Ada yang tampak antusias menanti segelas kopi Pagar Alam di Festival Kopi Al-Munawar, Sabtu (29/10) pagi itu. Berulang kali, sesosok wanita dengan paras Arab menekan keran yang tak kunjung mengalirkan kopi.

“Habis ya?” tanyanya berkali-kali.

Belum habis rupanya, hanya tangki airnya perlu ditunggingkan sedikit untuk mengalirkan cairan kopi yang tersisa. Minun, yang sedari tadi menanti, pun tak jadi kecewa. Usai menghabiskan satu gelas penuh kopi hitam, Minun langsung membeli sebungkus kopi tanpa pikir panjang.

Hangat dan gemar bercerita, Minun berbinar matanya saat ditanya, “Memang suka ngopi, Bu?” Wanita paruh baya berperawakan kecil itu langsung menyerocos soal kebiasaan minum kopi keluarganya.

dsc02324

dsc02343

Minun, salah satu warga Kampung Al-Munawar. Seperti halnya di rumah-rumah warga lainnya yang menampung beberapa generasi sekaligus, Minun tinggal bersama anak dan cucunya.

dsc02318

Seperti halnya warga Kampung Al-Munawar lainnya, Minun tinggal berdekatan dengan sanak saudara yang lainnya. Sesungguhnya, seluruh warga kampung Arab yang terletak di tepi Sungai Musi itu memang masih satu keturunan. Sepanjang tujuh generasi, warga Kampung Al-Munawar saling menjaga agar tak ada warga yang menikah dengan orang di luar kampung mereka.  Kalaupun ada, judulnya pasti ‘bawa istri’ dan harus orang Arab juga.

Maka, tak jarang ditemukan tiga generasi tinggal dalam satu rumah. Minun sendiri tinggal bersama anak dan cucunya. Setiap pagi, seisi rumahnya kompak menyesap kopi Semendo untuk memulai hari. Tak terkecuali dirinya. Saat menyajikan kopi Semendo,  Minun berujar, “Ini dia kopi asli wong ayep (orang Arab—red) sini.”

dsc02629

Di sudut halaman salah satu rumah tertua di kampung Al-Munawar, warga kampung turut menjajakan berbagai makanan khas lokal.

dsc02638

Salah satunya, tentu kopi.

Kampung Al-Munawar punya sejarah yang panjang dengan kopi. Sejak tahun 60-an, beberapa warga kampung Arab ini punya merk kopi mereka masing-masing. Dari lima merk kopi, kini tinggal kopi cap ‘Sendok Mas’ yang menjadi warisan sejarah kopi Al-Munawar.

Mendekatkan kembali sejarah ini dengan penghuni kampungnya, Festival Kopi Al-Munawar yang jatuh Sabtu (29/10) & Minggu (30/10) kemarin turut merayakan tradisi ngopi bernuansa Arab ini bersama segenap warga Palembang dari sisi ulu (hulu) maupun ilir (hilir) Sungai Musi. Meski mereka yang berasal dari sisi ilir harus terlebih dulu naik perahu menyeberangi sungai atau melewati jalan ‘memutar’ lewat jembatan Ampera demi mencapai lokasi, Festival Kopi Al-Munawar yang berlangsung selama dua hari tersebut tidak habis-habisnya disinggahi pengunjung.

dsc02246

Produk asli kampung Al-Munawar, kopi cap ‘Sendok Mas’, disajikan dengan gaya vietnam drip untuk pembukaan Festival Kopi Al-Munawar, Sabtu (29/10).

dsc02210

dsc02589 Dari pagi sampai malam, para pengunjung silih berganti mengecap kopi Semendo dan Pagar Alam yang dibagikan cuma-cuma dari kios-kios penjaja. Sembari menikmati perkawinan sensasi pahit kencang berbalut gula dari dua varian kopi robusta asal Palembang ini, pengunjung dimanja dengan pemandangan arsitektur asli kampung Al-Munawar yang masih lestari sejak pertama berdiri 300 tahun yang lalu. dsc02449

dsc02216

Selaku penyelenggara, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan berharap acara kopi perdana di Al-Munawar ini bisa menjadi acara tahunan dan menjadi ciri khas kampung Al-Munawar.

“Kami mau meminta ini menjadi event tahunan, Pak,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan, Irene Camelyn Sinaga. Ia tengah menanggapi sambutan dari sesepuh kampung, ‘Ami’ Ahmad, saat pembukaan festival, Sabtu (29/10) pagi. “Jadi pada Al-Munawar, Al-Munawar sudah kental dengan satu core eventnya adalah festival kopi.”

dsc02231

‘Ami’ Ahmad, sesepuh Kampung Al-Munawar, saat pembukaan Festival Kopi Al Munawar pada Sabtu (29/10).

Mewakili daerah provinsi dengan lahan kopi dan hasil panen kopi terbanyak di Indonesia, Irene Camelyn merasa perlu melestarikan festival kopi sebagai acara tahunan.

“Seperti yang dikatakan tadi, ternyata kopi ini kalau didata, lahan kopi terbanyak di Indonesia ini di Sumatera Selatan,” papar Irene Camelyn. “Tidak ada lahan kopi yang lain (yang lebih banyak—red) setelah dilihat data.”

Di samping kios-kios berisi koperasi petani kopi dan kedai kopi setempat, Festival Kopi Al-Munawar turut diramaikan dengan rangkaian lomba barista bergaya seduh manual, nonton bareng film kopi, melukis dengan kopi, serta panggung terbuka pembacaan puisi bertema ‘kopi’.

dsc02463

Sesi lomba barista dengan teknik ‘manual brewing’, Sabtu (29/10). Seluruh babak menggunakan kopi Semendo.

dsc02674

‘Melukis dengan Kopi’ di tepi Sungai Musi, Minggu (30/10).

Di antara para pengunjung dari berbagai penjuru Palembang, anak-anak kampung Al-Munawar senantiasa jadi peserta setia di berbagai acara. Keceriaan dan rasa ingin tahu mereka kian menyalakan suasana.

dsc02699

‘Melukis dengan kopi’, diamati oleh anak-anak kampung Al-Munawar, Minggu (30/10).

dsc02807

Menyicip kopi di gerai kopi Semendo.

dsc02381

Anak-anak Kampung Al-Munawar, setia menonton proses penjurian lomba barista, Sabtu (29/10).

dsc02386

(Liputan, tulisan, & suntingan oleh Klara Virencia;

foto oleh Klara Virencia;
suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply