Berkunjung ke Makassar jangan hanya menikmati matahari terbenam di Pantai Losari, mencicipi coto Makassar, memacu adrenalin di wahana-wahana Trans Studio Makassar atau wisata sejarah ke benteng Fort Rotterdam. Menyeruput kopi di kedai kopi legendaris bisa menjadi salah satu bucket list wajib jika bertandang ke ibukota provinsi Sulawesi Selatan.

Pastikan untuk datang ke Kopi Ujung yang terletak di kawasan pusat oleh-oleh Makassar di Jalan Somba Opu. Jangan kaget jika minta diantarkan ke toko kopi ini malah diantarkan ke sebuah toko oleh-oleh. Kopi Ujung memang berbagi ruangan dalam sebuah gerai oleh-oleh Makassar, yaitu Toko Ujung. Toko Ujung menyediakan beragam suvenir khas Makassar seperti minyak gosok, kain tenun Bugis, sirup markisa, kerupuk jintan, kue baruasa, kacang sembunyi dan aneka kerajinan tangan bercorak kebudayaan Sulawesi Selatan.

Kopi single origin dari Kopi Ujung bisa menjadi oleh-oleh khas yang menarik dibawa pulang untuk dibagikanke para kerabat dan handai taulan penyuka kopi. Dengan tagline “Kopi Spesialti Selera Pasar”, Kopi Ujung menyediakan roasted beans kopi arabika berbagai daerah seperti Toraja Sapan Siuluk, Toraja Minanga, Enrekang Baraka Bone-bone, Flores Bajawa, Flores Colol, Java Malabar Natural, NTB Sembalun Lawang Natural, Columbia Huila serta houseblend Rangga-Cinta dan The Dynamic Duo.

Kopi house blend Rangga-Cinta merupakan kombinasi kopi Toraja Sapan dan Malino dengan profil sangrai medium – light roast dalam kemasan ukuran 200, 250, dan 500 gram. Terinspirasi dari kisah percintaan sekuel film fenomenal besutan sutradara Riri Riza yang diproduksi oleh Miles Production, yaitu Ada Apa dengan Cinta 2. Paduan kopi ini juga didedikasikan khusus untuk pergelaran acara South East Asian(SEA) Screen Academy 2016 di Makassar.

Setelah film Ada Apa dengan Cinta 2 yang tembus hingga 3,6 juta penonton, Kopi Ujung kembali terlibat dalam sebuah produksi film di tahun 2017. Kali ini, tidak lagi membuat house blend yang terinspirasi dari kisah kasih Rangga-Cinta namun langsung menjadi lokasi syuting dari sekuel film Filosofi Kopi 2: Ben & Jody. Film produksi Visinema Pictures ini mengambil adegan tokoh utama Jody (Rio Dewanto) dan Tarra (Luna Maya) yang berbincang sambil menikmati seduhan kopi dari John yang merupakan barista senior kenalan Jody. Saat syuting berlangsung, ruangan Toko Ujung yang mungil seketika sesak oleh kru dan pemeran film serta berbagai peralatan syuting. Jalanan di sekitar Toko Ujung menjadi padat oleh kendaraan dan warga yang ingin melihat proses syuting film garapan sutradara Angga Dwimas Sasongko yang rilis 13 Juli 2017 lalu.

Racikan kopi yang tersedia di sini terdiri dari black (kopi hitam) dengan espresso, americano dan long black; white (kopi dan susu) dengan cappuccino, café latte, picollo latte, flat white; filter atau kopi yang diseduh dengan metode manual brewdan beragam pilihan single origin; hingga minuman non coffee seperti chocolate dan taro latte. Kopi Ujung juga menyediakan kopi dalam kemasan botol yang dijuluki Kold Black untuk kopi hitam dan Kold White untuk campuran espresso, gula dan susu segar. Jika bingung menentukan pilihan, tanyakan lah kepada barista sekaligus pemilik Kopi Ujung, John Chendra.

Nama John Chendra sudah tidak asing lagi di dunia kopi di Indonesia bahkan dunia. Beliau telah melanglang buana menjadi juri kompetisi kopi tingkat nasional hingga kancah internasional. Di tanah air sendiri, ia menjadi juri untuk Indonesia Specialty Coffee Auctions  periode 2012-2016; Indonesia Coffee Events untuk kategori Indonesia Barista Championship (IBC), Indonesia Latte Art Championship (ILAC), Indonesia Cup Tasters Championship (ICTC) dan Indonesia Brewers Cup (IBrC)periode 2015-2017.

 

Kecintaan John Chendra terhadap kopi membawanya mengambil sertifikasi Q dan R-Grader untuk kopi arabika dan robusta dari Coffee Quality Institute. Di dinding-dinding Kopi Ujung, terpajang kedua sertifikat tersebut dan sertifikat untuk juri World Coffee Events untuk Sensory Judge dan Visual Judge. Sertifikasi barista dan roaster juga diraihnya dari Specialty Coffee Association of Europe (SCAE). Sementara, gelar akademisnya di bidang komputer tampaknya telah lama ditinggalkan oleh pria kelahiran Makassar, 5 Agustus 1980 ini.

Pengalaman dan ilmu terkait kopi yang dimiliki John Chendra tidak ia simpan sendiri. Melalui Small Feet Coffee School Makassar yang rilis awal tahun 2016, John Chendra berbagi ilmu dalam tiga kategori kelas dan pelatihan. Terdiri dari 1) Brewing Class, 2) Coffee Cupping, dan 3) Espresso and Milk. Kelas dan pelatihan ini terbuka bagi siapa saja yang memiliki ketertarikan dan passion untukmendalami seluk beluk industri kopi dan akan didampingi oleh pengajar dan fasilitas yang terkualifikasi. Program dan topik dirancang secara komperhensif dan terstandarisasi untuk memperlengkapi peserta dengan fondasi pengetahuan dan praktik yang kuat. Pendaftaran dan informasi lebih lanjut dapat berkorespondensi melalu surat elektronik smallfeet@ujung.biz atau melalui instagram @Kopiujung.

Kata legendaris patut disematkan untuk kedai kopi yang buka sejak tahun 1930.  Selama 87 tahun Kopi Ujung bertahan, yang bahkan lebih tua dari usia kemerdekaan republik. Menjadi one stop solution untuk para penggemar minuman berkafein. Menyajikan kopi yang nikmat, menyediakan biji kopi berkualitas, kelas dan pelatihan yang profesional hingga menjual berbagai perlengkapan untuk meracik kopi. Jangan lupa untuk singgah ke Kopi Ujung jika berkunjung Makassar ya!

(Tulisan dan foto-foto oleh Andika Diantara, foto John Chendra menjuri oleh Andreansyah Dimas)

Suntingan oleh Lani Eleonora

Suntingan foto oleh Andreansyah Dimas)

Kopi Ujung

Jalan Somba Opu No.36, Makassar.

 

Penulis           : Andika Diantara

Alamat           : Jalan Keuangan IV No. 59A, Cilandak, Jakarta Selatan

No hp.            : 0856 8570 460

Pekerjaan      : buruh aksara

Profil              : penikmat kopi seduh manual.

Related Post

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply