Dear Coffeemates, pecinta coffee & spirits, ada kabar baru yang mungkin bisa menjadi sumber kebahagian kalian. Pada hari Senin (6/3) kemarin, Starbucks Coffee baru saja mengumumkan kehadiran batch pertama kopi hasil fermentasi-tong-wiski bernama Starbucks Reserve® Whiskey Barrel-Aged Sulawesi.

Ya, kalian tidak salah baca. Kopi yang hadir dalam versi dingin (cold brew) dan panas (con crema) ini sungguh mengambil kopi Sulawesi sebagai bahan dasar racikannya.

Menurut Divisi Penelitian dan Pengembangan Minuman Starbucks, eksperimen dengan biji kopi macam ini memang sudah jadi ‘makanan’ mereka sehari-hari.

Sajian versi dingin, Barrel-Aged Cold Brew.

Sajian versi panas, Barrel-Aged Con Crema.

“Pertama-tama kita memulai dari biji kopinya. Kemudian kita berangkat mengembangkan dari sana,” ujar Duane Thompson dari Divisi Penelitian dan Pengembangan Minuman Starbucks.

Menurut ulasan di laman berita Starbucks, gerai waralaba kopi terbesar di dunia ini punya sejarah yang panjang dengan kopi Sulawesi.

“Kopi Sulawesi ada dalam daftar menu pertama kami di tahun 1971, “ ujar Anthony Carroll, partner 20-tahun Starbucks yang mencanangkan batch terbatas ‘Sulawesi Single Origin’. “Eksotis, sekaligus berkelas.”

Untuk versi kopi fermentasi-tong-wiski kali ini, beras kopi Sulawesi pertama-tama dimasukkan ke dalam tong wiski berbahan kayu oak yang baru saja dikosongkan. Biji kopi ini lalu didiamkan beberapa minggu supaya aroma wiski dapat menyerap ke dalam biji-biji kopi. Selama masa fermentasi, gentong diputar tangan secara berkala supaya setiap biji kopi dapat bersentuhan langsung dengan dinding gentong oak yang berlapis wiski.

Saat proses fermentasi selesai, biji kopi dipanggang oleh “master roasters”. Proses pemanggangan ini menghilangkan kadar alkohol dalam kopi, namun tetap menyisakan aroma dan rasa wiski dalam biji kopi.

Menurut Duane Thompson, hasil dari proses yang butuh ‘penanganan khusus dan kesabaran’ ini akan menghasilka ‘karakter ‘earthy’ berpadu dengan aroma kayu oak yang menciptakan secangkir kopi yang tak ada duanya.’

Ini bukan kali pertama Starbucks menonjolkan kopi Indonesia sebagai racikan spesialnya. Ryan Wibawa, barista Starbucks Indonesia yang menjuarai IBrC 2016, sempat berkata bahwa ‘Sumatra’ menempati posisi khusus sebagai bahan dasar berbagai blend di Starbucks. Sebelum mengutak-atik kopi Sulawesi, Starbucks juga sempat mengeluarkan kopi Sumatera yang melewati proses fermentasi selama tiga tahun bernama ‘Starbucks Reserve® Aged Sumatra Lot No. 44’.  Diproduksi dengan jumlah yang terbatas, kopi ini hanya tersedia di Starbucks selama setahun.

Menurut Starbucks, seni dari biji kopi tua adalah salah satu bagian dari passion mereka dalam dunia kopi. Namun Caitlin Penzeymoog dari The A.V. Club rupanya berpendapat lain. Dalam artikel berjudul ‘Starbucks appeals to the Pinterest set by serving coffee in Mason jars’, ia melihat Starbucks sebagai perusahaan kopi yang pandai mengadopsi tren lokal kaum hipster dan kedai kopi indenpenden lokal yang kerap menyajikan minuman dengan berbagai jargon.

Di Singapura, misalnya, Starbucks menyajikan ‘Macchiato’ dengan gelas mason-jar yang biasa Coffeemates temukan berdampingan dengan iced lychee tea. Saat tren Affogato—espresso dengan campuran es krim vanilla—merebak di kalangan para hipster di Amerika pun, Starbucks turut menyajikannya di beberapa gerai terbatas.

Jika benar demikian, Coffeemates, maka bolehlah kita berharap inovasi terbaru Starbucks kali akan hadir pula di gerai Starbucks Indonesia. Melihat naiknya ketertarikan peminum kopi lokal untuk mencari kopi-kopi asli Indonesia, mestinya ketersediaan si racikan berbahan dasar kopi Indonesia ini tinggal soal waktu.

Meski, belum sekarang memang. Sampai Jumat (10/3) siang tadi, Starbucks Indonesia menyatakan lewat surel kepada kopikini.com bahwa untuk saat ini si kopi hasil fermentasi-tong-wiski ini masih tidak tersedia di Indonesia.

Ya, mungkin suatu hari nanti.

Amin, Coffeemates?

(Informasi disadur dari cnbc.com, mensjounal.com, avclub.com, cosmopolitan.com,
news.starbucks.com, & 1912pike.com.

Tulisan oleh Lani Eleonora & Klara Virencia;
suntingan oleh Klara Virencia.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply