“Aku pengin bikin tempat yang nyaman buat para introvert.” kata Adit, salah satu pengelola Kronology Coffee & Bites.

Memanglah benar adanya, kedai yang baru berjalan beberapa bulan di kota berhati nyaman ini dirancang agar para pelanggan yang ingin ber-laptop sendirian merasa betah. Bukan hanya model kursi yang nyaman, tetapi juga suasana. Bahkan daftar lagu latar di kedai dipilih agar situasi kedai jauh dari riuh dan berisik. Begitu adem dan santai.

Ketika ditemui di Kronology dan ditanya perihal konsep kedainya, Adit menjawab bahwa dia terinspirasi oleh kedai-kedai kopi di Inggris. “Kalau aku lihat, coffee shop di Inggris itu homy dan introvert banget. Di sana, customer diperlakukan seperti teman yang datang bertamu. Kalau dilihat dari luar tempatnya udah berasa hangat banget. Itu yang pengin aku bikin di sini.”

Keinginan itu Adit wujudkan dengan meletakkan bar persis menghadap pintu masuk. Begitu pelanggan datang membuka pintu, mereka akan langsung bertemu muka dengan barista yang tidak hanya siap menerima pesanan, tapi juga memancing obrolan.

Pentingnya Percakapan

Ada yang menarik di dekat pintu masuk Kronology, yakni papan menu yang terlihat ganjil. Hampir seluruh nama minuman dan makanan di sana ditulis dengan keliru. Typo.

“Kalau buat barista yang agak kaku, ini bisa jadi bahan obrolan.” Adit menjawab sambil tertawa. “Customer yang ngeh bakalan nanya, ‘Mas kok kayak gitu?’ Nah dari situ bisa jadi percakapan.”

Percakapan tampaknya jadi satu hal yang penting bagi Adit. Tidak heran, karena sebelum mengelola Kronology, Adit bekerja di sebuah kedai kopi yang disebut sebagai penanda munculnya gelombang kopi kedua. Adit punya istilah sendiri untuk menyebut tempat kerja dia sebelumnya: coffee shop “bendera hijau”. Seperti yang diketahui oleh umum, percakapan yang menjadi bagian dari hospitality adalah aspek penting bagi kedai “bendera hijau” tersebut.

Ketika ditanya tentang perbedaan bekerja di kedai “bendera hijau” dan Kronology, Adit menjawab santai. “Kalau di ‘bendera ijo’, gue kerja jagain duit. Kalau di sini (Kronology; red) gue cari duit.”

Serba-serbi dan ragam permasalahan yang dialami ketika membuka kedai baru pun dialami oleh Adit. Bersama rekannya, Hendy, yang ternyata juga memulai perkenalan mereka ketika Adit masih bekerja di kedai “bendera hijau”, Adit menyusun serangkaian rencana mulai dari dekorasi hingga perekrutan barista.

Berbeda dengan kedai-kedai kopi baru yang umumnya merekrut barista berpengalaman, Adit justru menginginkan orang yang belum pernah bekerja sebagai barista sama sekali untuk menjadi barista di tempatnya.

“Aku memang ingin fresh barista.” kata Adit, menoleh ke seorang baristanya yang sedang membuat secangkir cappuccino untuk pelanggan. “Karena aku lebih mudah membangun fondasi kerja dan ilmunya, dibanding barista berpengalaman yang pasti udah punya cara kerja sendiri. Idealismenya kita bisa tabrakan, lebih susah lagi.”

 

Serius Meracik Kopi, Serius Berkomunikasi

Adit tidak bekerja sendirian mengelola Kronology. Dia bekerjasama dengan Handy, pemuda yang menjadi pelanggan setia di tempat Adit bekerja dahulu.

“Agak kocak, sih, pertemuan gue sama Handy.” kenang Adit. “Handy itu suka kopi, tapi waktu itu dia enggak ngerti cara maininnya. Pas resign dari bendera ijo, gue denger dari temen Handy bikin coffee shop. Gue whatsapp Handy dan bilang pengin ke kedainya.”

 

Adit, co-founder Kronolog Coffee & Bites.

Melalui serangkaian pertemuan, Adit dan Handy bersepakat mengelola Kronology dengan pembagian yang seimbang. Tentang pembagian tugas, Handy yang ditemui di kesempatan lain berkata bahwa dia memegang urusan manajemen dan keuangan, sedang Adit bertanggungjawab untuk urusan operasional.

