Coffeemates, apa yang akan kamu lakukan jika perhatian pasangan kamu tersedot habis oleh aktivitasnya di kedai kopi? Profesinya bukan sebagai barista, roaster ataupun pemilik kedai kopi. Kegiatan satu-satunya pasangan kamu di kedai kopi hanyalah nongkrong dengan teman-teman tapi membuatnya jarang menghubungi kamu. Hmmm… agak ngeselin pasti.

Pada tahun 1674 di London, Inggris, tren minum kopi yang sedang dalam zaman keemasannya sempat heboh oleh petisi dari sekelompok wanita yang merasa kekasih mereka terlalu banyak menghabiskan waktu di kedai kopi.

Banyak yang percaya bahwa petisi berjudul “Women’s Petition Against Coffee” ini adalah petisi sungguhan dari para istri yang cemburu dengan para suami yang kebanyakan nongkrong di kedai kopi dan jarang pulang. Tapi tak banyak yang tahu, sesungguhnya petisi ini adalah sindiran yang ditulis dengan tujuan menyentil kesadaran.

Berawal dari dibukanya kedai kopi pertama di Inggris, Pasqua Rosee tahun 1652, budaya ngopi-ngopi di kalangan bapak-bapak di London pun semakin populer. Pasqua Rosee pun membuat banyak selebaran tentang bagaimana kopi dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sebuah bentuk marketing yang akhirnya berhasil menarik banyak sekali pengunjung di kedai kopinya.

Pada masa itu, kedai kopi menawarkan sesuatu yang lain dibandingkan dengan tempat-tempat hiburan lain. Kegiatan nongkrong yang tadinya selalu melibatkan alkohol, kini dapat dinikmati dengan secangkir kopi hangat yang dapat memancing banyak topik diskusi. Semacam pilihan yang lebih murah untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru. Terlebih, bagi rakyat kelas menengah ke bawah yang tidak mampu belajar di sekolah atau perguruan tinggi.

Fenomena kedai kopi pun semakin menarik ketika orang-orang sadar bahwa ini adalah satu-satunya tempat yang tidak dikontrol oleh status sosial, malahan melebur semua batasan. Keberadaannya memicu kemunculan banyak karya literatur. Salah satunya, adalah karya satir dari John Starkey yang menulis buku berjudul “A Character of Coffee and Coffee Houses”, pada tahun 1661.

Dalam bukunya, John Starkey mengkritisi kehadiran kedai kopi yang membuat batasan sosial menjadi hilang, “Di sini tidak ada penghargaan terhadap individualitas… sebuah kemewahan hakiki terhadap ‘kesetaraan’ yang hanya dimiliki oleh Golden Age dan kedai kopi.”

Selain merupakan usaha untuk menghibur dan mengerti kehadiran kedai kopi, karya literatur ini juga hadir sebagai penyeimbang dari sekian banyak literatur yang begitu mengagung-agungkan kehadiran kedai kopi.

Karya satir paling kontroversial yang muncul pada saat itu adalah “Women’s Petition Against Coffee”, yang terbit pada tahun 1674. Hanya dikenal dengan nama ‘A Well Wisher’, penulisnya tetap anonim hingga kini. Pamflet yang tersebar menyerukan, meski laki-laki berbicara soal politik dan berbicara untuk membuat dunia menjadi lebih baik, sesungguhnya mereka tidak pernah melakukan apapun.

Menurut James Hoffmann, pemenang World Barista Championship 2007 yang menulis soal kopi sejak tahun 2004, petisi ini hanyalah sebuah sindiran. Ia berharap agar orang-orang berhenti menganggap petisi ini sebagai sebuah aksi historis yang pernah dilakukan oleh perempuan pada masa itu.

“Pamflet itu lucu—tapi sudah waktunya orang-orang berhenti membesarkan candaan kecil dan bersikap seolah-olah petisi tersebut punya posisi penting dalam sejarah,” tandas James Hoffman dalam tulisannya.

Tidak bermaksud menakut-nakuti ya, Coffeemates. Boleh kok, santai nongkrong di kedai kopi dan menghabiskan waktu berkualitas sama teman-teman. Namun, jika kamu punya pasangan yang rajin bertanya kabar dan posisi, mohon dibalas. Sebelum petisi ini benar-benar keluar dari sekelompok wanita yang merasa dinomorduakan oleh cangkir espresso kamu.

(Disadur dari jimseven.com & gopetition.com.

Tulisan oleh Lani Eleonora,
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto disadur dari luna.folger.edu.com, slaysyourdragon.wordpress.com, cindynord.com )

 

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply