Coffeemates yang pernah menonton latte art throwdown seperti ALAS-KADABRA di Jakarta Coffee Week (Jacoweek) 2016 lalu pastinya terbayang gerak-gerik barista para pelukis latte art. Dalam menanti latte art mereka jadi, kita menyaksikan wajah mengkerut para barista saat berkonsentrasi melukis di atas kopi. Begitu gelas kopi terhentak di atas meja, barista peserta mundur menjauh. Nah, giliran para juri melakukan permainan tarik ulur ketegangan.

Pada babak final ALAS-KADABRA, para juri tertangkap mata tengah berbisik-bisik sesaat sebelum ambil keputusan.
Mencurigakan betul.

Di hadapan mereka, dua cangkir berisi latte art para finalis. Untuk menentukan pemenang, masing-masing juri harus menunjuk cangkir yang menurut mereka menampilkan latte art terbaik. Dua cangkir, tiga juri. Tentunya, cangkir dengan suara terbanyaklah yang akan menang.

Para juri ALAS-KADABRA, di babak final.

Benar saja. Hawa-hawa keusilan yang menggantung di udara terbukti beberapa detik kemudian. Tatkala memilih, telunjuk kedua juri saling silang menunjuk dua cangkir yang berbeda.

Ke mana telunjuk ketiga milik Caleb Cha, sang juri kepala?
Oh itu dia, masih menggantung di udara. Benar-benar, penonton dipermainkan perasaannya. Tidak terbayang rasanya jadi si peserta. Di permukaan, raut mereka nampak khusyuk layaknya berdoa. Di dalam hati, bisa jadi sungguhnya mereka menahan diri untuk tidak mencubit-cubit lengan pesaingnya.

Begitu telunjuk Caleb Cha akhirnya jatuh juga pada cangkir milik Guntur Mukti, gegap gempita memenuhi panggung pertandingan di tengah area Jakarta Coffee Week itu 2016.

Itulah kenikmatan menonton latte art throwdown, yang marak dilombakan oleh kedai-kedai kopi maupun komunitas kopi di berbagai kota. Tidak pusing soal rasa, barista peserta ‘hanya’ perlu memastikan tekstur susu mereka cukup yahud untuk melukis di atas espresso. Di Jacoweek 2016, espressonya sudah disediakan oleh panitia, pula.

Lain cerita kalau lombanya sudah skala nasional.

Bukan Cuma Soal ‘Art’

Meski menyandang nama “latte art”, Indonesia Latte Art Championship (ILAC) lebih dari soal melukis kopi. Di panggung paling bergengsi untuk para pelukis kopi (latte-artist), seluruh peserta bertanggung jawab soal rasa, motif yang enak dipandang mata, dan ritme kerja sistematis a la barista.

Selaku ketua penyelenggara rangkaian lomba Indonesia Coffee Events (ICE) 2017, Cindy Herlin Marta menjabarkan tuntutan ‘ekstra’ ILAC dibandingkan lomba latte art versi throwdown.

Latte art itu awamnya adalah mungkin mereka cuma ngeliat di art-nya doang,” papar Cindy, sembari menunjukkan tabulasi nilai (score sheet) Indonesia Latte Art Championship 2017. “Tapi ternyata nggak, tekniknya dinilai. Sama kayak IBC (Indonesia Barista Championship—red). Dan  lo liat, nilai yang paling besarnya ini. Hospitallity.”

Tabulasi penilaian (score sheet) World Latte Art Championship 2016 untuk juri visual (visual judge), yang dijadikan acuan Barista Guild Indonesia untuk penilaian ILAC 2017. ‘Hospitality’ menempati porsi besar dengan perkalian poin x4.

Hospitality, atau keramahtamahan. Identik dengan profesi yang bergerak di bidang makanan dan minuman (food and beverage). Apa secangkir kopi akan terasa lebih nikmat saat disajikan oleh barista dengan senyum menawan? Atau ini lebih soal tebar pesona? Entahlah. Pastinya, jurus ‘tebar pesona’ ini terbukti ampuh oleh juara World Latte Art Championship 2015, Caleb Cha.

Saat ingin memperbaiki peringkatnya dari posisi kedua di Australia Latte Art Championship 2014, Caleb Cha membaca ulang peraturan ALAC dari depan sampai belakang. Di situlah ia menemukan pentingnya aspek ‘presentasi’.

“Dari tahun 2014, aku sadar bahwa kemampuan presentasiku masih sangat kurang,” ungkap Caleb Cha, saat berkunjung ke Jakarta Coffee Week, Oktober lalu. “Di 2014, aku cuma main tuang-tuang saja.”

Caleb Cha, juri sekaligus pemenang World Latte Art Championship 2015, melukis ‘Love Triangle’ di atas permukaan piccolo untuk acuan babak final.

Ternyata, dirinya kehilangan banyak poin dari aspek itu di tahun 2014. Berlatihlah ia meningkatkan kemampuan komunikasinya saat sesi presentasi latte-art.

“Jadi di tahun 2015, aku berlatih untuk lebih banyak tatap mata saat presentasi, lebih banyak beri penjelasan tentang motifnya, dan lebih merangkul para juri,” papar Caleb Cha. “Dan berhasil.”

Tak sekadar ‘berhasil’. Lolos menyabet predikat juara nasional di Australia Latte Art Championship 2015, Caleb Cha langsung melesat ke posisi juara dunia pada World Latte Art Championship 2015.

Berkat baca peraturan, saudara-saudara.

Tren ILAC Tahun Ini

Sempat jadi ajang lomba Indonesia Coffee Events (ICE) paling diminati beberapa tahun lalu, ILAC kini tak lagi jadi favorit di ICE. Tahun ini, cabang yang menjadi primadona di ICE adalah cabang seduh manual, Indonesia Brewers Championship (IBrC).

Sebagai cabang yang baru muncul tahun lalu, IBrC tahun ini berhasil meraup 48 peserta dalam waktu 3 jam setelah buka pendaftaran.  Cabang lomba cicip kopi, Indonesia Cup Tasters Championship (ICTC ) bahkan meraup lebih banyak peserta dibandingkan ILAC.

Turunnya tren akan latte art ini rupanya hanya terjadi di wilayah Barat saja. Saat penyisihan ICE 2017 wilayah Timur (Eastern Championships) di Bali, Desember lalu, ILAC masih jadi cabang yang paling diminati dengan jumlah peserta 15 orang. IBrC dan IBC berjalan dengan peserta 12 orang, dan ICTC dengan 9 orang.

Peserta ILAC di babak penyisihan wilayah Timur, ICE 2017 Eastern Championships, tengah melakukan teknik pouring.

Teknik gurat (etching) oleh salah satu peserta ILAC di babak penyisihan wilayah Timur, ICE 2017 Eastern Championships.

Sementara di wilayah Barat, per Kamis (19/1) kemarin, terdaftar 26 peserta dari total kuota 36 peserta di ILAC. IBrC penuh di hari pertama buka pendaftaran dengan 48 peserta, ICTC terpopuler kedua dengan 35 slot terisi dari kuota 36 orang peserta, dan IBC terisi 28 orang dari total kuota 48 peserta.

Menurut Cindy, memang pernah ada masa-masa saat keterampilan latte art sangat identik dengan profesi barista.

“Barista sama latte art tuh deket banget, gitu,” ujar Cindy.

Kala itu, latte art kerap jadi ujian saat seorang barista hendak bekerja di sebuah kafe. Di wilayah-wilayah Timur, menurut Cindy, tren ini masih berlangsung. Latte art masih punya tempat khusus sebagai ukuran kemampuan seorang barista. Sementara di wilayah Barat, terutama ibukota, Cindy melihat bahwa tren yang mengagungkan latte art ini sudah memudar.

Untuk seleksi wilayah Barat, Indonesia Latte Art Championship (ILAC) menghadirkan peserta-peserta dari Pulau Sumatera & Kalimantan, serta Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Para pemenang tiga besar di cabang ILAC, IBC, IBrC, maupun ICTC akan melaju ke babak final ICE 2017 pada April 2017 nanti. BGI selaku penyelenggara rangkaian lomba dalam ICE 2017 menetapkan target yang tinggi bagi para juara tahun ini. Sebagai asosiasi profesi barista nasional yang pertama kali memegang lisensi penyelenggaraan lomba-lomba ICE 2017, BGI menargetkan para juara IBC, IBrC, ILAC, & ICTC tahun ini untuk meraih posisi 10 besar di level dunia.

Bersama rangkaian lomba ICE 2017 Western Championships lainnya, seleksi ILAC wilayah Barat akan diselenggarakan pada 10-12 Februari 2017 di Kuningan City, Jakarta. Jika di latte-art throwdown para pesertanya khusyuk melukis, di kejuaraan nasional kali ini kita akan menyaksikan satu per satu barista berlaga dengan keramahan yang suka bikin terkesima. Untuk melihat proses pembuatan  latte art, Coffeemates juga tak perlu mengintip-intip dari samping barista. Ada layar tancap yang akan menampilkan guratan barista dari awal sampai akhir.

Yuk, Coffemates, kita ramaikan!

(Liputan, tulisan, & suntingan oleh Klara Virencia;

foto-foto oleh Klara Virencia & Andreansyah Dimas;
suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply