Kopi asal kampung Acar, Kecamatan Sukamakmur, olahan kelompok tani Mekar Wangi itu laris seharga Rp 2juta rupiah per kg di Bogor Coffee Festival, Sabtu (6/8) kemarin. Budi Irawan, ketua kelompok tani Mekar Wangi, mengaku sudah menanam kopi itu sejak 2013. Perawatan kopi tanpa nama ini serba alami, tanpa pupuk kimiawi, dan diproses natural. Hasil panen yang dilelang di Bogor Coffee Festival merupakan hasil panen perdana.

DSC_0888

Selain kopi Arabika, kelompok tani Mekar Wangi yang juga menanam kopi Robusta.

Selain oleh Bupati Bogor, sebanyak 4kg kopi Kampung Arca tersebut dibeli oleh Ade Munawaroh dari DPRD Bogor, Ikhsan Firdaus dari Komisi IV DPR RI, dan seorang pengusaha dari Jakarta. Ini merupakan kali pertama kopi dari kelompok tani Mekar Wangi dibeli orang di luar tengkulak.

Pada ajang Bogor Coffee Festival yang berlangsung di Cibinong City Mall pada 6-7 Agustus ini, Budi juga baru kali ini mendengar komentar tentang rasa kopinya.

“Katanya unik, ada 7 macam rasa kopi,” Budi Irawan menceritakan komentar sang pengusaha dari Jakarta.  Ia sendiri tidak menyangka kopinya akan mendapat apresiasi begitu tinggi.

Sebelum ini, ia menjual kopinya seharga Rp 45.000,- per kg. Kebun kopi olahan kelompok tani Mekar Wangi ini seluas 20 hektar, dengan hasil kopi 5 ton per tahun. Di samping menanam arabika, Budi Irawan bersama kelompok taninya sudah terlebih dulu menanam kopi robusta seluas 50 hektar sejak 15 tahun lalu.

Selain kecamatan Sukamakmur, Bogor Coffee Festival memperkenalkan hasil panen kopi dari 6 kecamatan di Bogor, antara lain: Kecamatan Tanjung Sari, Pamijahan, Babakan Madang, Megamendung, dan Cisarua.

“Dalam kaitan inilah, barangkali Bogor Coffee Festival ini merupakan upaya untuk memberikan kesempatan kepada para pelaku yang bergerak di bidang perkopian,” jelas Bupati Bogor, Nurhayati, dalam sambutannya, Sabtu (6/8) lalu.

DSC_0970

Bupati Bogor, Nurhayati, memberi kata sambutan di Bogor Coffee Festival, Sabtu (6/8)

Selain dari segi eksposisi, Yuni dari UPT Perbenihan Departemen Pertanian Kabupaten Bogor mengamati bahwa para petani kopi memiliki masalah manajemen cabang. Ia banyak menemukan kebun kopi yang pohonnya tumbuh sampai 3 meter. Idealnya, pohon kopi rajin dipangkas dan tingginya dijaga maksimal 160m.

“Nah itu mereka (petani) nggak mau melakukan. Karena beranggapan kalau tanaman itu dipangkas, buahnya kurang (banyak),” jelas Yuni.

Momentum lelang ini meningkatkan percaya diri Budi Irawan akan kualitas kopi arabika olahannya. Jika berikutnya ada yang berminat untuk membeli kopinya, Budi mengaku siap melepas kopi yang belum bernama ini dengan harga minimal Rp 100.000,-/kg.

DSC_0959

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

One Comment

Leave a Reply