Menikmati kopi tidak berhenti sampai di lidah saja. Minggu (30/10) pagi itu di Festival Kopi Al-Munawar, semua orang terjangkit virus ‘seniman dadakan’. Bermodal kuas dan bubuk kopi, para seniman dadakan ini mengemper sesuka hati di berbagai pojokan kampung Al-Munawar.

Ada yang lantas mencari meja, ada pula yang memblokir pelataran musala. Tatkala ada yang melipir di pinggir parit, lantas ada mereka yang mencari suasana tenang di pinggir Sungai Musi.

melukis-kopi-pinggir-musi-musala-al-munawar-2

Di depan musala kampung Al-Munawar, Minggu (30/10) pagi.

melukis-kopi-pinggir-musi-musala-al-munawar-3

melukis-kopi-pinggir-musi-musala-al-munawar-6

melukis-kopi-pinggir-musi-musala-al-munawar-5

Beberapa peserta memilih melipir ke pinggir Sungai Musi, Palembang untuk melukis dengan kopi.

melukis-kopi-pinggir-musi-musala-al-munawar-4

melukis-kopi-widi-s-martodihardjo-al-munawar-3

melukis-kopi-widi-s-martodihardjo-al-munawar-2

melukis-kopi-widi-s-martodihardjo-al-munawar-1

Seniman asal Bali, Widi S. Martodihardjo, memandu massa melukis dengan kopi di Festival Kopi Al-Munawar, Minggu (30/10) pagi.

Pelukis asal Bali Widi S. Martodiharjo lah oknum yang menebarkan virus ini. Mahir mengulik berbagai medium di atas kanvas, Widi meracuni para pengunjung Festival Kopi Al-Munawar dengan teknis lukis sederhana bermodal bubuk kopi, air, kuas, sehelai kertas, dan segudang kreativitas.

Khas Widi rupanya, untuk berkarya tanpa asik sendiri. Sebelumnya, Widi pernah bergerilya dengan bubuk kopi dan kuas di Festival Kopi Flores yang diselenggarakan Harian KOMPAS. Beranjak dari proses kreatif ‘privat’ a la seniman, Widi mengaku Festival Kopi Al-Munawar ini menjadi momen pertama  ia melukis di tempat sembari ditonton warga.

“Itu saya mencoba menggabungkan antara kopi, antara art, dan antara heritage,” papar Widi, yang memilih bangunan-bangunan antik kampung Al-Munawar sebagai objek lukisannya. “Jadi ketiga-tiganya bertemu dalam satu event, dalam satu karya.”

melukis-kopi-widi-s-martodihardjo-al-munawar-5

melukis-kopi-widi-s-martodihardjo-al-munawar-4

Lukisan ‘on-the-spot’ perdana Widi S. Martodihardjo, menggunakan bubuk kopi dan mengilustrasikan salah satu bangunan tua kampung Al-Munawar.

Tanpa biaya pendaftaran, rentang peserta acara lukis massal ini tidak mengenal usia dan latar belakang. Baik pengunjung festival maupun dari warga Al-Munawar sendiri, tidak sedikit anak-anak yang ikut serta berkarya. Saat melihat hasil karya para seniman dadakan, beberapa kali Widi dibuat terkejut oleh goresan para pelukis cilik.

“Sangat original,” ucap Widi, melihat karya-karya yang ia kenali sebagai lukisan khas anak-anak. “Mereka berusaha mengungkapkan keinginan-keinginan mereka, terlepas dari ‘bagus tidak bagus’. Itu, buat saya sudah menarik.”

melukis-kopi-pelukis-cilik-al-munawar-1

melukis-kopi-pelukis-cilik-al-munawar-2

melukis-kopi-pelukis-dadakan-al-munawar-1

melukis-kopi-pelukis-dadakan-al-munawar-2

Dengan semangat ‘iseng-iseng berhadiah’ mata acara ‘Melukis Kopi’, Widi menyortir beberapa lukisan favoritnya. Widi pun membagi lukisan yang ia temukan menjadi ‘expert‘ (ahli—red) dan ‘naif’ a la anak-anak. Di samping orisinalitas, Widi mencari mereka yang piawai memanfaatkan karakter warna monokromatik bubuk kopi untuk membuat gradasi.

“Saya yakin, ini bukan pemula,” ujar Widi, menilai kepiawaian sang pelukis dalam memanfaatkan komposisi, penggunaan garis, dan warna. “Tetapi, sebagai sebuah pencapaian menggunakan media kopi, itu menarik.”

melukis-kopi-widi-s-martodihardjo-komentar-lukisan-pelukis-expert-al-munawar-2

Widi, mengomentari salah satu lukisan ‘non-pemula’ yang menunjukkan gradasi.

Sementara untuk lukisan anak-anak, teknik tak lagi Widi titikberatkan. Saat menilai lukisan-lukisan ‘naif’ tersebut, ide-ide ‘liar’ lah yang lebih membuat Widi terpatil.

“Karya ini naif, sangat naif dan original,” ujar Widi. Ia menilai, karya tersebut menggambarkan keinginan sang pelukis cilik untuk terbang dan menggapai impian. Penuh ‘harapan’, khas anak-anak.

Widi memaklumi, para pelukis cilik bisa jadi memandang kopi sebagai media pewarna saja. Belum ada eksplorasi gelap-terang ataupun teknik lukisan yang mencengangkan. Namun, bukan itu yang Widi cari.

melukis-kopi-widi-s-martodihardjo-komentar-lukisan-pelukis-naif-al-munawar

Widi tengah menceritakan salah satu lukisan ‘naif’, yang ia maknai sebagai harapan sang pelukis untuk terbang.

“Tapi yang pengin saya ceritakan, bagaimana anak-anak ini  menceritakan mimpi-mimpinya ke dalam karya ini,” papar Widi, menjelaskan pilihannya. “Bukan pada persoalan kopinya, gitu. Jadi, kopi sebagai material saja.”

Saat menyortir lukisan, Widi mengajak serta Bram Kushardjanto dan Yong Kushandiono. Memang, mulanya merekalah yang ‘menarik’ Widi untuk ikut serta di Festival Kopi Al-Munawar. Dipertemukan di rumah seorang teman, Bram secara pribadi kagum dengan kemampuan Widi mengulik berbagai media, serta mengikutsertakan massa untuk berkarya.

“Saya lihat Widi ini mampu mengangkat materi apapun menjadi sebuah karya seni rupa yang menawan,” ujar Bram blak-blakan, saat mengobrol dengan Kopikini.com bersama Widi.

melukis-kopi-bram-yong-juri-lukisan-kopi-al-munawar-1

Yong Kushandiono (kiri) dan Bram Kushardjanto (kanan), mewakili Jaringan Masyarakat Negeri Rempah, turut meramaikan Festival Kopi Al-Munawar.

melukis-kopi-bram-widi-s-martodihardjo-yong-juri-lukisan-kopi-al-munawar-1

Kiri ke kanan: Bram, Widi, & Yong saat sesi penyortiran lukisan kopi.

melukis-kopi-bram-kushardjanto-widi-s-martodihardjo-juri-lukisan-kopi-al-munawar-1

Bram dan Yong sendiri turut menghiasi Festival Kopi-Al Munawar dengan dekorasi infografis mengenai sejarah kopi di Sumatera Selatan. Mewakili komunitas Jaringan Masyarakat Negeri Rempah yang berisikan tokoh-tokoh seperti sejarawan JJ Rizal dan aktor Dennis Adhiswara, Bram pernah berkolaborasi dengan Widi untuk membuat pameran ‘Jalur Rempah’ di Galeri Nasional, Jakarta. Saat itu, Widi membuat eksplorasi sejarah jalur rempah dari potongan-potongan kayu Kapal Mandar.

“Semuanya jadi karya seni. Dan selalu melibatkan publik,” papar Bram, menceritakan ciri khas Widi dalam berkarya. “Jadi ada publik yang juga ikut merasakan kehangatan dari proses membuat Kapal Mandar itu.”

Yakin Widi ‘pasti bisa mengolah kopi’, Bram kembali membawa Widi ke Festival Kopi Al-Munawar. Gayung bersambut, Widi berulang kali mengaku ‘jatuh cinta’ dengan arsitektur bangunan-bangunan kampung Al-Munawar yang kental dengan sentuhan budaya dan sejarah.

melukis-kopi-bram-kushardjanto-widi-s-martodihardjo-juri-lukisan-kopi-al-munawar-2

melukis-kopi-sortir-lukisan-expert-al-munawar

Lukisan kopi pilihan kategori ‘expert’, ‘hidup’ dari segi gradasi dan komposisi.

melukis-kopi-sortir-lukisan-al-munawar-1

melukis-kopi-sortir-lukisan-lukisan-naif-al-munawar

Lukisan ‘naif’ yang memukau para juri.

Lukisan-lukisan terpilih lantas dipajang di dinding rumah berusia 300 tahun yang menghadap jalan utama. Disuguhkan goresan wahid yang bersandingan dengan coretan naif, pengunjung Festival Kopi Al-Munawar pun turut menjadi penikmat hamparan kreativitas lintas usia dan media.

melukis-kopi-sortir-lukisan-pameran-lukisan-kopi-lukisan-expert-al-munawar

melukis-kopi-sortir-lukisan-pameran-lukisan-kopi-al-munawar-2

(Liputan, tulisan, & suntingan oleh Klara Virencia;
foto oleh Klara Virencia;
suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply