medan1

Kedai Repvblik Kopi, di Jalan Setiabudi, Medan.

Kopi Simpanan Mertua. Hmm. Terasa skandal, terdengar nakal. Bersemayam di tengah kota Medan, kedai Repvblik Kopi lah asal mula minuman sensasional ini.

Masuk Repvblik Kopi, kami disambut langit-langit tinggi dan lingkar ala zaman kolonial. Kipas angin dan penerangan kuning temaram memperkental nuansa tempoe doeloe di tempat itu. Kami bertemu Johan, pemilik Repvblik Kopi sekaligus pencetus Kopi Simpanan Mertua.

medan2

Johan, pemilik Repvblik Kopi, yang melahirkan Kopi Simpanan Mertua.

Dandanan klasik sentuhan Johan sedikit banyak kontras dengan keberadaan mesin espresso yang mengilat terpampang di bar. Repvblik Kopi bak museum lintas zaman yang menghadirkan tradisi sekaligus perubahan dalam satu ruangan. Menurut Tonggo Simangusong dari komunitas kopi Sumatra Coffee Enthusiast, budaya kopi di Medan sudah bergeser dalam 2-3 tahun terakhir.

“Kalau nggak ada mesin espresso-nya, kayak ‘wah kurang keren nih kafe,’”ungkap Tonggo. Peminum kopi di Medan kini sudah mulai kritis. Tidak lekas puas jika disajikan kopi yang ‘hanya’ sekadar hitam. Espresso perlahan menggantikan tubruk.

DSC03970 (1) Suatu hari saat tengah belanja kopi, Pak Johan ditawari biji kopi sisa ekspor yang tertinggal dan sudah tiga tahun usianya. Biji kopi itu sudah menguning pula. Penasaran, Pak Johan mencoba roasting biji-biji ‘basi’ tersebut.

Alhasil, rasa yang kuat dan unik menguar dari produk tersebut. Kesan ‘tua’ dan fase penyimpanan yang lama menginspirasi Pak Johan untuk memberi nama ‘Kopi Simpanan Mertua’.

Semenjak masuknya kopi oleh Belanda ke kota ini pada 1850, Medan menjadi simpul perdagangan kopi dunia. Kini, Medan menjadi lumbung kopi dari seluruh penjuru nusantara. Biji-biji kopi di kota ini diekspor ke berbagai belantara Indonesia, Amerika, hingga Eropa.

Saking penuh sesaknya Medan jadi tempat ‘parkir’ kopi, pedagang sering asal menjual kopi yang disimpan di sini sebagai ‘Kopi Medan’. Jika suatu hari ada yang menyajikan anda ‘Kopi Medan‘, anda berhak bertanya. Bisa saja kopi itu sesungguhnya berasal dari Sidikalang, Aceh, ataupun Gayo.

Bagi masyarakat menengah ke bawah, kopi adalah persilangan antara mau dan harus. Harga yang mahal, sayangnya, jadi penghalang untuk menikmati kopi berkualitas. Dari berbagai kualitas yang ada, biji-biji kopi terbaik dipisahkan untuk dikirim keluar negeri. Kebanyakan biji kopi yang sampai ke kedai-kedai di kota ini malah biji kualitas kelas dua.

Fendy Wong, seorang coffee processor yang juga kami temui di Repvblik Kopi, menyayangkan prioritas produksi kopi arabika di Medan yang masih mengejar kuantitas dan melupakan kualitas. Pemrosesan kopi terbatas pada cara giling basah. Proses bertahap yang memberikan karakter pada Kopi Simpanan Mertua belum banyak dikulik di Medan.

“Petani-petani itu kebanyakan mengejar kuantitas. Produksi banyak, it’s ok. Tapi belum ada pemeringkatan kualitas, tidak mengejar kualitas,” Pak Fendy.

Kini, pecinta kopi sudah semakin jeli. Mereka yang tidak puas dengan rasa seadanya mulai mencari kopi-kopi kualitas satu hingga ke asalnya.

DSC03946

“Kopi itu lengket,” ujar Johan. “Segelas kopi yang baik itu pengalaman tersendiri. Dan orang akan mengulanginya jika dia rindu akan kopi tersebut.”

Percaya tidak percaya, racikan ‘iseng’ Johan sungguh berbuah manis. Siapa sangka kopi renta tersebut justru menarik  penggemar tersendiri.

DSC03733 (1)

Disadur dari Viva Barista (Annisa ‘Abazh’ Amalia, Gianni Fajri,
Handoko Hendroyono, & tim Maji Piktura)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

One Comment

Leave a Reply