Selepas riuh-riuh kebijakan fenomenal Presiden AS Donald Trump untuk memblokir kedatangan pengungsi dari Suriah ke Amerika Serikat, gerai waralaba kopi Starbucks ambil sikap. Minggu (29/1) lalu, CEO Starbucks Howard Schultz menyatakan bahwa Starbucks berkomitmen untuk mempekerjakan 10,000 pengungsi selama 5 tahun ke depan.

“Aku menulis surat padamu hari ini dengan kegelisahan yang amat besar, hati yang sangat berat, dan janji yang pasti,” tulis Schultz dalam surat pernyataan yang ditujukan untuk semua pegawai Starbucks. “Kita hidup di sebuah masa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, di mana kita menyaksikan Amerika Serikat dipertanyakan akal sehatnya.”

Dalam surat tersebut, Howard Schultz menegaskan bahwa kebijakan ini berlaku untuk gerai-gerai Starbucks di seluruh dunia. Howard berjanji, Starbucks akan berusaha dua kali lipat lebih keras untuk mempekerjakan mereka-mereka yang tengah menyelamatkan diri dari situasi perang, kekerasan, dan diskriminasi. Di Amerika Serikat khususnya, Starbucks akan berfokus pada pekerja-pekerja yang pernah membantu tentara AS sebagai penerjemah di medan perang.

Howard Schultz, pendiri sekaligus CEO gerai waralaba kopi Starbucks.

Jumat (27/1) lalu, Trump mengeluarkan perintah yang memboikot warga dari negara berpenduduk mayoritas Muslim untuk masuk ke AS selama 90 hari ke depan. Enam negara yang terkena larangan imigrasi tersebut antara lain Iran, Irak, Suriah, Yaman, Sudan, Somalia, dan Libya. Khusus untuk warga Suriah, boikot tersebut berlaku permanen.

Sejak masa kampanye, Presiden AS Donald Trump secara terang-terangan merangkul sentimen rasis kaum kulit putih terhadap kaum-kaum kulit berwarna. Dalam janji kampanyenya, Trump bertekad untuk membangun tembok di perbatasan antara AS dan Meksiko. Starbucks pun turut berjanji akan terus menyokong para petani kopi di Meksiko. Di negara yang terletak antara Amerika Serikat dan wilayah Amerika Latin tersebut, Starbucks memiliki 600 gerai waralaba yang mempekerjakan 7,000 orang karyawan. Bagi Howard Schultz, terjunnya Starbucks ke ranah politik sudah merupakan kewajiban.

“Kita semua punya kewajiban untuk memastikan bahwa pejabat negara yang terpilih mendengarkan aspirasi individu dan aspirasi kita bersama. Di sini Starbucks melakukan bagiannya,” ujar Howard Schultz. Lebih lanjut, ia berjanji bahwa Starbucks akan melayani pelanggannya di manapun, baik gerai tersebut berada di ‘wilayah Partai Republik ataupun wilayah Partai Demokrat, negara Kristen ataupun negara Islam; negara terpecah ataupun negara yang utuh.’

Seruan ini tidak serta merta diterima. Meski bersambut banyak dukungan, sikap Starbucks ini juga mendapat banyak kecaman di dunia maya. Tagar #BoycottStarbucks sempat jadi topik ngetren (trending topic) pada Senin (30/1) pagi.

“Bukannya mempekerjakan 10,000 Veteran Perang AMERIKA, #Starbucks lebih pilih mempekerjakan 10,000 ‘pengungsi’,” tulis pengguna akun twitter ‘Trump Train’. “Panggilan kepada seluruh rakyat Amerika, #BoycottStarbucks!

Topik ngetren ini juga datang dari mereka yang mendukung pergerakan Starbucks.

 

Meski menerima protes bertubi-tubi, Schultz nampak tidak berniat undur dari pilihan politiknya. Schultz berjanji untuk ke depannya, Starbucks akan berinteraksi lebih intens dengan para pekerjanya.

“Aku menangkap sinyal dari kalian semua,” ujar Schultz dalam surat yang sama.  “Bahwa nilai-nilai keberadaban dan hak asasi manusia yang selama ini kita anggap biasa, kini berada di bawah ancaman.”


(Tulisan & suntingan oleh Klara Virencia;

Disadur dari ap.org, fortune.com,
businessinsider.co.id, & theguardian.com;

Foto-foto disadur dari cnn.com, foxnews.com,
seattletimes.com, & salon.com.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply