Artikel ini merupakan rilis pers dari Indonesia Aeropress Championship 2017.

Jakarta, 1 April 2017 — Memasuki tahun ke-2nya kini, rangkaian penyisihan Indonesia AeroPress Championship (IAC) 2017 akan membuka rangkaian babak penyisihannya dengan lomba seduh berlatarkan Candi Prambanan, 22-23 April 2017 nanti. Diadakan bersandingan dengan Pesta Kopi Mandiri, para peserta IAC 2017 akan menyeduh kopi dengan alat seduh AeroPress sembari dikelilingi para pelari Jogja Marathon 2017.

Berbeda dengan rangkaian lomba dalam World Coffee Events yang ‘serius’ nan prestisius, lomba seduh AeroPress memang pada hakikatnya dibuat untuk bersenang-senang. Dalam laman web resmi World AeroPress Championship, lomba ini dideskripsikan sebagai ‘semacam ledekan ‘mati saja’ pada dunia kompetisi kopi yang terlalu serius’.

Jika di World Coffee Events cara penyajian  kopi dari masing-masing peserta akan turut dinilai, maka cabang lomba AeroPress murni menilai cita rasa kopinya. Setiap peserta akan diberi waktu 8 menit untuk menyeduh kopi bagi tiga orang juri. Mengadopsi metode penjurian buta (blind judging), setiap juri akan menyicip kopi tanpa tahu siapa penyeduhnya. Lalu, dalam hitungan ketiga, para juri serentak menunjuk cangkir berisi ‘kopi yang paling ingin saya habiskan’ menurut selera lidah mereka masing-masing.

Bagaimanapun teknik seduhnya, satu hal yang pasti: para peserta  peserta wajib bersenang-senang selama menyeduh. Sejak pertama kali diselenggarakan tahun lalu, Indonesia AeroPress Championship tak lupa berpesan kepada para pesertanya: Jangan lupa—semua ini hanya senang-senang belaka. Nikmati, dan jangan dianggap terlalu serius.

Tahun lalu, Indonesia AeroPress Championship 2016 mengadopsi nuansa nyeleneh ini dengan menambahkan nuansa pesta kostum dan adu panco. Diadakan selama dua hari pada Mei 2016 lalu di restoran Clique Spot, Tangerang, IAC 2016 mengangkat tema dunia persilatan dan menghadirkan 81 ‘pendekar’ yang menyeduh kopi dalam kostum pendekar a la Timur.

Setidaknya ada jawara Betawi, cheong sam, samurai, & pendekar silat yang tertangkap kamera dalam akun instagram @aeropress.id. Di bawahnya, tertulis, “Kita udah ngga tau lagi ini kompetisi kopi atau street fighter.”

Aeropress sendiri adalah alat seduh dengan metode tekan (press) yang memadukan berbagai kondisi ideal untuk menyeduh kopi: temperatur yang sesuai, metoda benam (immersion), dan proses penyaringan (filter) yang cepat. Kinerja alat ini menghasilkan kopi yang sangat nikmat dengan rentang rasa yang cantik, namun dengan tingkat keasaman yang rendah dan tanpa disertai rasa pahit. Sejak kehadirannya, AeroPress telah menjadi alat seduh yang dicintai para penikmat kopi serius dan kaum profesional industri kopi di seluruh dunia.

Terbukti, antusiasme di Indonesia terhadap alat seduh ini sendiri membludak. Saat Indonesia AeroPress Championship 2016 tahun lalu buka pendaftaran, slot 81 peserta langsung terisi penuh hanya dalam waktu 15 menit. Pemenang IAC 2016, Prawira Adhiguna, lantas bertanding di ajang World AeroPress Championship 2016 di Dublin, Irlandia, dengan dukungan dari ABCD School of Coffee sebagai penyelenggara.

Tahun ini, IAC 2017 bekerjasama dengan Bank Mandiri untuk kembali menggaet 81 peserta dari seluruh kota di Indonesia. Rangkaian penyisihan sendiri akan diadakan di 3 kota besar di Indonesia: Yogyakarta, Surabaya, & Medan. Dari 81 peserta di masing-masing babak penyisihan, akan dipilih 27 orang finalis dari setiap kota untuk bertanding di babak final pada acara Jakarta Coffee Week 2017 yang akan dilangsungkan September 2017 nanti. Pemenang IAC 2017 akan kembali dikirim ke World AeroPress Championship yang tahun ini diadakan di Seoul, Korea Selatan, untuk mewakili Indonesia.

Pendaftaran untuk para peserta dibuka pada Sabtu, 1 April 2017 pukul 12.00 siang lewat laman bit.ly/aeropress2017.

Kopikini.com adalah partner media resmi dari Indonesia Aeropress Championship 2017.

(Suntingan oleh Klara Virencia.
Relasi oleh Clarissa Eunike.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply