Lomba seduh manual nasional, Indonesia Brewers Cup (IBrC), merupakan  cabang kompetisi yang meraih peserta terbanyak dalam Indonesia Coffee Events 2017 Western Championships. Dengan total 47 orang peserta, Indonesia Brewers Championship (IBrC) pun jadi satu-satunya lomba yang babak penyisihannya sudah mulai sejak Kamis, 9 Februari 2017.

Meski Coffeemates tidak bisa merasakan kopi yang disajikan para peserta, IBrC akan menghadirkan penampilan para penyeduh manual yang mempresentasikan kopinya di depan juri. Dengan sedikit panduan ini, niscaya Coffeemates dapat merasakan keseruannya.

Ada dua tahapan dalam kompetisi Indonesia Brewers Cup ini.

Yang pertama, adalah babak Compulsory.
Di tahap ini, kemampuan peserta ‘meraba’ biji kopi sungguh diuji. Masing-masing peserta wajib menyeduh biji kopi yang disediakan panitia dan tidak mereka ketahui asal usulnya. Selama waktu persiapan selama 8 menit, peserta dibiarkan mencecap biji kopi dan mencoba teknik seduh yang mereka anggap mampu mengeluarkan rasa maksimal dari biji kopi yang tersedia. Peserta lalu diminta menyajikan 3 gelas kopi untuk tiga orang juri dalam waktu 7 menit. Dalam Compulsory Service ini, hanya cita rasa dari kopi seduhan kompetitorlah yang dinilai oleh juri cita rasa (sensory judge). Kompetitor belum perlu mempresentasikan hasil seduhannya.

Babak ‘Compulsory’ lomba seduh manual nasional (IBrC) pada ICE 2017 Western Championships, Kamis (9/2) kemarin.

Tahap kedua, adalah babak Open Service. Di sinilah Coffeemates boleh bersorak menyemangati barista andalan masing-masing sebelum dan sesudah waktu presentasi selesai. Ketika presentasi dilakukan, dimohon kalem aja. Harap diingat, ini bukan pertandingan bola.

Di tahap ini, peserta punya 5 menit waktu persiapan dan 10 menit waktu seduh dan presentasi. Kali ini, peserta lomba akan menggunakan biji kopi pilihannya sendiri untuk menyajikan 3 gelas kopi untuk tiga orang juri cita rasa (sensory judge).  Teknik seduh tidak akan dinilai. Semua cara sah-sah saja, selama alat seduhnya alat seduh manual dan hasil seduhannya ampuh bikin lidah juri bergetar.

Serunya, di sini kompetitors akan menyeduh kopi sembari mempresentasikan biji kopi yang mereka bawa dan sensasi kopi yang mereka hasilkan. Tak kurang, teknik seduh yang mereka gunakan juga akan mereka paparkan. Psst, Coffeemates, di tahap ini kalian dapat mencontek resepnya para peserta untuk kalian praktikkan di rumah.

Babak ‘Open Service’ lomba seduh manual nasional (IBrC) pada ICE 2017 Eastern Championships, Desember 2016 lalu.

Selain itu, Coffeemates, perhatikan tiap raut wajah peserta. Ada yang berusaha nampak garang dan waspada, menutupi kegugupan dengan senyum bahagia. Ada juga yang  kalut bercampur takut, dan membuat efek wajah menjadi nelangsa. Tolong, tahan tawa kalian. Mereka sudah cukup sengsara mempersiapkan semua hal untuk menyabet gelar juara.

Bagaimana tidak merana. Mereka diharapkan untuk menyajikan kopi yang sesuai dengan apa yang mereka janjikan dengan teknik yang sempurna. Sempurna, tanpa harus menumpahkan setetes air pun atau menjatuhkan peralatan. Berada di bawah tekanan dari tatapan menilai diiringi senyum manis para juri, kompetitor perlu menahan gugup untuk mengeluarkan kemampuan terbaik. Sungguh, Coffeemates, para penyeduh yang punya nyali untuk berlomba adalah jenis manusia yang patut diberikan apresiasi dan dukungan sepenuh hati.

Setelah selesai menyajikan kopinya kepada juri, kompetitor akan menutup presentasi dengan berteriak ‘TIME!’. Disitulah saat yang tepat bagi Coffeemates untuk bersorak. Dari penampilan ini, hasil seduhan dan presentasi kompetitor akan dievaluasi oleh juri cita rasa (sensory judge)  sesuai dengan acuan  penilaian dari World Brewers Cup (WBrC).

Mengilas balik teknik seduh Tetsu Kasuya, juara World Brewers Cup 2016 yang dinilai melanggar banyak sekali aturan, pada akhirnya yang juri perhitungkan adalah rasa. Tetsu menggunakan the four-six method temuannya, yang mengharuskannya berkali-kali berhenti juga menuang sambil mempresentasikan biji kopi dan teknik yang ia gunakan kepada juri. Meski menggunakan teknik yang tidak biasa, hasil akhir dari seduhannya membuat juri menilainya pantas menjadi juara World Brewers Cup 2016.

Tetsu Kasuya dengan alat seduh V60 andalannya di World Brewers Cup 2016.

Duduk di bangku penonton tidak selamanya membosankan Coffeemates.
Catat dan perhatikan. Bermodal niat dan waktu senggang yang agak kebanyakan, niscaya kelar menonton Indonesia Brewers Cup selama tiga hari Coffeemates akan mengantongi 48 resep seduh manual. Selain itu, presentasi yang dilakukan oleh peserta dapat menambah wawasan Coffeemates tentang berbagai jenis biji kopi, beserta  beragam teknik yang dapat mengeluarkan rasa otentiknya.

Dari penyisihan regional Barat ini, ajang Indonesia Brewers Cup (IBrC) di ICE 2017 Western Championships ini akan memilih 3 orang juara untuk maju ke babak semifinal dan final di bulan April nanti. Sementara Juara II & III akan bertanding di babak 24 besar nasional, peraih juara pertama di Western Championships ini akan dapat kemewahan untuk langsung bertanding di babak semifinal 12 besar tingkat nasional nanti.

Jadi, bagi Coffeemates yang berniat menambah pengetahuannya dalam dunia kopi, Indonesia Coffee Events (ICE) 2017 akan jadi tempat yang tepat bagi kamu yang ingin belajar menyeduh kopi secara serius. Siapa tahu, tahun depan kamu yang akan berdiri di hadapan para juri.

[REVISI 11 Februari 2017, pukul 23.28:
Sebelumnya, tercantum bahwa Tetsu Katsuya memenangkan WBrC 2014 & 2016.
Pemenang WBrC 2014 adalah Stefanos Domatiotis dari Yunani.]

(Tulisan oleh Lani Eleonora,
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto & suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

2 Comments

Leave a Reply