“Enggak ada permasalahan besar untuk urusan komunikasi,” Handy mengaku. “Karena sejak awal kita saling percaya. Trust itu paling penting kalau urusan ber-partner.”

Meski sudah membagi tugas sejak awal, Handy berkata bahwa mereka juga fleksibel. Ketika saat ini Ad sedang berada di Lampung untuk menjalin kerjasama dengan petani demi meracik house blend baru bagi Kronology, urusan operasional ditangani oleh Handy. Komunikasi menjadi kian krusial karena mereka hanya bisa berdiskusi lewat telepon.

Berbagi Kronologi Kopi dengan Pelanggan

Memulai visinya dengan mengusung konsep open bar, Handy dan Adit sama-sama ingin pelanggannya mengetahui cerita di balik secangkir kopi. Penting bagi Handy pelanggannya mengenal apa yang terjadi dalam kronologi panjang kopi dari kebun hingga ke cangkir.

“Kami pengin nanti di hopper grinder-nya Kronology bakal ada identitas petani yang kerja bareng kami. Kalau suatu hari nanti ada customer yang minat beli house blend Kronology, mereka juga jadi tahu ceritanya.”

Menggunakan warna-warna dominan putih dan cokelat kayu, Kronology mengesankan kesederhanaan yang sejuk. Jika sofa dan meja di depan bar diperuntukkan khusus bagi yang ingin bekerja sendiri, bagian belakang kedai dan terutama area lantai dua dipersiapkan untuk pelanggan yang datang dalam kelompok-kelompok kecil. Tersedia pula area merokok di balkon lantai dua, menghadap Jalan Bougenville yang ramping dan kerap dilintasi motor dan mobil.

Cappuccino milik Kronology agak berbeda dengan yang umumnya disajikan di kedai-kedai kopi gelombang ketiga di Yogyakarta. Mereka memilih dry cappuccino, yakni cappuccino tanpa latte art. Hanya foam yang dituang di atas espresso.

“Sempat ada yang nanya kenapa pakai cappuccino yang gini.” Sekali lagi Adit terkekeh. “Alasannya adalah aku pengin share ceritanya cappuccino tuh gimana.” Adit kemudian berkisah tentang sejarah cappuccino yang berasal dari bentuk tudung para pendeta gereja katolik Italia zaman dahulu-para capuchin.

Segelas dry cappuccino yang sudah membuka banyak percakapan antara barista dan pelanggan Kronology Coffee & Bites.

Percakapan dan cerita, dua hal yang menjadi esensi pergerakan Adit dan Handy di dunia kopi. Bagaikan duo Ben dan Jody dalam film Filosofi Kopi, mereka ingin berbagi kronologi-cerita panjang tentang apa yang mereka sajikan kepada para penikmat kopi. 

Pengalaman Handy di masa lalu sebagai pengusaha cabai membuatnya semakin peduli pada kesejahteraan petani, dalam hal ini petani kopi. Itu sebabnya dia ingin para pelanggannya juga dapat mengapresiasi kopi. Setali tiga uang dengan Handy, Adit juga percaya kopi perlu diapresiasi lebih dalam.

Untuk tujuan itu, mereka ingin menyajikan secara lengkap kronologi kopi kepada para penikmat Kronology Coffee. ***

 

(Liputan dan tulisan oleh Bernard Batubara

Suntingan tulisan oleh Lani Eleonora

Foto-foto oleh: Dadad Sesa

Suntingan foto oleh Andreansyah Dimas)

Kronology Coffee & Bites

Jalan Bougenville No.1

Caturtunggal, Depok, Sleman

Yogyakarta

 

Hari Buka: Senin – Minggu

Jam Buka: Pukul 08.00 – 23.00 WIB

 

Related Post

Bernard Batubara

About Bernard Batubara

Bernard Batubara (Bara) lahir di Pontianak, kini tinggal di Yogyakarta. Belajar menulis sejak 2007 dan menerbitkan sejumlah karya fiksi. Kini bekerja sebagai penulis penuh waktu, editor lepas, dan sesekali mengisi kelas penulisan kreatif di kampus, sekolah, dan komunitas. Semenjak rutin menulis, kopi sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Selain menulis artikel lepas dan menerbitkan buku fiksi, Bara juga mengelola blog pribadi: bisikanbusuk.com.Bara dapat dihubungi via twitter & instagram: @benzbara, atau e-mail: benzbara@gmail.com.

Leave a Reply