…karena perempuan kebanyakan tidak mampu membuat secangkir kopi nikmat.

BUKAN, BUKAN KAMI YANG BILANG.

Sumpah, Coffeemates. Melihat bagaimana kopi digambarkan pada zaman dulu, rasanya ingin sembah sujud syukur. Kita hidup dan bernapas di zaman ketika kopi bisa dinikmati oleh siapa saja dalam bentuk apapun. Berubah-ubah fungsi dan kegunaannya, sepanjang sejarah ada-ada saja tata cara yang dibuat manusia untuk menikmati kopi.

Konon saat kopi masuk Eropa pada abad ke-16, orang-orang menganggap kopi tidak cocok untuk perempuan karena cenderung membuat mereka tidak subur atau bahkan mandul. Di era kekaisaran Konstatinopel, ada hukum yang khusus dibuat agar para suami dapat menjauhkan istri-istri mereka dari kopi.

Atas alasan inilah, majalah Esquire mengatakan di ‘Esquire’s Handbook for Hosts: A Time-Honored Guide to the Perfect Party’ (‘Buku Panduan Penyelenggara Pesta oleh Esquire: Panduan untuk Pesta Yang Sempurna’—red) yang terbit tahun 1949, bahwa ‘perempuan rata-rata, hingga hari ini, tidak bisa bikin kopi enak’.

“Pastinya karena, pada dasarnya, kopi itu minuman laki-laki,” begitu tertulis dalam bab “Coffee: The Cup That Cheers.” (‘Kopi, Minuman Yang Menceriakan’—red)

Meski tulisan ini jelas bikin kami cekakak-cekikik sendiri, tetapi kami sepakat dengan tulisan ini: bahwa kopi yang dibuat dengan sembarangan akan justru bikin pundung para pecinta kopi sungguhan.

Kami juga suka cara menyemangati para pembaca Esquire untuk bikin kopi sendiri (ya, meski dengan—hmpph—suuzon pada istri sendiri).

“Tidak hal lain dari kemampuan memasakmu yang akan membawakanmu kebahagiaan sebesar kemampuan menyeduh minuman yang merangsang inspirasi dan pencernaan,” ujar catatan tersebut.

Lalu dipaparkanlah prinsip-prinsip dasar secangkir kopi sempurna berikut ini:

  1. Gunakan biji kopi yang masih fresh: masih baru dipanggang & digiling.
  2. Mulailah dengan air bersih dingin – dan saat akan dituang ke kopi, pastikan untuk menuang air segera setelah air mendidih. Kalau dididihkan terlalu lama, oksigen akan hilang dan air akan terasa hambar.
  3. Pastikan alat-alatmu bersih tanpa noda.
  4. Selalu ukur bahan-bahanmu dengan hati-hati dan hitung waktu seduhmu dengan seksama – supaya kau bisa mengulang lagi resep yang sama begitu kau sudah menemukan kombinasi waktu seduh, kopi, dan air yang ideal.

Lebih dari itu, seleramu adalah raja.

Kerennya, prinsip-prinsip ini mengangkat persis hal-hal yang dipraktikan oleh para barista di kedai kopi saat ini. Mengingat tips ini ditulis untuk penyeduh kopi di rumah, dapat kita bayangkan seberapa serius pria-pria Amerika di masa itu soal kopi yang akan mereka minum.

Tak ketinggalan, panduan tersebut turut memaparkan empat cara seduh kopi. Tentu, metode yang ngetren di zaman itu. Menariknya, masing-masing dari metode seduh ini masih dapat kita temui hingga saat ini. Hanya saja, dalam bentuk yang berbeda.

Ya, metode yang kini kita temukan di alat V60, Siphon, maupun Moka Pot bukanlah hal baru. Mungkin ada beberapa tips yang Coffeemates bisa comot dari resep-resep lawas ini.

Gunakan salah satu dari metode berikut ini, lalu bereksperimenlah sampai kau menemukan kopi yang kekuatannya sejajar dengan secangkir kopi terenak yang kamu pernah rasakan. Proporsi yang biasanya direkomendasikan adalah 1 sendok makan kopi berbanding 1 cangkir air putih. Pria yang memahami kopi akan memilih 2 sendok makan berbanding 1 cangkir air putih.

(…) Tapi ada banyak variasi kekuatan dari berbagai blend kopi ,hampir sebanyak variasi selera peminum kopi. Jadi, atur saja.

1. DRIP COFFEE
Taruh kopi di bagian atas dari alat kopi tetes. Air dididihkan secara terpisah, lalu dituang ke atas kopi—agar menetes dari bagian bawah alat kopi tetes. Beberapa fanatik bersikeras bahwa air hanya boleh dituang dengan takaran 1 sendok makan sekali tuang. Yang lain menuang air ke atas kopi dua-tiga kali sekali tuang, demi rasa kopi yang lebih kuat.

Aturan-aturan yang pasti hanyalah:
panaskan ceret kopi dengan air panas;
gunakan ukuran bubuk yang sesuai untuk metode tetes;
letakan ceret kopi di tempat hangat agar kopi tidak mendingin selama proses penyeduhan.

2. GLASSMAKER COFFEE
Taruh air di mangku- bawah. Pasang mangkuk-atas, tutup dasarnya dengan filter, lalu isi dengan mangkuk-atas dengan bubuk kopi. Ketika air di mangkuk bawah mulai panas, ia akan naik lewat tabung ke mangkuk-atas. Segera setelah air dari bagian bawah memenuhi mangkuk-atas dan mengaduk bubuk kopi, matikan apinya. Perlahan-lahan, kopi akan turun melewati filter ke mangku- bawah. Dari mangkuk bawah inilah kita menyajikan kopi.

Atau—kita dapat juga membiarkan kopi mendidih di mangku- atas selama 2 sampai 5 menit, demi hasil seduhan yang lebih kuat.

3. OLD FASHIONED COFFEE POT
Untuk metode ini, kegemaran para pendahulu kita, kopi harus digiling kasar. Bubuk kopi lalu dimasukkan ke panci, disusul dengan air dingin. Didihkan, diamkan selama 5-8 menit, lalu angkat. Air dingin akan menstabilkan bubuk kopi. Kamu akan membutuhkan saringan untuk metode ini.

4. PERCOLATOR COFFEE
Gunakan takaran yang sama dengan kopi rebus, tapi gunakan kadar gilingan sedang. Masukkan bubuk kopi ke perkolator, dan air ke wadah di bawahnya. Sembari dididihkan, kopi akan melalui bubuk kopi sampai kekuatannya sesuai yang kau inginkan: sekitar 8 menit. Dengan perkolator berbahan gelas, kau akan dapat melihat prosesnya.

Apapun metodenya, kopi paling baik adalah kopi yang masih hangat. Begitu kau hapal waktu yang kau butuhkan untuk menyeduh kopi, kau tahu kapan waktu yang tepat untuk undur diri dari meja makan agar si kopi siap dinikmati dengan makanan penutup. Atau, kau bisa pakai penyeduh kopi elektrik untuk memasak kopi sembari makan.

Mungkin Coffeemates sudah dapat menebak sembari membaca?

Yak, DRIP COFFEE mengulas cara seduh yang sekarang ini kita temukan di alat seduh filter macam V60 maupun Vietnam Drip.
GLASSMAKER COFFEE mengulas metode seduh a la Siphon;
OLD FASHIONED COFFEE POT adalah tubruk gaya seduh panci;
dan metode PERCOLATOR COFFEE persis seperti metode alat Moka Pot.

Bagaimana, Coffeemates?
Dapat sesuatu untuk dicoba ke resep kalian masing-masing?

(Terjemahan, tulisan, & suntingan oleh Klara Virencia.


Disadur dari artikel brainpickings.org, ‘Coffee, It’s a Man’s Drink: Esquire’s Vintage Rules for Brewing the Perfect Cup’

Gambar-gambar ilustrasi disadur dari brainpickings.org, openculture.com, & creativepro.com)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply