“Gue enggak pernah bercanda soal kopi.”

Kutipan kata-kata Ben dalam film Filosofi Kopi ini mungkin menginspirasi banyak generasi millenial Indonesia. Saking cintanya dengan kopi dan bangga dengan pekerjaannya sebagai barista, Ben pun rela menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan biji kopi dan seduhan terbaik.

Kita? Bisa jadi bukan barista. Namun, Coffeemates, nyatanya generasi millenial sendiri sama ‘enggak santai’-nya soal kopi.

Generasi millenial begitu emosional soal kopi. Dalam survei online oleh S&D Coffee and Tea yang meneliti kebiasaan membeli kopi generasi millenial berumur 18-34 tahun, para millenials sepakat bahwa kopi bukan hanya soal asal usul biji kopi dan harga.  Bagi generasi millenial, pengalaman membeli kopi adalah ‘pengalaman yang emosional’.

Awas baper.

“Bahasa yang digunakan millenials dan sikap mereka menunjukan bahwa mereka terhubung dengan kopi di level yang emosional. Buat mereka, kopi bukan cuma minuman, tapi juga soal pengalamannya,” tulis Food Navigator, mengutip penelitian yang diadakan S&D Coffee & Tea.

Mungkin, inilah sebab begitu banyak millenials sampai rela membayar berpuluh ribu untuk secangkir café latte dan menistakan peminum kopi saset dua ribuan.

Lebih dari soal biji kopi dan harga, millenials peduli apakah kopi yang mereka minum juga mengidentifikasikan diri mereka. Hal ini pernah dibagikan Tracy Ging dari S&D Coffee and Tea, melalui salah satu artikel PerfectDailyGrind. Menurut Tracy, ketika peminum kopi usia muda membeli produk, mereka tidak berpikir “Aku suka ini”, tapi lebih berpikir “Aku adalah ini”.

Dalam artikel yang sama, Tracy turut berbagi mengenai penyebab utama millenials dapat merasakan kedekatan emosional dengan kopi yang mereka minum. Nyatanya, isu sustainability dan hal-hal yang berhubungan dengan sumber biji kopi, termasuk pengelolaan dalam perkebunan kopi, berarti sangat besar bagi millenials. Menurut penelitian tersebut, bahkan terlihat millenials rela membayar lebih mahal ketika melihat barista beserta kedai kopinya mengangkat isu ini.

Tracy Ging menambahkan, janji sustainability dari kedai kopi menciptakan semacam efek ‘suci’ di mata millenials:

  • Millenials menganggap kualitas dan rasa kopi yang ‘sustainable’ akan lebih baik.
  • Jika perusahaan yang peduli sustainability tersebut menjual sajian lain, seperti makanan, mereka akan berpikir kualitas makanannya juga lebih baik.
  • Millenials berpikir ‘pasti pekerjanya diperlakukan dengan baik’, walaupun sebetulnya poin tersebut tidak disinggung sama sekali.
  • Di mata millenials, perusahaan yang mengangkat sustainability jauh lebih berkesan.
  • Dan mereka bersedia membayar lebih untuk kesan tersebut.

Sayangnya, ternyata hanya 22% dari total koresponden yang benar-benar mengerti apa arti sustainability dalam industri kopi. Dalam artikel Vice, tertulis bahwa pemahaman millenials akan sustainability berarti organik, ramah lingkungan, atau bahkan rasa dan aroma yang lebih baik.

PETUNJUK: barista yang jungkir balik jelasin asal usul kopi rawan bikin millenials kesengsem.

Dalam kamus Oxford, sustainability berarti mencegah berkurangnya sumber daya alam demi menjaga keseimbangan. Dalam dunia kopi, ini berarti berkaitan dengan menciptakan sebuah sistem yang dapat menjaga kelangsungan hidup dengan menggunakan teknik yang dapat digunakan terus menerus. Target utamanya adalah hasil produksi kopi dengan kualitas terbaik, namun tetap dengan memelihara kesejahteraan tiap individu yang terlibat, lingkungan, dan status ekonomi dari keseluruhan rantai produksi.

Tidak salah, memang. Karena dalam semangat sustainability orang-orang dalam industri kopi juga mengedepankan isu lingkungan demi menjaga kestabilan iklim dan cuaca untuk produksi kopi terbaik. Menjadi ironis, ketika industri kemudian memanfaatkan ketidaktahuan millenials demi mencapai target penjualan.

Jika kopi begitu personal untukmu, maka seriuslah dalam mencintai. Selami dan pahami kedalamannya. Personal atau tidak, wahai millenials, membekali diri dengan pengetahuan menyeluruh itu penting.

(Disadur dari perfectdailygrind.com, munchies.vice.com,
foodnavigator-usa.com, & groundworkcoffee.com.

Tulisan oleh Lani Eleonora;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply