Ketika kamu sudah berusaha sekuat tenaga menyeduh kopi enak atau berlatih berbulan-bulan melukis bunga tulip tujuh susun dalam secangkir latte, semua orang mulai mengakui kenikmatan seduhanmu dan indahnya lukisan latte-mu,

kepalamu justru berkata:

“Itu pasti bukan kopi gue yang dibilang enak.”
“Punya gue pasti ada yang kurang.”
“Latte art gue pasti kurang simetris.”
“Kayaknya gue gak pantes jadi barista.”

Hati-hati Coffeemates, mungkin kamu terjangkit impostor syndrome. Sindrom yang dikenal pula dengan nama ‘sindrom penipu’ ini juga diderita oleh penulis terkenal Maya Angelou, aktris Kate Winslet, hingga aktris Emma Watson.

Gejala-gejala sindrom ini meliputi perasaan sering meragukan kemampuan diri sendiri, persiapan berlebihan untuk melakukan apapun, dan perasaan tidak cukup baik untuk bisa mencapai kesuksesan yang sudah dicapai saat ini. Pertama kali dinamakan impostor syndrome, sindrom ini ditemukan oleh Pauline R. Clance and Suzanne A. Imes pada tahun 1978 dengan meneliti sejumlah wanita yang sukses di bidangnya.

Terlepas dari bukti hasil kerja keras mereka, penderita sindrom penipu kerap yakin bahwa kesuksesan hanyalah kebetulan. Mereka percaya, sukses mereka terjadi karena waktu dan tempat yang tepat, atau kemampuan dirinya membuat orang lain berpikir bahwa dia lebih pintar dan kompeten dari yang sebenarnya.

Nyatanya, Coffeemates, sindrom penipu ini bisa dialami oleh siapa saja. Termasuk kamu, siapapun kamu dalam industri kopi. Jenn Chen, penulis dari sprudge.com, pernah mengulas tentang sindrom ini di kalangan barista dan orang-orang industri kopi lainnya.

Emily (bukan nama sebenarnya) adalah salah satu penderita sindrom penipu ini.

“Aku tidak pernah merasa minuman yang kubuat itu enak,” ujarnya, ketika ia melayani pelanggan. “Tidak peduli sebagus apa aku membuatnya, aku tidak pernah puas dengan itu.”

Meski Emily kerap mendapatkan tanggapan positif atas hasil seduhannya, ia sering berpikir seduhannya bisa lebih baik lagi. Atau, bahwa ada seseorang yang bisa membuat seduhan yang lebih baik dari dirinya.

Rekannya sesama barista, Sandra, mengamini apa yang dirasakan Emily. Terlepas dari pengalamannya selama 15 tahun di industri kopi, ia berkata, “Aku masih merasa tidak berada di tempat yang tepat. Semacam, ada perasaan aku masih harus membuktikan diri.”

Meski dengan dukungan positif dari orang-orang yang ada di sekitarnya, Sandra masih berpikir, “Teman-teman dekatku, kolegaku, mereka hanya mengatakan hal-hal baik hanya untuk membuatku merasa lebih baik.”

Dr. Kevin Cokley, Direktur dari The Institute for Urban Policy Research & Analysis dari Universitas Texas di Austin, yang juga profesor Counseling Psychology dan African and African Diaspora Studies kemudian menjelaskan:

Impostorism adalah perasaan seakan-akan kamu membohongi orang lain saat kamu mencapai kesuksesan dalam pekerjaan atau di kelas. Terlepas dari semua indikasi yang membuat kamu menjadi manusia yang memiliki pencapaian.”

Penelitian Dr. Kevin Cokley berpusat pada dampak psikologis dari stigma gender dan mahasiswa ras lain selain kulit putih.

Dee, seorang representatif dari sebuah perusahaan kopi meyakinkan, “Sindrom penipuku ini sangat didasari karena saya seorang wanita berkulit berwarna. Semua kesalahanmu akan terlihat lebih besar dan berdampak lebih panjang.”

Untuk melawan perasaannya itu, ia selalu mempersiapkan semua pekerjaannya berlebihan. “Itulah alasan kenapa saya sangat teliti dan sangat memperhatikan detail.”

Terlepas dari hasil riset lainnya, penelitian secara keseluruhan justru mengatakan gender tidak memiliki peran signifikan dalam sindrom penipu ini. Nyatanya, 70% dari populasi manusia diperkirakan mengalami sindrom ini dalam satu titik di hidup mereka. Perasaan ini kerap dialami oleh individu yang memiliki pencapaian tinggi dengan karakter perfeksionis.

Cara Menghadapi Sindrom Penipu

Menurut Dr. Cokley, salah satu cara menghadapi sindrom penipu ini adalah dengan memiliki lingkungan kerja di mana setiap orang merasa nyaman untuk berbagi kelemahannya. Memiliki percakapan terbuka tentang perasaan seperti ini sangat penting. Terutama, ketika kamu datang dari industri profesional yang sudah mencapai tingkat kesuksesan tinggi.

David Buehree, salah satu pemilih Houston’s Greenway Coffee, mengaku ia tidak mengenal impostor syndrome hingga Jenn Chen dari sprudge.com menanyakan apakah dia pernah merasa seperti itu sebagai pemilik bisnis.

Buehrer sadar, ia sering merasa takut menghadapi penolakan dan dibanding-bandingkan dengan yang lain. Dia sengaja tak memiliki tim penjualan hanya karena dia tidak ingin dibandingkan dengan pemanggang kopi lain dalam satu tempat.

Bethany Hargrobe, barista dari Wrecking Ball Coffee di San Fransisco, menempati posisi ke-4 pada tahun 2017 di kompetisi barista di Knoxville. Di tahun yang sama, ia meraih posisi ke-5 kompetisi nasional US Barista Championship. Terlepas dari pencapaian itu, Bethany merasa sulit menghadapi kesuksesan dan merasa semua pencapaiannya adalah hal ‘biasa’.

Saat sindrom ini muncul tiba-tiba, Bethany mengaku, “Dukungan orang luar sangat penting. Mereka tidak mau membiarkan saya berkubang dalam perasaan ini.”

Menurut Carl Richard, penulis New York Times yang juga menderita sindrom ini, pertama-tama kamu harus tahu apa yang kamu alami. Setelah kita mengetahui apa namanya, langkah kedua adalah menyadari bahwa kamu tidak sendirian.

Setelah itu semua, sadari dan berdamailah dengan diri sendiri.

(Disadur dari sprudge.com, nytimes.com, & cnnindonesia.com.

Tulisan oleh Lani Eleonora;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto ilustrasi oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply