Perhelatan ‘Uji Cita Rasa Kopi’ pada Kamis (22/12) siang itu menghasilkan hamparan 999 gelas kopi Sunda Hejo di tanah lapang Gunung Puntang, Bandung, Jawa Barat. Para hadirin, mulai dari barista hingga anak-anak pramuka, bisa mencicip dan menuliskan komentar tentang rasa kopi pada secarik kertas yang tersedia di bawah masing-masing gelas. Satu hal yang mereka tidak ketahui: di antara gelas-gelas tersebut tersembunyi gelas seduhan kopi busuk.

“Nah, ini kopi komentarnya ‘good’,” ujar Eko Purnomowidi, petani kopi yang menjadi salah satu pendiri koperasi Klasik Beans. Ia sembari menunjuk kartu komentar di salah satu cangkir berlabel ‘C’. Tanpa sepengetahuan hadirin pencicip kopi, ‘C’ merupakan label untuk seduhan kopi busuk. Sementara, kopi yang diseduh dari ceri hijau diberi label ‘A’. Kopi kualitas terbaik, yakni kopi dari seduhan buah ceri merah, mendapat label ‘B’.

Dari 6 sampel kelompok gelas kopi yang ditunjuk Eko Purnomowidi, 4 sampel kopi busuk mendapat komentar positif. Selain diberi komentar ‘enak’, kopi-kopi di gelas berlabel ‘C’ juga laris manis dicicip. Cairan kopi busuk tersebut tersisa lebih sedikit dibanding cairan kopi di gelas ‘A’ dan ‘B’. Favorit rakyat, rupanya.

“Ini temuan kita semua,” lanjut Eko. “Bahwa ternyata masyarakat masih senang kopi busuk.”

Eko menjelaskan, buah ceri kopi busuk biasanya muncul dari proses pascapanen yang terlambat. Bukannya langsung diproses kelupas dan jemur, buah-buah ceri tersebut ‘tersimpan’ hingga menghitam. Selain faktor pascapanen, buah ceri kopi yang sudah matang merah juga kerap telat dipetik. Alhasil, ceri-ceri kopi tersebut kelewat ‘matang’, menghitam, dan—tak jarang—berjamur. Kopi-kopi busuk ini menghasilkan rasa ‘pahit’, yang identik jadi rasa kopi di kalangan peminum kopi umumnya.

“Artinya apa? Kopi yang dijual di masyarakat itu kopi busuk,” tandas Eko.

Bukan berarti industri kopi sengaja meracun. Menurut Eko, lidah masyarakat yang gemar kopi busuk ini merupakan peninggalan zaman penjajahan Belanda. Kala itu, kopi ceri merah jadi konsumsi Belanda. Kopi kualitas kelas dualah yang pribumi konsumsi. Selera ‘nyeleneh’ ini lantas berlanjut sampai sekarang.

“Jadi bukan berarti industri kita tidak punya niat baik. Tapi tidak mau merubah,” papar Eko. “Tidak mau membentuk tren. Tidak mau menyadarkan.”

Eko Purnomowidi, petani kopi dan salah satu pendiri koperasi kopi Klasik Beans, di tengah kegiatan seduh kopi massal, Kamis (22/12).

Lebih jauh, Eko berpendapat bahwa industri kopi selama ini berperan merawat kegemaran peminum kopi Indonesia meminum kopi kualitas kelas dua karena alasan ‘pasar’. Dalam pandangan Eko, industri punya kekuatan untuk membentuk selera masyarakat. Tidak sekadar meladeni permintaan.

“Ini kalau barang nggak ada di pasar, barangnya mengganti jadi yang B, kita pasti minum.”

Selama ini, pegiat kopi spesialti (specialty coffee)-lah yang gencar menyuarakan pentingnya ‘petik merah’. Namun Eko sadar, perkara mengubah selera ini tidak bisa jadi tanggung jawab pegiat kopi spesial saja.

“Kita tidak bisa sendirian. Banyak industri yang lebih besar dari kita,” ujar Eko. Koperasi Klasik Beans yang didirikannya memasok beras kopi dengan kualitas kopi spesial. “Spesialti tuh kecil banget.”

Eko mengakui, ia belum tahu angka pasti permintaan ceri merah dari industri kopi secara umum. Berdasarkan paparan data Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi (AEKI) Jawa Tengah, Moelyono Soesilo, selera minum kopi masyarakat Indonesia secara umum masih didominasi kopi robusta dan tubruk.

Udunan Seduh Kopi dan Reforestasi Massal

Acara seduh kopi dan cicip kopi massal ini merupakan yang kedua kalinya oleh Klasik Beans. Dalam menyelenggarakan acara yang jatuh tepat pada Hari Ibu tempo hari, Klasik Beans juga menanami ulang lahan Gunung Puntang dengan tanaman asli (endemik) iklim tropis khas Indonesia. Sebelumnya, lahan terbuka tersebut dipenuhi tanaman sayur-sayuran.

“Sayuran mungkin untuk petani setempat lebih ngehasilin uang,” papar Anes, perwakilan dari kedai Kopi Florist. “Tapi akarnya nggak kuat, nggak kayak pohon. Makanya sering longsor.”

Selain menggandeng kedai Kopi Florist, Klasik Beans bekerjasama dengan PGPI (Persaudaraan Gunung Puntang Indonesia), LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), Perhutani, serta Paguyuban Tani Sunda Hejo untuk mewujudkan penanaman ulang lahan ini.

Kegiatan tanam ulang pun dilakukan secara massal oleh kurang lebih 600 pengunjung acara dengan berbagai latar belakang di ‘Reforestasi dan Uji Cita Rasa Kopi’, Kamis (22/12) lalu. Baik barista, anak-anak pramuka, maupun keluarga yang tengah berwisata, semuanya udunan (gotong royong—red) menanamkan bibit-bibit pohon yang sudah disediakan.

Sementara itu, untuk menyeduh 999 cangkir kopi tubruk secara serentak, Klasik Beans sukses merangkul barista-barista dari kedai kopi asal Ciwidey, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Tasikmalaya, Malang, Semarang, Purwokerto, hingga Flores untuk udunan turun tangan menyeduh dengan gaya masing-masing.

(Liputan, tulisan, & suntingan oleh Klara Virencia;
foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply