Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Moelyono Soesilo memproyeksikan, konsumsi kopi Indonesia dan negara-negara penghasil kopi lainnya akan meningkat dari 15% menjadi 25% pada tahun 2020 nanti. Tren peningkatan konsumsi kopi ini belum diimbangi dengan peningkatan produksi kopi dalam negeri.

Saat ini, dengan jumlah penduduk 255 juta jiwa, Indonesia berada di tingkat konsumsi 4-5 juta karung per tahun, atau sekitar 300.000 ton. Angka ini kontras dengan Jepang yang, meski tidak memproduksi kopi, tercatat menjadi ‘negara tradisional pengkonsumsi kopi’ dengan tingkat konsumsi sebesar 7,5 juta karung per tahun, dengan jumlah penduduk 126 juta jiwa.

Menurut Moelyono Soesilo, profil piramida penduduk yang didominasi kelompok muda yang dimiliki oleh Indonesia merupakan kans besar bagi peningkatan konsumsi kopi di Indonesia. Ia menambahkan, potensi pertumbuhan minum kopi juga didukung oleh kondisi demografis masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim. “Muslim kan nggak minum alkohol. Ngumpul, ngobrol sama keluarga itu kan di kafe, resto, ” jelas Moelyono Soesilo, pada forum lokakarya wirausaha (enterpreneur workshop), Jumat (30/9) lalu. “Itu yang akan dapat meningkatkan konsumsi.”

p1260337

p1260341

Forum lokakarya wirausaha di Universitas Dian Nusantara (UDINUS), Jumat (30/9), mengulas potret dan potensi industri kopi.

Saat ini, tingkat konsumsi kopi masyarakat Indonesia bertumbuh sekitar 5-6% per tahun. Namun pertumbuhan konsumsi ini tidak diimbangi pertumbuhan produksi kopi, yang besarnya hanya 1-2% per tahun.

Untuk mengimbangi kebutuhan kopi dalam negeri, pemerintah masih melakukan impor kopi dari negara-negara tetangga penghasil kopi, seperti Vietnam. Kementerian Perindustrian mencatat bawa tingkat impor kopi olahan rata-rata naik 4% per tahun.

“Kenapa naik? Karena harga yang bersaing dan produktivitas di Vietnam tinggi, tentu dia produksi kopi yang lebih murah,” ujar Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, Ir. Panggah Soesanto, dalam pembukaan acara “It’s Coffee Day”, Sabtu (1/10). “Padahal Vietnam pendatang baru.”

Moelyono Soesilo mengamati, pertumbuhan konsumsi kopi dalam negeri sebesar 5-6% ini tidak serta merta memengaruhi penyerapan hasil produksi kopi Indonesia. Dari 300.000 ton kopi yang dikonsumsi masyarakat indonesia, baru sekitar 40% nya yang berasal dari olahan kopi Indonesia. Sementara produksi kopi Indonesia terdiri dari jenis kopi robusta dan arabika, selera peminum kopi Indonesia masih berkutat di sekitar kopi robusta dan tubruk.

p1260323

Moelyono Soesilo pada forum lokakarya “It’s Coffee Day” di Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS), Semarang, Jumat (30/9).

Moelyono Soesilo memaparkan, mayoritas kopi ‘spesial’ dengan identitas geografis spesifik yang dihasilkan pulau-pulau besar di Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Papua, dan Sulawesi, merupakan jenis kopi arabika. Daerah-daerah yang tercatat sebagai penghasil kopi di Indonesia antara lain: Sumatera dengan kopi Mandailing, Gayo, Lintong, Takengon, Sidikalang; Jawa dengan kopi Preanger dan Malabar; Papua dengan kopi Wamena; beserta Sulawesi dengan kopi Toraja Kalosi. Tidak ketinggalan, Bali dengan Bali Kintamani dan Flores dengan Flores Bajawa dan Manggarai.

Selain kopi tubruk yang identik dengan sensasi ‘pahit’ a la robusta, lidah masyarakat Indonesia juga akrab dengan tren ‘white coffee’ yang mulai populer sejak tahun 2010.

“Sesungguhnya white coffee itu kan sesederhana kopi, gula, krimer,” ujar Moelyono Soesilo. “Tapi marketingnya bagus.”

Pemaparan potret industri kopi ini ia sampaikan pada forum lokakarya wirausaha (enterpreneur workshop), Jumat (30/9) lalu, sebagai bagian dari rangkaian acara “It’s Coffee Day”. Lokakarya tersebut kemudian ditutup dengan demonstrasi teknik seduh manual dari komunitas Semarang Barista Society (SBS).

p1260354

p1260358

Semarang Barista Society (SBS) mendemonstrasikan alat-alat seduh manual di UDINUS, Semarang, Jumat (30/9).

(Liputan, Foto, & Tulisan oleh Klara Virencia.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply