Sukses menggaet 5.000 pengunjung selama dua hari, Pesta Kopi Mandiri 2017 edisi Jakarta yang digelar 29-30 April 2017 lalu di Museum Bank Mandiri sama sekali jauh dari nuansa sesak. Siapa sangka, pesta kopi yang mengusung tema #NgopiDiMuseum ini justru terletak di ruang terbuka?

Dikelilingi lorong-lorong yang antik oleh usia dan dilapisi hamparan rumput, acara kopi garapan ABCD School of Coffee ini justru lebih mirip pesta taman tersembunyi dalam museum. Pengunjung datang silih berganti, mulai dari kalangan pecinta kopi hingga keluarga yang tengah berwisata di area Kota Tua.

“Kami sangat tidak menyangka bahwa animo masyarakat akan sebesar itu. Awalnya kami pikir tidak akan ramai mengingat parkiran yang ga mudah, dan outdoor,” ujar Sella Juliani dari ABCD School of Coffee. “Tujuan utama kami tercapai, yaitu mengajak temen-temen untuk menikmati kopi di museum, mengenal sejarah-sejarah. Biar ga melulu di mall dan coffeeshop terus.”

Memang, untuk memasuki area Pesta Kopi Mandiri 2017, pengunjung akan terlebih dulu melewati area diorama museum. Setelah keluar dari ruangan diorama, jajaran kedai kopi maupun roastery ibukota siap menyambut para pengunjung. Di ujung lorong, tangga yang mengarah ke bawah akan membawa pengunjung ke tengah tanah lapang tempat keriuhan berada.

Pusat tontonannya, tak lain tak bukan, adalah lomba latte-art throwdown ALASKADABRA. Memasuki tahun ketiganya, ALASKADABRA kembali menawarkan hadiah yang menggiurkan bagi pemenang tunggal. Bukan materi, melainkan pengalaman: kesempatan mengunjungi World Barista Championship (WBC) 2017 di Seoul, Korea Selatan pada bulan November nanti secara cuma-cuma.

Masih dalam satu rangkaian World Coffee Events (WCE), World Latte Art Championship (WLAC) 2017 diadakan lebih dulu dari WBC pada bulan Juni di kota yang berbeda. Membawa pemenang latte art untuk menyaksikan kompetisi tingkat dunia di cabang yang berbeda, ABCD School of Coffee bertujuan ingin membuka wawasan pemenang.

Sella Juliani lantas menjelaskan, “Pertimbangannya karena kita mau ajak pemenang melihat-lihat expo. Biasanya kalau WBC, expo nya jauh lebih besar daripada yang WBrC (World Brewers Cup, diadakan bersamaan dengan WLAC–red), dll. Dan juga menambah supporter buat pemenang Indonesia Aeropress Championship yang akan bertanding di Korea nanti.”

Setelah menyingkirkan 47 peserta lainnya, Cahyadi Wijaya dari MONKS Jakarta keluar menjadi juara ALASKADABRA 2017. Bersenjatakan milk jug pribadi, masing-masing peserta diharuskan membuat motif latte art sesuai tuntutan babak masing-masing: monk’s head pada babak pertama, tulip 3 tingkat pada babak kedua, tulip 7 tingkat pada babak ketiga, burung hantu pada babak keempat, dan kura-kura pada babak final. Tak perlu bikin espresso, peserta hanya perlu menyelesaikan motif dalam waktu 5 menit.

Terdengar mudah? Tunggu dulu.

Motif tulip 7 tingkat.

Motif monk’s head.

Motif tulip 3 tingkat.

Motif sea turtle, oleh Juara World Latte Art Championship 2015 Caleb Cha.

Motif owl, oleh Juara World Latte Art Championship 2015 Caleb Cha.

Motif monk’s head yang terlihat paling sederhana, rupanya jadi momok bagi para latte-artist.

“Babak 1 itu kan sebenarnya kita gambar classic cappuccino. Cuman sulit banget, karena enggak terbiasa. Kalo latihannya, juga intens di motif itu,” aku Cahyadi. ”Yang paling basic, sebenernya yang paling susah.”

Simetris, bulat, dan proporsional jadi syarat utama motif monk’s head yang sempurna. Layaknya lomba throwdown, para juri tidak sibuk dengan tabulasi nilai. Masing-masing juri diizinkan mengamati latte-art selama beberapa saat, sebelum menunjuk cangkir dengan latte-art favorit dalam hitungan ketiga.

Disamping jajaran stand kopi dan lomba ALASKADABRA, terdapat pula kelas cupping air bertajuk CLBK (Cupping Lucu Bersama Kita) oleh komunitas @ngesselin dan pemutaran film Filosofi Kopi.

Para finalis ALASKADABRA 2017. Kiri ke kanan: Ramis (Juara III), Restu Sadam Hasan (Juara II), & Cahyadi Wijaya (Juara I).

Juara I ALASKADABRA 2017, Cahyadi Wijaya.

(Liputan oleh Lani Eleonora & Klara Virencia;
tulisan & suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto oleh Andreansyah Dimas.

Hubungan kerjasama oleh Clarissa Eunike.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply