Gerak-geriknya jenaka. Celetukannya nyelekit, tapi ada benarnya juga. Pelit bukan kata yang tepat disematkan untuknya.

“Rejeki udah ada tiap orang. Kalau punya ilmu harus dibagi,” ujarnya.

Viva Barista - Bandung-2 (1) Sosok Widya Pratama, pemilik Pabrik Kopi Aroma generasi kedua, siang itu tidak hanya menuntun kami dalam wisata kopi, tapi juga mengajak kami merenungi kehidupan. Produk Kopi Aroma asal Bandung yang namanya harum tercium sampai belantara Jakarta ini sudah ada sejak 1930.

Tidak banyak menggunakan gimmick ala produk kopi modern, Pabrik Kopi Aroma berdiri atas dasar kopi sebagai kebutuhan. Hampir seabad setelahnya, kini Pabrik Kopi Aroma masih bertahan dengan tradisi dalam mengolah biji-biji kopinya. Kopi disangrai menggunakan tungku Probat buatan Jerman, dengan bahan bakar kayu karet.

Sebagai pemilik, Widya betah memasak kopinya sendiri. Bukannya CEO atau owner, ia menyebut dirinya ‘tukang kopi’.

Viva Barista - Bandung-2Viva Barista - Bandung-20 (1) Viva Barista - Bandung-19  Viva Barista - Bandung-18

Widya menjunjung tinggi proses. Setiap biji kopi yang dijual telah tersimpan setidak-tidaknya 5 tahun. Ada pula yang sampai 8 tahun. Tumpukan karung-karung kopi ini menggunung sampai ke langit-langit gudang. Dalam waktu sekian lama, green bean atau kopi mentah yang baru dipanen akan berubah warna menjadi kuning kecoklatan. Cita rasa yang khas pun menguar darinya.

“Makanan nggak bisa macam-macam, nggak bisa dipercepat,” tegas beliau, keukeuh. Cerewet memang beliau soal kopi. Quality control nomor satu baginya. Semua kopi yang sudah di-roast atau disangrai haruslah disimpan dalam karung goni. Apa pula sebabnya?

“Kalau pakai baju, enak katun atau nylon?” tantang Widya. Bicara kenyamanan, katun tentunya. Alasannya sama dengan kenapa kopi pakai goni, jelas Widya. Biar dapat sirkulasi udara. “Tapi anak muda zaman sekarang nggak peduli, kan. Baju asal keren dipakai aja. Nggak bisa begitu.”

Di tengah budaya instan yang membuat manusianya tergesa mengejar hasil yang segera, janggal rasanya Pabrik Kopi Aroma masih mampu bertahan dengan cara lawas tanpa merugi. Misteri ini dijawab sederhana oleh beliau, “Ya kalau dapat uang dari toko dipakai buat beli kopi. Jangan buat kawin lagi.”

Silih peran sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan, Widya merangkum prinsip-prinsip bisnis yang ia gunakan untuk menjalani Pabrik Kopi Aroma selama bertahun-tahun menjadi ‘7M’: Man, Money, Material, Machine, Method, Market, dan Management (Sumber Daya Manusia, Uang, Bahan, Mesin, Metode, Pasar, dan Manajemen).

“Semuanya harus balance—seimbang,” ujarnya. Tak sesaatpun ia terlihat segan berbagi. Pengunjung dibiarkan mengintip begitu saja proses balik dapur Kopi Aroma. Bagi Pak Widya, prinsipnya mudah saja: “Kalau serakah, nanti pendek umur usahanya.”

DSC04631 Viva Barista - Bandung (1)

Disadur dari VivaBarista (Annisa ‘Abazh’ Amalia, Gianni Fajri,
Handoko Hendroyono, & tim Maji Piktura)

Related Post

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply