Suatu ketika anda main ke Jember, tengoklah kolong jembatan di Jalan Mastrip, tepat di bawah penyebrangan sungai Bedadung. Niscaya, anda akan menemukan kemewahan yang tak disangka.

Viva Barista - Jember-147

Viva Barista - Jember-149

Kopi Kolong, namanya. Ditemani meja-meja kayu bundar dan penerangan temaram, terdampar di Kopi Kolong bisa sesyahdu wisata ke desa terpencil. Sang pemilik, Johanes Kris Astono, mengaku bahwa ia awalnya sama sekali tidak terbayang akan membangun cafe di kolong jembatan.

Viva Barista - Jember-202

Johanes Kris Astono, sang pemilik

“Awalnya mau cari pinggir sungai (untuk kafe). Pas dateng ke sini, ngeliat ini. ‘eh udah jadi‘, tinggal poles. Konsep pinggir sungai jadi nanti dulu,” kisahnya, di bawah ‘jembatan’.

Johanes, yang giat mengikuti kegiatan pecinta alam di kampusnya dulu, pun menyulap kolong terlantar itu menjadi tempat nongkrong nyaman nan unik. Kopi tubruk jadi andalan di Kopi Kolong. Konon, budaya ngopi Jember memang lekat dengan gaya angkringan.

Kini, tongkrongan kaki-5 tersebut sudah beralih ke kafe-kafe. Tempat boleh kafe, harga tetap setia kaki lima rupanya.

Viva Barista - Jember-175 (1)

Beraneka pilihan kopi di Kopi Kolong. Terjangkau pula.

Untuk tubruk biasa, Kopi Kolong mematok harga 3000 saja per gelasnya. Sementara dengan 6000-12000 rupiah, anda sudah bisa dapat kopi premium. Exelso Toraja Kalosi, Exelso Robusta, dan Singa Arabica merupakan beberapa di antaranya. Layaknya kafe yang hidup dari tongkrongan, Kopi Kolong punya panggung yang bebas diisi siapa saja. Alat musik sudah disediakan. Bermodal nyali, siapapun berhak ngartis semalam.

Viva Barista - Jember-211

Viva Barista - Jember-240 (1)

Viva Barista - Jember-183

Disadur dari VivaBarista (Annisa ‘Abazh’ Amalia, Gianni Fajri,
Handoko Hendroyono, & tim Maji Piktura)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

One Comment

Leave a Reply