Sabtu (25/2) lalu, komunitas Indonesia Latte Art Artist (ILAA) mengadakan workshop ‘Coffee Business’ sekaligus ‘Manual Brewing for Beginner & Intermediate’, bertempat di Synthesis Residence, Kemang, Jakarta Selatan. Rangkaian roadshow oleh ILAA ini rencananya akan berlangsung di 24 kota dari Sabang sampai Merauke hingga akhir tahun 2017.

Dengan semangat mengangkat popularitas kopi Indonesia, rangkaian lokakarya ILAA mengajak komunitas kopi Indonesia, khususnya para barista, untuk lebih peduli kepada kopi Indonesia.

“Pada dasarnya kita ingin barista Indonesia secara menyeluruh lebih aware soal kopi. Gak mudah mengaku diri barista, tapi tahu profesi barista itu apa,” ujar Ardian Maulana, selaku ketua ILAA yang memimpin workshop ini, menjelaskan. ”Goal kita mengangkat value barista.”

Dalam sesi Coffee Business, Ardian menjelaskan tentang apa yang membedakan kedai kopi premium dan specialty. Berangkat dari situ, kemudian ia menjelaskan beberapa faktor yang membuat sebuah kedai kopi masuk ke dalam kategori specialty. Pertama, yang paling ditekankan, adalah sumber daya manusia.

“Di specialty coffee shop, SDM ini ditekankan yang berkompetensi.,” jelas Ardian, sambil menerangkan posisi barista sebagai posisi yang paling ditampilkan dalam dunia specialty coffee. “Yang penting adalah konsistensi. Gimana caranya membuat kopi enak dengan konsisten.”

Setelah menjelaskan pentingnya SDM, baru Ardian menambahkan faktor alat seduh yang tersedia.

Di sesi Manual Brewing for Beginners, Ardian mengajak peserta untuk mengenal berbagai alat seduh manual. Beragam alat seduh manual, mulai dari french press, aeropress, clever, V60, hingga Trinity ONE Coffee Brewer tersedia untuk dicoba oleh peserta lokakarya.

Alat Trinity ONE Coffee Brewer yang menggabungkan teknik seduh aeropress, pour over, dan cold brew sekaligus ini dibawa sendiri oleh salah satu peserta yang merupakan seorang pemilik kedai kopi, Heri Setiadi. Bergerak di bisnis kopi sejak tahun 2000, Heri Setiadi tidak lantas merasa mengerti semuanya. Salah satu tujuannya mengikuti acara ini adalah untuk menambah ilmu dan mengembangkan diri lebih lagi.

Alat seduh Trinity ONE Brewer.

Heri Setiadi, pemilik cafe La Tazza dan Toko Kopi Aroma Nusantara, terjun di dunia kopi sejak tahun 2000.

“Kita jadi mengenal kopi lebih dalam lagi, lebih detail. Saya sudah di bisnis kopi cukup lama ya. Jadi tau kopi berkembang terus,” aku Heri Setiadi, yang mengelola kedai kopi La Tazza dan Toko Kopi Aroma Nusantara sekaligus. “Kadang kita yang sudah terlalu lama ini lebih berkutat di bisnisnya, kita kurang mengikuti perkembangan. Jadi saya seneng gitu, dateng ke sini banyak yang saya dapet.”

Usai membahas berbagai alat seduh, cara penggunaannya, serta 5 hal mendasar tentang metode seduh manual di kelas Beginner, Ardian kemudian menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi hasil rasa kopi seduh manual dengan lebih detail di kelas Intermediate. Mulai dari Brew Strength, Yield Extraction, Extraction Rate hingga Brew Ratio.

Dalam sesi intens selama kurang lebih 2 jam, peserta diajak menghitung gramasi, rasio air dan kopi, lama proses penyeduhan, hingga berapa presentasi ekstraksi kopi yang larut. Di sini, ilmu matematika harus digunakan lagi.

Para peserta pun terlihat sigap mencatat setiap informasi yang didapat. Siska Sarwono, salah satunya. Sebagai pemilik kedai Joglo Coffee yang terletak di Kemang, ia mengaku mendapatkan banyak sekali mendapat tambahan pengetahuan.

Siska Sarwono, penggagas Joglo Coffee, di tengah sesi ‘Coffee Business’ pada Sabtu (25/2) lalu.

“Saya tadinya coba-coba di kafe-kafe lain, lalu saya beli alatnya. Kemudian saya coba di rumah. Kenapa sih kok beda, ternyata faktornya tuh banyak,” ujar Siska Sarwono, yang juga mengelola Waroeng Solo berdampingan dengan Joglo Coffee. “Jadi dengan masuk kelas ini, lebih tau detilnya lagi soal kopi.”

Siska mengaku, kelas workshop seduh manual ILAA ini memberikannya banyak ilmu sebagai pemilik kedai kopi.

“Kesannya ILAA ini buat saya pribadi, saya seneng banget,” ujar Siska Sarwono, seusai coba menyeduh di penghujung sesi ‘Intermediate’. “Karena ada beberapa ilmu yang memang saya butuhkan untuk saya sebagai pemilik warung kopi.”

Wanita yang sehari-hari selalu mengenakan kebaya ini mengaku ingin sekali menghidupkan konsep kedai kopi yang dijalankan oleh barisan barista yang mengenakan kebaya.

“Kopi itu buat saya seni, seperti kebaya,” papar Siska. “Cita-cita saya ya jadi barista di warung kopi saya sendiri.”

‘Latte Art Artist’ Yang Mendukung Kopi Indonesia

Rupanya banyak yang mempertanyakan kenapa komunitas Indonesia Latte Art Artist (ILAA) mengadakan workshop tentang manual brew. Ardian pun menjelaskan, bahwa ILAA turut menyandang nama ‘Coffee People Community’. Maka materi yang dibahas tidak hanya terbatas pada seni melukis di atas kopi, namun mengenai kopi secara keseluruhan.

“Kenapa pilih manual brewing, karena menurut saya brewing lagi hype banget,” jelas Ardian. “Jadi kita perlu kasih awareness kepada temen-temen dan pelaku bisnis kopi, untuk memahami brewing lebih dalam.”

Di sini Ardian juga menekankan bagi barista Indonesia untuk terus giat mempopulerkan kopi Indonesia.

Tagline promo ‘Dukung Kopi Indonesia’ ini adalah satu keyakinan. Karena ini (kopi Indonesia—red) sudah mendunia,” ujar Ardian. “Sampai nama secangkir kopi disebut ‘a cup of Java’, tapi kenapa sampai sekarang belum menjadi nomer 1?”

Meski di lokakarya ini Ardian menggunakan biji kopi Ethiopia Yirgacheffe Tchembe N2 olahan Ninety Plus yang ia dapat dari pihak sponsor, ia mengaku selama ini acara ILAA selalu mengedepankan biji kopi Indonesia. Peserta diajak membandingkan kopi-kopi Lintong, Gatot Kaca dan Benar Meriah asli Indonesia dengan kopi impor.

“Dari pertama kali kita buat ini, ini baru pertama kali kita ada kopi luar negeri,” jelas Ardian. “Di semua kompetisi ILAA baik itu brewing atau apapun, itu semua kopi Indonesia.”

Ardian yakin betul, jika setiap individu turut serta meningkatkan kualitas kopi Indonesia maka bukan tidak mungkin kopi Indonesia menjadi nomor 1 di dunia.

Para peserta workshop dipenghujung sesi ‘Manual Brew for Intermediate’.

Para anggota komunitas Indonesia Latte Art Artist (ILAA). Rangkaian workshop pada Sabtu (25/2) lalu ditutup oleh acara gathering komunitas ILAA.

(Liputan oleh Lani Eleonora & Klara Virencia;
tulisan oleh Lani Eleonora;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto & suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.

Hubungan kerjasama oleh Clarissa Eunike.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply