Coffeemates tidak perlu berkecil hati jika tidak paham apa itu Q-Grader. Seorang Mira Yudhawati pun, sebelum resmi dinobatkan menjadi Q-Grader, mengaku tidak mengerti apa persisnya pekerjaan seorang Q-Grader.

“Kita bener-bener kayak gak ada bayanganlah ngapain, pekerjaannya apa segala macem, gak ada sama sekali,” kenang Mira. Dirinya termasuk salah satu angkatan pertama yang mengambil sertifikasi Q-Grader di tahun 2009.  “Jadi kayak, ‘wah ini menarik’. Karena kita emang lagi haus akan ilmu informasi mengenai kopi.”

Menjalani kehidupan di industri kopi selama 13 tahun membuat Mira Yudhawati, General Manager Caswell’s Coffee, seorang Q-Grader yang kerap menjadi juri di berbagai kompetisi kopi ini mengerti betul kelebihan profesinya. Memang, awal mulanya cuma bermodal rasa penasaran. Tanpa pernah bekerja di balik bar kopi,  keseharian Mira saat itu menggelitiknya untuk memahami kompleksitas kopi lebih dalam.

Profesi Q-Grader Sebagai Penyambung Lidah

Karir awal Mira Yudhawati di divisi penjualan sebuah perusahaan kopi membentuknya untuk memahami betul biji kopi yang harus ia jual.  Maka, ketika ada tawaran untuk mempelajari ilmu cicip kopi, Mira pun tak menyianyiakan kesempatan.

Mira Yudhawati, juri cita rasa (sensory) tersertifikasi untuk World Barista Championship 2016-2018, sekaligus Q-Grader tersertifikasi.

Sejatinya, Q-Grader menempati posisi penting untuk menyamakan persepsi dan bahasa kopi di lidah penjual dan pembeli. Terutama, mereka yang bertransaksi jual beli beras kopi antar negara.

“Q-Grader ini akan memudahkan transaksi, jadi produser atau eksportir, atau siapapun pemilik kopi yang ingin menjual kopinya itu cukup mengirimkan sample-nya kepada Q-Grader,” jelas Mira lebih jauh soal profesinya. “Tiga orang Q-Grader kemudian mereka nilai, mereka mendapatkan score dan tasting notes. Nah, ini nanti yang dikirim kepada pembeli. Pembelinya cukup baca aja.”

Seiring dengan waktu, kemampuan cicip kopi kaum Q-Grader ini tidak hanya dicari oleh mereka yang melakukan jual-beli kopi. Hari-hari ini, wajar saja bagi para roaster alias pemanggang biji kopi untuk mengantongi sertifikasi Q-Grader.

“[Seiring] Berkembangnya industri ini, akhirnya profesi ini fungsinya semakin luas lagi,” ujar Mira. “Akhirnya banyak juga barista yang ingin menjadi Q-Grader gitu.”

Belakangan malah, minat cicip kopi dari kaum peminum kopi sendiri semakin meningkat. Kian banyak mereka yang ingin merasakan kekayaan cita rasa kopi di lidah.

Sebagai hobi? Bisa jadi.

Sebagai profesi? Lain lagi.

Jika Resianri Triane memilih untuk membagikan ilmunya lewat SCAA Campus di Caswells dan membuatkan blend untuk para pemilik kedai kopi, Mira Yudhawati sendiri memilih untuk menekuni profesi sebagai juri kompetisi.

Mira Yudhawati memberi pengarahan dengan salah satu barista peserta di penyisihan regional Barat Indonesia Barista Championship (IBC) 2017, Februari 2017 lalu.

Mencicipi Kopi Para Barista Dalam Kompetisi

Tidak lantas karena mengantongi gelar Q-Grader, Mira dapat lolos tanpa tes.

“Itu sebenernya dua sertifikasi yang berbeda,” jelas Mira. “Jadi, Q-Grader itu tadi CQI (Coffee Quality Institute—red). Kalo barista competition, ke World Coffee Events.”

Namun ia mengakui, keahlian sebagai Q-Grader sedikit banyak memudahkannya  dalam mencicipi dan menilai kopi seduhan para barista.

“Ke sini-sini kok kayaknya fungsinya Q-Grader tuh makin berasa banget. Apalagi untuk juri sensory, ya,” jelas Mira. “Kayak misalnya, untuk ngenalin rasa. Kita kan jadi lebih tau, gitu”

Sejumlah pengalaman menjuri mancanegara sudah ia kantongi. Di tingkat dunia, Mira Yudhawati memegang sertifikasi juri cita rasa (sensory judge) untuk ajang World Barista Championship 2016-2018. Sebagai juri kompetisi lokal, jam terbang Mira sudah tak perlu diragukan lagi. Beberapa kali, tim kopikini.com bertemu dengannya saat tengah meliput Bandung Brewers Cups (BBrC), MIKARIKA, dan Indonesia Coffee Events 2017.

Di ajang penyisihan regional Timur Indonesia Barista Championship 2017, Desember 2016 lalu.

Mencicip dan menilai kopi sebagai head judge di ajang Bandung Brewers Cup (BBrC) 2016.

Sebagai juri kepala (head judge), menjuri bersama Regina Tay (kiri) & Resianri Triane (kanan) di ajang lomba seduh manual MIKARIKA.

Nyatanya, berbekal berbagai sertifikat tidak berarti Mira terlepas dari rasa gugup ketika menjadi juri.  Mira lanjut bercerita, gugup terparahnya justru ia alami sesaat sebelum ia menjuri untuk pertama kalinya di ajang World Barista Championship 2014, Rimini, Italia.

“Itu, nervous, sakit perut, mual gitu.. aah gila parah. Newbie kan, jadi kayak ngeliat, ngeliat senior-senior gitu. Asli mules banget,“ kisah Mira. “Walaupun kita udah certified, tapi tetep harus dateng calibration day. Jadi satu hari bener-bener calibration. Kalo gak lulus kalibrasi, ya gak ngejuri juga.”

Tak berhenti sampai lulus kalibrasi saja. Begitu kompetisi berjalan, juri rupanya sama gugupnya dengan barista. Bagaimanapun, menentukan nasib barista yang sudah mempersiapkan diri berlatih berbulan-bulan untuk mengikuti kompetisi bukanlah pekerjaan mudah. Mira mengaku, ketakutannya adalah jika kesalahan datang dari pihaknya sebagai juri.

Untungnya, ia tidak menderita sendirian.

“Dulu kirain gue doang nih, kayak ‘aduh kok norak banget ya’,” ujar Mira. “Ternyata pas sharing sama yang lain, bahkan sama yang senior-senior—mereka bilang, ‘kalo lo gak nervous berarti lo gak normal’.”

Tingginya tuntutan terhadap profesi juri kopi ini mungkin membuat sebagian dari Coffeemates sekalian tak menyangka, bahwa itu semua mereka lakukan secara cuma-cuma.

Bersama para juri teknis (technical judge) di salah satu penyisihan Indonesia Barista Championship 2017 babak regional Timur.

Tanpa Pamrih Memajukan Industri Kopi

Ya, menjadi juri adalah pekerjaan sukarela. Meski begitu, bukan berarti tidak ada keuntungan sama sekali yang dapat diambil ketika menjadi juri kompetisi. Jejaring perkenalan hanyalah salah satu keuntungan menjadi sukarelawan. Mira mengamati, biasanya pengetahuan dan kredibilitas mereka yang turut serta akan meningkat setelahnya. Berikutnya, Mira menekankan pentingnya passion di sini.

“Balik lagi, emang tadi karena ini volunteering job. Harus ada passion, jadi kita gak itung-itungan,” ujar Mira. “Biasanya sih yang – yang willing to volunteering nya gak tinggi mereka gak akan bertahan lama.”

Mira merasa sangat bersyukur dengan antusiasme para penggiat industri kopi yang berpartisipasi secara sukarela di Indonesia Coffee Events (ICE) 2017 tahun ini. Ketika kelas sertifikasi juri dan kesempatan menjadi relawan dalam Indonesia Coffee Events tahun ini dibuka, pesertanya langsung penuh seketika. Lewat Barista Guild Indonesia, Mira Yudhawati menjadi salah satu panitia yang turut serta memastikan berjalannya kompetisi barista nasional tahun ini.

“Kita mau merubah pola pikir orang kita yang biasanya selalu berpikir, ‘gue volunteering gak dapet apa-apa lo, gue malah ngeluarin duit gitu, gue malah ngeluarin waktu, gue malah ngeluarin ini’,” papar Mira.Jangan bilang gak dapet apa-apa lho, gitu. Lo pasti dapet sesuatu walaupun bentuknya bukan uang.”

Mira yakin, jika keinginan untuk terus memberi yang terbaik meluas ke seluruh Indonesia, maka setiap pegiat industri kopi pun dapat membantu meningkatkan kualitas industri kopi Indonesia.

“Untuk memajukan industri ini, pastinya butuh volunteer,” ujar Mira. “Semoga aja ini bisa meluas di seluruh Indonesia. Jadi, dengan meluas kan akhirnya industrinya jadi semakin meningkat sendiri.”

(Liputan oleh Klara Virencia;
tulisan oleh Lani Eleonora & Klara Virencia;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply