Coffeemates, tentu kamu akrab dengan istilah “Coffee Break”. Istilah dalam bahasa Inggris yang jika diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia mungkin bisa menjadi, “Ngaso”. Meski jika diartikan secara harafiah seharusnya menjadi “rehat minum kopi”. Namun, rasanya ngaso lebih tepat.

Jika menelusuri etimologi dari Coffee Break sudah jelas ini bukan istilah turunan dari kearifan lokal. Namun, bukan berarti bangsa Indonesia tidak memiliki akar budaya ngaso sambil ngopi sejak jaman nenek moyang. Terbukti dari legenda Kopi Khop yang dipercaya sudah ada sejak jaman Teuku Umar bergerilya di akhir tahun 1800-an.

Meski demikian, mari kita membahas etimologi “Coffee Break” itu sendiri dari bahasa ibunya. Dipercaya istilah ini mulai populer pada tahun 1850 di kalangan para istri dari imigran Norwegia di Stoughton, Wisconsin, US. Meski tidak ada data sejarah yang mencatat untuk menjamin kebenaran teori ini namun keberadaan festival tahunan Stoughton Coffee Break Festival dapat dijadikan landasan.

Istilah coffee break kemudian semakin dikenal lebih luas oleh masyarakat Amerika saat para pengusaha menjadikannya sebagai salah satu fasilitas di dalam pabrik bagi para buruh. Pada tahun 1902, sebuah perusahaan di New York, Barcolo Manufacturing Company menjadi perusahaan pertama yang memakai istilah coffee break dalam iklan lowongan pekerjaan.

Sebagai fasilitas para buruh, perusahaan menyediakan kopi gratis di waktu tertentu setiap hari. Berkat Barcolo Manufacturing Company, perusahaan lain pun mengadaptasi cara yang sama untuk merekrut para pekerja. Hingga kini hampir semua perusahaan setidak-tidaknya memberikan waktu sekali coffee break untuk satu shift delapan jam kerja.

Tentu saja, Coffeemates, hal ini juga menguntungkan perusahaan dengan memberikan waktu istirahat bagi para pekerja dengan menyediakan kopi gratis. Seorang pekerja tidak akan lagi bekerja dengan efektif jika kelelahan. Ngaso sambil ngopi terbukti dapat mengembalikan energi.

Gelombang Kopi Pertama Membantu Mempopulerkan Istilah ini

Atau sebaliknya.

Tim kopikini.com pernah membahas soal ini, di mana kopi saset, kopi kalengan dan bungkus kedap udara menjadi inovasi terbesar di era kopi gelombang pertama (Baca: Mulanya, Kopi Instan itu Inovasi). Di antara cara pembuatan kopi yang rumit dan waktu ngaso para pekerja yang terbatas, kopi saset pun menemukan penggemarnya.

Sebagai seorang jenius marketing dan psikolog peneliti perilaku manusia, John B. Watson membantu Pan-American Coffee Bureau untuk semakin mempopulerkan istilah coffee break dalam sebuah iklan kopi instan. Iklan ini muncul pada tahun 1952 dengan slogan, “Give yourself a Coffee-Breakand Get What Coffee Gives to You”. Berkat iklan tersebut produk kopi instan pun menjamur dan mendominasi pasar kopi Amerika.

Pergeseran Makna

Sempat diasosiasikan dengan istilah kaffeeklatsch —budaya tradisional Jerman, bergosip sambil ditemani secangkir kopi— coffee break kini tak sesantai dulu. Semakin berkembang dunia korporasi dan peradaban modern, makna coffee break mengalami pergeseran.

Tatkala sebelumnya dijadikan waktu untuk beristirahat, kini waktu coffee break juga dimanfaatkan untuk melanjutkan pekerjaan. Kedai kopi pun kian beralih fungsi sebagai ruang rapat dengan kehadiran para pekerja di dalamnya.

Ngopi sih, tapi ngasonya nanti dulu. Lagi pitching nih.

Alih-alih coffee break, tampaknya istilah yang paling tepat digunakan saat ini justru work break. Istirahat dari pekerjaan dan kopi demi mengembalikan esensi istirahat. Mari kembalikan istilah makna coffee break ke fitrahnya.

Maka Coffeemates, jangan lupa ngaso!

 

(Disadur dari citylab.com, coffeeforless.com, drinks.seriouseats.com dan theundergroundbootcamp.com

Tulisan dan suntingan oleh Lani Eleonora

Foto-foto dan suntingan foto oleh Andreansyah Dimas)

Related Post

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply