Negeri Cina, yang sahnya kini dipanggil Republik Rakyat Tiongkok (RRT), berdasarkan sejarah selama berabad-abad adalah negara peminum teh. Sekitar 2700 tahun lalu, Kaisar Shennong secara tidak sengaja mencicipi ada rasa yang berbeda setelah menemukan daun dari pohon Camellia jatuh ke dalam cangkirnya yang berisi air hangat. Mulanya dikonsumsi untuk alasan medis, teh kemudian berubah menjadi bagian dari seni budaya dan konsumsi masyarakat setiap hari.

Bagaimana dengan kopi?

Meski telah memiliki industri perkebunan kopi selama lebih dari satu abad, tidak serta merta ngopi jadi kebiasaan masyarakat Cina. Biji kopi yang sebagian besar tumbuh di provinsi bagian selatan, Yunnan, semuanya adalah Arabika dengan kualitas yang ngambang. Terlalu baik untuk konsumsi lokal, tapi belum cukup baik untuk diolah menjadi specialty coffee. Sebagian besar produksi kopi Cina diekspor ke Jerman, dan masyarakat lokal sendiri malah mengonsumsi kopi yang diimpor dari Vietnam.

Sejatinya identik dengan negeri Cina.

Per tahun 2014, sebanyak 98% pembelian kopi di pasar swalayan Cina masih berupa kopi instan. Tak jauh beda tabiatnya dengan Indonesia, jenis kopi yang paling populer di Cina adalah jenis 3-in-1 berisi butiran bubuk robusta, krimer, dan pemanis yang dicampur jadi satu.

Seiring merasuknya globalisasi dan meningkatnya perekonomian Cina, semakin banyak pula kedai kopi waralaba multinasional yang membuka cabang. Starbucks pun tampil sebagai pemain terbesar dalam industri kopi Cina dengan menyatukan selera minum teh masyarakat lokal ke dalam produknya. Tetap, menu yang paling populer adalah green tea frappucino.

Tadinya, kedai kopi di Cina tak lebih dari sarana untuk mengekspresikan keinginan masyarakat kelas menengah akan “gaya hidup barat”. Konsumen pun biasa datang ke kedai kopi hanya untuk menikmati suasana, bersosialisasi, dan menggunakan koneksi internet. Menurut jurnalis Ketti Wilhelm yang mengamati industri kopi di Cina, semakin mahal secangkir kopi bermerk Amerika, semakin tinggi status sosialnya dan semakin banyak orang menginginkannya.

Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat, konsumsi kopi di Cina meningkat hingga tiga kali lipat dalam kurun waktu empat tahun. Di Shanghai saja, Starbucks sudah memiliki 1.000 cabang. CEO Starbucks Howard Schultz sampai berkata, “Saya tidak akan terkejut jika suatu hari, kita memiliki lebih banyak cabang di Cina daripada di Amerika.”

Di tengah menjamurnya Starbucks di Cina, tren specialty coffee turut datang menghampiri. Uni-uni Roaster & Bakery adalah salah satu kedai kopi dengan semangat kopi gelombang ketiga (third wave).

Specialty Coffee di Cina

Pemenang China Barista Championship 2014, Jeremy Zhang, bertekad membuat minum kopi menjadi kebiasaan bagi masyarakat Cina. Baginya, ini adalah sebuah seni, sebuah pergerakan. Pergerakan inilah yang coba Jeremy capai bersama dengan kedai kopinya Uni-Uni Roaster & Bakery dan merk retail M2M.

Bukan sekedar barista biasa, Jeremy Zhang menghabiskan waktunya belajar dan bekerja di Melbourne, Australia. Setelah menerima gelar MBA dari Monash University, dia menjadi manajer pembelian di salah satu supermarket waralaba di Melbourne. Saat itulah ia mulai memiliki ketertarikan terhadap kopi.

Setelah ia kembali ke Cina, Jeremy memutuskan untuk mengikuti kejuaraan barista.  Ia merasa tidak ada cara yang lebih baik untuk belajar, berlatih, dan menjadi lebih baik. Menjadi juara ketiga pada tahun 2013 dalam China Barista Championship, Jeremy menjadi pemenang China Barista Championship 2014 dengan mempresentasikan biji kopi Panama Geisha.

Jeremy Zhang, juara China Barista Championship 2014, berbagi ilmu kopi melalui kedai Uni-uni Roaster & Bakery binaannya.

Jeremy Zhang (kanan) bersama Juara III China Barista Championship 2015. Jianing Du (kiri). Menguatkan tim Zhang, Jianing Du saat ini merupakan kepala barista di Uni-uni Roaster & Bakery.

Tak lekas puas dengan gelar sebagai juara barista nasional, Jeremy berdedikasi untuk menyebarluaskan pengetahuannya tentang kopi. Di kota kelahirannya, Nanjing, Jeremy menjalankan kedai kopi  Uni-Uni Roasters & Bakery. Jeremy lebih memilih untuk hadir di balik bar sesering mungkin Tidak terlihat piala apapun di dalamnya.  Ia percaya, fokus pelanggan harus tetap berada pada kualitas kopi dan pelayanan. Bukan padanya.

Jika saat ini pelaku industri kopi sudah mulai membicarakan “fourth wave” alias kopi gelombang keempat di level global, Jeremy percaya Cina baru saja menapaki era gelombang ketiga.Mulai banyak kedai kopi kecil di Cina sudah mengenal istilah single origin, pour over, dan single origin espresso dalam menu mereka.

Dalam menjalankan misinya, Jeremy Zhang turut merangkul sederet barista juara di bawah sayap Uni-Uni Roaster & Bakery. Bersama dengan Juara I China Brewers Cup 2015 Charling (Qiling) Wang, Juara III China Barista Championship 2015 Jianing Du, dan Juara V China Barista Championship 2015 Chris (Yifeng) Chen, Jeremy Zhang membagikan pengetahuan dan semangatnya dalam dunia kopi kepada seluruh staf, pengunjung, dan siapapun yang ingin belajar.

Perlahan tapi pasti, negeri Cina berganti wajah. Mengutip Richard Chien, pemilik China Barista and Coffee School, ketika diwawancara oleh BBC,

It’s no longer just about tea.”

Tidak lagi melulu tentang teh, tidak.

(Tulisan oleh Lani Eleonora,
suntingan oleh Klara Virencia;

Disadur dari perfectdailygrind.com, bbc.com,
freshcup.com, & marketingtochina.com;

Foto-foto Jeremy Zhang disadur dari bbc.com.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply