Customers to Dictate How Coffee Is Served?”,
Perfectdailygrind.com, 16 Juli 2015.
Diambil 23 Januari 2017.

“5 Ways to Stand Out From The Specialty Coffee Shop Crowd”,
Perfectdailygrind.com, 17 September 2015.
Diambil 23 Januari 2017.

“Science says chatting with your barista will make you happier”,
Business Insider Indonesia, 20 Maret 2015.
Diambil 23 Januari 2017

“After seeing the results of a clever psychological study,
I’m considering making a major change to my daily commute”,
Business Insider Indonesia, 15 Juni 2016.
Diambil 23 Januari 2017.)

Klara Virencia

About Klara Virencia

Kurator kopikini.com.

Leave a Reply