Setelah sempat gemas karena lebih banyak melayani pesanan green tea latte daripada kopi, Katherina Supit sang pemilik No. 27 Coffee mengakui penikmat kopi di Yogyakarta kian hari pun kian bertambah. Terbukti, dengan menurunnya popularitas green tea latte di kertas pesanan.

“Kita dua tahun yang lalu tuh, aku inget banget ada momen kita nyajiin kurang dari 20 gelas kopi sehari, tapi kayak 30-40 green tea latte,” kelakar wanita yang akrab dipanggil Kat ini. “Sekarang kita—syukurlah kita dominannya kopi. Kalo gak mungkin kita ganti jadi No. 27 Green Tea Latte.”

Katherina Supit, pemilik No. 27 Coffee.

Sudah berjalan selama dua tahun, No. 27 Coffee menghadirkan biji kopi lokal maupun mancanegara. Jika Coffeemates penikmat espresso, kamu akan menemukan rasa cokelat dan jeruk hasil dari percampuran biji kopi Jawa, Bali dan Lintong dalam houseblend kedai kopi ini.

Kesegaran pun hadir dalam sajian Galyco, Gayo Lychee Coffee. Perpaduan dari kopi Gayo dan buah leci ini menjadi signature drink dari No. 27 Coffee. Untuk seduh manual, Coffeemates akan menemukan banyak pilihan biji kopi dari Tanzania, Kenya, hingga Ethiopia.

Untuk menu makanan, Coffeemates dimudahkan dengan kehadiran Esco di belakang kedai kopi ini. Memiliki jam operasional yang sama, dari pukul 8.00 pagi hingga 11.00 malam, Coffeemates dapat menikmati kopi dan mengudap siput a la Perancis Escargot sebagai camilan andalan Esco dan No. 27 Coffee.

Escargot, kudapan andalan No. 27 Coffee.

Terletak di Jalan Pringgodani No. 14, Yogyakarta, angka 27 di kedai  No. 27 Coffee pun menimbulkan tanya. Terungkaplah kemudian, bahwa angka 27 dipercaya sebagai angka keberuntungan bagi pemiliknya, Katherina Supit. Merindukan kedai kopi yang lebih dekat dengan pribadinya dan sesuai dengan seleranya, hadirlah No. 27 Coffee menyemarakkan geliat industri kopi di kota pelajar.

“Karena memang waktu dulu, waktu pertama mau buka tuh, aku pengin sesuatu yang personal di kedaiku. Nggak pengin namanya terlalu ‘kekopian’. Aku maunya yang personal, yang menunjukkan sesuatu bagian diri aku,” ujar Kat.

Tak sulit ditemukan, karena terletak tepat di pinggir jalan. Tak butuh waktu lama untuk sampai, karena jalanan kota Yogyakarta tak serumit nan sarat kendaraan layaknya ibukota. Ketika sampai dan memasuki kedai kopi, pencahayaan, tata dan rancang ruang berkolaborasi seirama demi meningkatkan rasa ingin untuk berdiam lebih lama.

Melihat budaya ngopi di Yogyakarta sebagai pelengkap bertukar tutur bersama teman-teman, kedai kopi di kota ini justru ramai ketika malam tiba. Tak heran, banyak kedai kopi justru baru buka ketika senja dan berlanjut hingga dini hari. Sebagai kota pelajar, tak jarang Coffeemates menemukan kedai kopi yang sarat dengan kehadiran mahasiswa bergerombol ramai berkelakar saat melepas lelah akibat tekanan tugas bertumpuk.

Namun, No. 27 Coffee tampak ingin menawarkan hal berbeda.

Sontak terasa setelah membuka pintu, saat sapaan barista, jajaran kursi dan musik yang mengalun seakan mengajak untuk duduk tenang. Jauh dari kesan rusuh, tanpa menihilkan kemungkinan untuk bergurau dengan teman.

“Selain dari kopinya, yang selalu kusuka dari kedai kopi itu suasananya,” imbuh Kat. “Kayak kamu ya balik lagi gitu kadang-kadang bukan cuma buat kopi. Kadang kedai kopi itu sesuatu yang apa ya—kamu tuh nyaman pergi ke sana sendirian.”

Teriring lantunan musik dengan ketukan tidak terlalu cepat hingga ingin berdansa, pun tak terlalu lambat hingga menimbulkan kantuk membantu, nuansa No. 27 Coffee beresonansi dengan vibrasi kepala saat butuh inspirasi untuk bekerja. Lain kata, kedai kopi No. 27 Coffee menyediakan ruang bagi kamu yang butuh ruang personal untuk menyelesaikan apapun yang harus diselesaikan.

Coffeemates yang belum memiliki kesempatan tamasya ke Yogyakarta dapat mencicipi sajian No. 27 Coffee yang hadir tiga bulan belakangan di Tangerang. Tepatnya, di Ruko Paramount 7CS Blok DF2 No.23, Serpong. Meski menghadirkan rancang bangun dan ruang yang berbeda, Kat tetap menjanjikan ruang personal dan suasana rumah dalam konsep minimalis.

(Tulisan oleh Lani Eleonora;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto oleh Andreansyah Dimas & Clarissa Eunike;
suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply