Sewaktu-waktu Coffeemates tak sengaja mendengar perbincangan di antara barista-barista olimpiade, ataupun rajin menyelidiki lika-liku olimpiade para barista yang akan dimulai sebentar lagi, nama biji kopi berembel-embel ‘Geisha’ sejatinya cukup bikin getar di dada begitu tertangkap telinga.

Tenar di kalangan barista-barista lomba, Panama Geisha menjadi biji kopi andalan juara barista nasional (Indonesia Barista Championship) Yoshua Tanu saat maju ke World Barista Championship 2016. Barista juara nasional lainnya yang bermain di cabang seduh manual (Indonesia Brewers Cup), Ryan Wibawa, pun mengandalkan varietas Geisha saat berlaga di World Brewers Cup 2016. Biji kopi Geisha juga menjadi hadiah utama di ajang lomba seduh manual tahunan Bandung Brewers Cup 2016.

Konon, saking cantiknya reputasi Geisha, bahkan juri-juri kopi di kompetisi barista level dunia seringkali kesengsem duluan begitu dengar nama Geisha. Biji kopi primadona yang jadi andalan di ajang kompetisi ini terkenal akan cita rasanya yang begitu kaya.

Suatu ketika, tim perfectdailygrind.com memutuskan untuk mengulik misteri populernya kopi varietas Geisha di kalangan para barista. Jadilah mereka melakukan sesi seduh-seduh dan cicip-cicip massal 250gr kopi Esmeralda Geisha.

Kumpulan ceri kopi Geisha yang dipetik merah di perkebunan Finca Deborah, Panama.

Setelah beberapa kali percobaan yang nyaris bikin putus asa, sang Geisha mengeluarkan perpaduan sensasi manis, jernih, dan kilauan rasa-rasa beri, lemon, mangga, pepaya, peach, nanas, jambu, dan bunga jasmine. Begitu berwarna, bagi lidah-lidah peka untuk merasa. Perpaduan rasa bergamot dan kupasan kulit jeruk juga kerap hadir, menimbulkan sensasi seperti minum teh earl grey. Beberapa pencicip bahkan merasakan perpaduan unik antara rasa marshmallow & vanilla.

Walaupun seluruh pencicip di tim perfectdailygrind.com terkesima dengan variasi rasa yang ditawarkan, beberapa di antara mereka mengkritik sensasi cairan (body) seduhan Geisha sebagai ‘terlalu cair’, ‘terlalu halus’, ‘terlalu seperti teh’. Yoshua Tanu, saat maju mewakili Indonesia ke ajang World Barista Championship 2016, pun menambahkan ekstrak kulit buah kopi Malabar demi mengejar sensasi cairan kopi yang lebih kental.

Meski biasa menempel dengan nama ‘Panama’, Geisha sesungguhnya baru tumbuh di Panama mulai tahun 1960an. Jauh sebelum itu, sejak 1930an, Geisha tumbuh di pegunungan sebelah Barat Daya kota Geisha, Ethiopia. Semakin tinggi area tanamnya, maka akan semakin mewah kualitas Geisha tersebut.

Ketenaran Geisha di dunia kopi dimulai dari 2004. Saat itu, varietas Geisha berhasil menjadi juara di kompetisi ‘Best of Panama’ (BOP) yang diadakan Specialty Coffee Asociation of Panama. Kemenangan ini kemudian membawa Geisha ke kancah lelang kopi via internet. Sejak itu, popularitas Geisha terus meningkat di skena perkopian dan lomba kopi di seluruh dunia.

Semakin tinggi ditanamnya, semakin gemilang rasanya.

Hingga kini, Geisha masih senantiasa jadi primadona. Yoshua Tanu, saat berbincang dengan Kopikini.com pasca bertanding di World Barista Championship 2016, mengakui bahwa Panama Geisha pilihannya bisa dibilang sejenis ‘biji aman’ untuk kompetisi.

“Kalau dipanggang dengan benar, meski tidak pasti hasil seduhannya bagus, rasanya masih tetap enak dan ‘bersih’,” jelas Yoshua. “Semacam biji kopi ‘aman’. Kalau enak, enak banget. Kalau kurang enak, rasanya masih tetap ‘aman’.”

Dengan perpaduan cita rasa yang menjanjikan dan tingkat kesulitan menguliknya, Geisha pun jadi tantangan tersendiri bagi para barista..

Menariknya, di balik reputasi gemilang varietas Geisha, perfectdailygrind.com mencatat bahwa para pemenang World Barista Championship dalam kurun 5 tahun terakhir justru tidak ada yang menggunakan biji kopi Geisha. Juara World Barista Championship 2015 Sasa Sestic, misalnya, meraih gelar juara lewat kopi varietas Sudan Rume. Apapun kopinya, para juara World Barista Championship selalu setia menonjolkan keunikan varietas kopi yang mereka bawa.

Apa ini berarti biji kopi Indonesia punya kesempatan untuk tampil di ajang dunia?

Dalam memilih biji kopi untuk kompetisi, selalu ada tarik ulur antara biji kopi lokal atau biji kopi luar yang ‘kualitasnya terjamin’. Mengutip asosiasi profesi Barista Guild Indonesia, barista memiliki kemewahan untuk tampil sebagai duta kopi Indonesia. Biji kopi yang mereka tampilkan dan ceritakan kisahnya di kompetisi bisa jadi belum pernah terdengar namanya. Namun, ketika mereka berhasil meraih gelar juara, biji kopi yang mereka bawa akan terangkat namanya. Lebih-lebih lagi, jika kau seorang juara dunia.

“Katakanlah, gue barista juara. Kalau gue bilang kopi yang lu minum itu enak, lu juga bakal bilang itu enak,” ujar Yoshua Tanu, menggambarkan ‘efek barista juara’. “Bisa aja gue mikir itu kopi sebenarnya sampah.”

Semakin kuatlah alasan bagi barista untuk membawa biji kopi Indonesia sebagai bekal bertanding. Namun, toh, Yoshua Tanu sendiri masih memilih biji kopi Geisha. Langkah yang mengundang tanya ini bukannya tanpa alasan, rupanya.

Yoshua Tanu, juara Indonesia Barista Championship 2014 & 2015, mewakili Indonesia bertanding di World Barista Championship 2014 & 2016.

Q-grader Adi W. Taroepratjeka, juri kepala dalam Bandung Brewers Cup 2016.

Bukan, ini bukan lagi soal semangat nasionalisme untuk mengangkat kopi Indonesia. Bagi juru cicip kopi Adi W. Taroepratjeka, ini murni soal rasa. Sebagai seorang Q-Grader yang biasa memandu lelang kopi dan punya sekolah kopi tersertifikasi, Adi W. Taroepratjeka mengakui bahwa cita rasa biji-biji kopi Indonesia cenderung tidak stabil.

“Kopi-kopi kita punya cita rasa yang eksotis, memang,” ujar Adi, pasca menjuri di acara tanding seduh manual Bandung Brewers Cup 2016. “Tapi ketidakkonsistennya suka bikin sakit kepala.”

Yoshua Tanu sendiri mengaku sempat mencoba berburu biji kopi lokal untuk dibawa bertanding ke level dunia. Namun, ia tak kunjung menemukan biji kopi yang cita rasanya bisa ia pegang.

“Setiap kali gue blend, rasanya selalu beda-beda,” jelas Yoshua, menyayangkan konsistensi rasa biji kopi Indonesia.

Bukan berarti ini jalan buntu untuk kopi Indonesia. Dalam pandangan Adi W. Taroepratjeka, kopi Indonesia punya kesempatan selama barista-baristanya cukup gigih dalam mengulik rasa. Acara yang ia jurikan, Bandung Brewers Cup 2016 pada Desember lalu, pun jadi bukti nyata. Di ajang kompetisi seduh manual tersebut, para peserta hanya boleh menyeduh biji kopi Indonesia. Alhasil, pemenang Bandung Brewers Cup 2016 justru menyabet gelar juara bermodal kopi Cianjur yang masih asing kita temukan di kedai-kedai kopi .

Pada ajang kompetisi barista nasional yang terangkum dalam rangkaian Indonesia Coffee Events 2017 nanti, memang tidak ada kewajiban untuk menampilkan kopi asli Indonesia. Pilihan pun ada di tangan barista yang berlaga.

Mari, Coffeemates, kita nanti kejutan dari mereka.

(Tulisan & suntingan oleh Klara Virencia;

Diadaptasi dari “What Is Geisha? The Reality of a Fantasy Bean”,
Perfectdailygrind.com, 1 Juni 2015.
Diambil 24 Januari 2016.

Foto-foto profil oleh Andreansyah Dimas,
foto-foto Geisha disadur dari fincadeborah.com & fratellocoffee.com.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply