Bercita-cita untuk memberikan kontribusi dalam industri kopi, Otniel Christofer yakin mengikuti kompetisi akan membantunya mengambangkan potensi dirinya lebih jauh lagi. Setelah meraih gelar juara nasional lomba cicip kopi, Indonesia Cup Tasters Championship 2015, Otniel kembali turun tahun ini di cabang lomba seduh manual (Indonesia Brewers Cup) pada ajang Indonesia Coffee Events (ICE) 2017.

“Gue kayak pengennya competition, selain lo bisa ngembangin diri lo, gue kayak pengen yang memberikan kontribusi sesuatu di industri,” papar Otniel Christofer, yang kesehariannya bekerja di kedai Two Hands Full Bandung. ”Itu idealisme gue.”

Juara ICTC 2015 Otniel Christofer, saat menjalani babak Open Service di penyisihan regional Barat cabang kompetisi seduh manual (IBrC) tahun ini.

Tidak mudah puas kerap ditemukan dalam karakter nama-nama besar. Selalu ingin mengembangkan diri dan mengejar versi terbaik dari diri sendiri adalah cirinya. Juara Indonesia Cup Taster Championship (ICTC) 2015 ini pun merasakan hal yang sama.

“Sudah menang tasters (ICTC—red), tapi gua sebenernya merasa belom puas,” imbuh Otniel. “Makanya tahun ini gue ikutan brewers cup (IBrC—red). Di sana gue cukup concern sama content presentation gue.”

Tak Sengaja Nyemplung

Sebelumnya. Otniel bukanlah seorang peminum kopi. Otniel berkenalan dengan espresso pertamanya di Giyanti Coffee Roastery Jakarta, ketika diajak oleh sang kakak.

“Dan surprisingly waktu itu espresso gue asem banget. Like, beneran total gue gak bisa minum,” kenang Otniel akan sensasi espresso pertamanya. “Aneh. Biasanya pahit, tapi sekarang malah asem.”

Otniel, yang saat itu masih menjadi mahasiswa Hubungan Internasional di sebuah perguruan tinggi swasta di kota kembang, belum mengerti kopi sama sekali. Suatu ketika, sang kakak kembali mengajaknya main ke kedai ABCD yang saat itu masih ada di Pasar Santa. Di situ ia berkenalan dengan Ve Handojo dan Hendri Kurniawan, yang kemudian menjadi mentornya dalam dunia kopi yang ia tekuni hingga kini.

“Terus semenjak itu gue tuh jadi sering main ke ABCD karena gue suka sama hospitality mereka,” lanjut Otniel. “Akhirnya gue baru minum manual brew di sana. Semenjak sering main ke ABCD, gue baru pengen ngulik langsung, ngulik banyak soal kopi.”

Ketika mulai tertarik mendalami dunia kopi, Otniel mengaku kerap saling berkirim surat elektronik dengan Ve Handojo. Ia pun mengetahui ABCD akan membuka sekolah kopi. Di situ, ia memutuskan untuk menggali ilmu di dalam kelas appreciation (apresiasi rasa), brewing (menyeduh), dan espresso.

Menoreh Jejak Pertama di Industri Kopi

Setelah menyelesaikan sekolah kopi, Otniel yang harus kembali ke dalam kesibukan studinya memutuskan untuk mulai mencoba profesi sebagai barista di sela waktu belajarnya. Two Hands Full menjadi tempat kerja pertamanya, hingga saat ini.

Didukung oleh sang ibu dengan syarat tidak mengganggu kuliahnya, Otniel mulai nyebur ke dalam ritme kerja seorang barista yang harus terus-menerus menggali kopi lebih dalam.

Baru selang delapan bulan bekerja sebagai barista, pemilik kedai Two Hands Full menyarankan Otniel untuk mengikuti kompetisi cup tasting.

“Awalnya gue gak percaya diri untuk ikut cup tasters,” ungkap Otniel. “Pas gue mau tanding itu gue baru delapan bulan, lo bayangin. Gue baru delapan bulan kerja di kopi”.

Namun atas dukungan dan bimbingan dari atasannya, Otniel pun memberanikan diri mengikuti kompetisi icip-icip kopi yang berhasil menggaungkan namanya di dunia kopi Indonesia. Latihan intensif yang Otniel lakukan kemudian membimbingnya meraih gelar Juara I dalam kompetisi ICTC 2015.

“Waktu itu, gue masih baru banget di industri. Siapa tau bisa menang, cobain dulu aja,” ujar Otniel. “Akhirnya gue cobain dan ya hasilnya gitu, sih. Untungnya menang.”

Menjadi juara dalam kompetisi nasional lantas membuka peluang untuk mengikuti kompetisi tingkat internasional. Meski tak lantas menjadi juara dunia, Otniel mengaku mendapatkan pengalaman yang menyenangkan. Di situ, pintunya terbuka untuk memulai relasi dengan insan kopi dunia.

“Sekarang kan Two Hands Full udah mulai nge-roast. Jadi kayak ada beberapa orang-orang kunci yang gue ketemu di sana (World Coffee Events—red),” lanjut Otniel. Orang-orang inilah yang kemudian membantunya untuk sourcing biji kopi.

“Jadi, yang lebih penting sebenernya koneksinya. Networking-nya itu yang paling penting.”

Biji kopi yang ia gunakan untuk babak penyisihan lomba seduh manual pun ia peroleh melalui relasinya dengan insan industri kopi lintas negara. Kopi Colombia Zafiro varietas Wush Wush, yang ia dapat dari Raw Materal Coffee asal Selandia Baru, rupanya termasuk varietas yang langka.

“Aku tau temen-temen dari si Raw Material ini punya,” papar Otniel. “Mereka akhirnya kasih informasi, mereka punya nih tapi tinggal 12 kilo terakhir. Soalnya kopi ini mau dipake juga ternyata sama peserta brewers cup dari negara lain.”

Otniel pun meyakinkan Raw Material untuk menyimpan sisa kopi Colombia el Zafiro varietas Wush Wush itu untuknya. Lewat teknik seduh Kalita Wave yang terkenal mampu menghasilkan rasa yang konsisten, Otniel menjanjikan aroma bunga jasmine dan madu serta cita rasa buah plum merah dari seduhannya pada saat babak ‘Open Service’ IBrC Western Championships 2017.

Alhasil, Otniel berhasil mengamankan posisi di 24 besar nasional untuk ajang Indonesia Brewers Cup (IBrC) 2017 yang akan berlangsung April nanti. Mendarat di posisi ke-9 se-regional Barat dan ke-12 se-nasional, Otniel mengaku persiapannya untuk babak eliminasi regional Barat pada 9-12 April 2017 lalu belum maksimal. Ia hanya punya waktu berlatih setengah bulan sebelum pertandingan.

“Wah, latihannya mepet cuma setengah bulan. Perjalanan si kopi ini dari New Zealand makan waktu,” papar Otniel. Selama bulan Desember, ia masih dalam tahap pilih-pilih biji kopi. “Sampe minggu kedua atau minggu ketiga Januari, baru dateng kopinya.”

Dengan jeda waktu kurang lebih dua bulan, Otniel bertekad mengantongi formula seduh yang lebih matang untuk final Indonesia Brewers Cup 2017 nanti. Kembali, sikap ‘tidak cepat puas’ ia pegang untuk membawanya melangkah lebih jauh.

(Tulisan oleh Lani Eleonora & Klara Virencia;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto oleh Andreansyah Dimas;
suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply