Bagi kamu yang butuh kopi hitam dalam waktu singkat, namun tetap ingin menikmati kekayaan rasa kopi arabika, mesin kopi Clover bisa jadi jawabannya. Dalam ‘Clover Experience’ perdananya, Kamis (4/8), Starbucks menghadirkan kemewahan kopi nikmat dalam waktu kilat. Ryan Wibawa, barista juara Indonesia Brewers Cup (IBRC) 2015, memandu para pelanggan menyaksikan proses penyeduhan dengan mesin seduh (brewing machine) Clover.

DSC_0571

Ryan Wibawa membuka Clover Experience di Starbucks Reserve Grand Indonesia, Kamis (4/8)

Berbasiskan teknologi vacuum-press, Clover bekerja dengan memadukan teknik alat seduh french press dan syphon. Seperti pada seduhan french press, bubuk kopi hasil gilingan terlebih dulu diseduh dan didiamkan selama 20-30 detik.

Sesudah itu, ampas kopi akan dipisahkan ke bagian atas, agar ekstrak kopi turun menetes ke wadah, layaknya pada seduhan syphon. Dengan teknik tekan vakum (vacuum-press), kopi menghasilkan rasa akhir yang terekstrak sempurna. Mulai dari terseduhnya kopi sampai secangkir jadi, semuanya hanya butuh waktu 1 menit saja.

DSC_0575

DSC_0576

Ampas kopi yang terekstrak oleh mesin Clover.

Bicara keunggulan memang kurang pol tanpa perbandingan. Usai menyeduh dengan mesin Clover, Ryan beralih ke alat seduh manual flat-bottom. Berbentuk serupa V60, namun lebih pipih, dengan kelir-kelir yang lebih tegas di sisi dalamnya. Bagian bawahnya berbentuk bidang segi panjang, tidak corong seperti V60. Bidang datar ini menjanjikan pengendapan sebelum ekstraksi dan rasa yang lebih pekat.

Benar saja. Hasil seduhan flat-bottom menguarkan wangi yang sangat ‘keluar’ dan nyata. Saat dihirup, rasa pahit dan asam kopi hasil seduh flat-bottom kuat terasa. Tekstur yang lebih creamy juga hadir di lidah. Dengan brewing time sekitar 2 menit, hasil seduhan flat-bottom bisa dinikmati setelah 3 menit.

DSC_0577

Ryan Wibawa tengah menyajikan kopi Colombia hasil mesin Clover.

Biji kopi pilihan Starbucks Reserve, Cape Verde dan Colombia San Fermin, menjadi primadona dalam demo ini. Berkat Clover, keduanya menghasilkan sensasi ringan di mulut, tanpa kehilangan karakter rasanya. Nuansa asam lemon pada Cape Verde hadir utuh, tidak menggigit. Sedangkan wangi pepaya pada Colombia tetap tertahan di ujung rasa.

DSC_0488

Memang khas Clover, Ryan menjelaskan, untuk meninggalkan sensasi clean tanpa aftertaste. Demi menguatkan sensasi lemon yang samar tertinggal usai secangkir Cape Verde, camilan peach soes yang tersaji menjadi pendamping sempurna. Sedang pada Colombia San Fermin yang berkarakter lebih asam, espresso brownies dengan secuil pahitnya manjur menetralisir lidah para peminumnya.

Dengan waktu penyeduhan lebih singkat, secangkir kopi a la Clover bisa jadi pilihan pertama bagi para penikmat kopi on-the-go. Lidah-lidah yang terbiasa dengan kopi manis juga bisa berkenalan dengan kopi hitam melalui kopi hasil seduhan Clover. Lebih ‘jinak’ dari segi pahit dan asam, namun tetap kaya dengan variasi rasa kopi Arabika.

DSC_0538

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply