Paradoks: dua pernyataan yang bertentangan tetapi sama-sama benar dalam dirinya sendiri. Apa yang kamu bayangkan ketika bertemu kedai kopi yang menyematkan kata paradoks sebagai namanya?

“Aku ingin tempat yang kecil ini memberi impact besar bagi orang-orang yang ada di dalamnya,” kata Liez, pemilik Paradoks Space.

 

Itulah jawabannya. Tempat kecil, impact besar.

 

Liez berkisah tentang awal dia memiliki niatan membuka sebuah kedai kopi, atau kafe, sebagaimana dia akui sendiri. Bersama suaminya yang merupakan pekerja kreatif dan membutuhkan tempat untuk bertemu klien, Liez akhirnya memutuskan merintis Paradoks Space.

 

“Suamiku yang suka kopi.” ujar Liez. “Dia pengin punya kantor yang ada coffee shop biar enggak boros meeting di luar. Aku juga jadi bisa mantau kalau dia ketemu sama klien cewek, kan.” Liez tertawa.

 

Dimulai awal tahun 2017, Liez sejak awal tidak ingin berpromosi terlalu gencar untuk Paradoks. Liez mengaku lebih senang jika orang-orang yang datang ke Paradoks kelak kembali berkunjung karena rindu makanan dan minumannya, seperti salah seorang dokter yang kerap datang dan memesan seporsi nasi tuna sambal matah, signature coffee milky way, dan segelas es teh.

Kru Dapur Berdarah Muda

 

Nasi tuna sambal matah di Paradoks Space juga adalah salah satu yang kelak akan sering saya pesan ketika berkunjung kembali ke tempat ini. Menu makanan di Paradoks terhitung istimewa. Bukan hanya karena variannya cukup banyak, tetapi juga semuanya lezat dan harganya ekonomis.

 

“Menu makanan di sini sebenarnya selera aku dan suamiku, jadi benar-benar home made.” Ungkap Liez. “Aku beruntung dapat anak-anak ini (tim kitchen; red) karena mereka semua anak muda, punya ide segar dan kekinian.”

Awalnya, Liez memang merekrut sendiri kru bar dan dapur Paradoks. Namun, untuk pergantian anggota kru berikutnya hingga saat ini Liez menyerahkan kepada anak-anak muda kru Paradoks menentukan sendiri anggota baru yang akan bergabung dengan tim mereka.“Karena mereka bertemu tiap hari jadi sudah solid, mereka yang tahu orang yang paling cocok untuk bergabung dengan Paradoks.” ujar Liez.

 

 

Kopi TanpaMesin, Kopi Dengan Mesin

 

Beberapa kali main ke Paradoks, saya menikmati kopi seduh manual dengan ragam pilihan kopi Indonesia, mulai kopi dari Gunung Sindoro, Temanggung, hingga Bajawa, Flores. Namun, ketika saya menemui Liez di Paradoks pada tanggal yang dijanjikan untuk mewawancarainya, saya melihat sudah ada sebuah Promac semi-otomatis single group di meja bar.

Tentang mesin espresso, Liez punya cerita sendiri.

 

“Waktu itu pernah ada customer datang ke sini, tapi begitu lihat ternyata enggak ada mesin, langsung cabut. Atau karena lihat Paradoks tempatnya udah bagus jadi asumsinya pasti ada mesin.”Liez tertawa kecil. “Ada juga customer yang ingin foto-foto kopinya dan bagi mereka latte art itu penting. Akhirnya kami pikir mungkin perlu juga menjembatani kebutuhan mereka dengan menghadirkan mesin.”

Espresso blend yang dipakai di Paradoks saat ini berasal dari Prada Coffee. Dengan campuran robusta dan arabika, secangkir single espresso yang saya pesan terasa segar dan meninggalkan aftertaste cukup kuat.

Untuk pilihan single origin, Paradoks menyajikan kopi-kopi dari Koffiesome, toko kopi sangrai di Yogyakarta yang belakangan saya ketahui dirintis dan dikelola oleh pemenang Indonesia Aeropress Championship 2011, Damaring Kalpika.

 

Tak heran rasa kopinya pun sedap.

 

 

Jogja Rasa Jepang

 

Lain lagi Icha, kru Kopikini.com yang pada saat itu bersama saya menemui Liez di Paradoks Space. Bagi Icha, yang menarik dari Paradoks adalah interior dan fasadnya.“Jogja rasa Jepang!” seru Icha sembari meminta saya memotretnya dari tepi jalan. Dia pun berpose di luar tembok Paradoks.

Bagi saya sendiri, Paradoks adalah salah satu comfort place untuk berlaptop berlama-lama. Bukan hanya karena ruang yang kecil yang memang jadi ciri kedai kopi kesukaan saya, tetapi juga karena seduhan kopi yang enak, dan terutama karena menu makanannya yang beragam dan semuanya mengena di lidah.

 

Sebelum memakai nama Paradoks, awalnya Liez ingin menggunakan judul “Ruang Cerita”. Namun, karena kata-kata “ruang” sudah ada yang memakai, dan di waktu bersamaan kata “paradoks” seakan terus muncul secara alamiah dalam percakapan Liez dengan suaminya juga teman-temannya, akhirnya diputuskanlah Paradoks sebagai merk usaha mereka.

Untuk mengerjakan tugas, Paradoks memberikan nuansa terbaiknya di malam hari. Saya bisa menyelesaikan satu tulisan sembari menyantap nasi ayam goreng seraiyang menjadi top favorit saya dan meneguk secangkir kopi arabika Bali Kintamani, dilanjut sepiring mi goreng dengan telur. Tidak lupa seporsi sate taichan yang bumbunya pun amat terasa.

Terakhir, berbeda dari pemilik coffee shop pada umumnya yang menginginkan tempatnya ramai pengunjung, Liez justru menjaga agar Paradoks tidak ramai.

“Satu orang duduk anteng di sini buatku sudah cukup.” tutur Liez. “Daripada saking ramenya sampai aku harus nolak orang, rasanya kayak nolak rezeki.”

Paradoks memang benar-benar kedai kopi yang paradoks.

 

 

(Liputan dan tulisan oleh Bernard Batubara

Suntingan oleh Lani Eleonora

Foto-foto oleh: Kevin Aditya Prasetyo & Bernard Batubara)

 

Paradoks Space

Jalan Pandega Karya No. 20

(Jalan Kaliurang Km. 5,6)

Caturtunggal, Kecamatan Depok

Sleman, Yogyakarta

 

Hari Buka: Senin – Minggu

Jam Buka: Pukul 12.00 – 00.00 WIB

Related Post

Bernard Batubara

About Bernard Batubara

Bernard Batubara (Bara) lahir di Pontianak, kini tinggal di Yogyakarta. Belajar menulis sejak 2007 dan menerbitkan sejumlah karya fiksi. Kini bekerja sebagai penulis penuh waktu, editor lepas, dan sesekali mengisi kelas penulisan kreatif di kampus, sekolah, dan komunitas. Semenjak rutin menulis, kopi sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Selain menulis artikel lepas dan menerbitkan buku fiksi, Bara juga mengelola blog pribadi: bisikanbusuk.com.

Bara dapat dihubungi via twitter & instagram: @benzbara, atau e-mail: benzbara@gmail.com.

Leave a Reply