Coffeemates, jika kamu melihat berita beberapa tahun terakhir, kamu pasti pernah mendengar isu perubahan iklim. Hal ini, Coffeemates, tidak bisa dianggap remeh oleh kamu para penikmat kopi. Pasalnya, masalah perubahan iklim memiliki ancaman serius terhadap masa depan produksi kopi di seluruh dunia.

Jika muncul pertanyaan ‘apakah kopi bisa mengalami kepunahan?’.

Jawabannya: Ya.

Punahnya kopi adalah salah satu konsekuensi dari pemanasan global. Tingginya temperatur udara, kekeringan, tingginya curah hujan di beberapa area, peningkatan hama, bergesernya waktu pergantian musim adalah beberapa hal yang dapat mengancam pertumbuhan kopi. Terlebih, kopi arabika.

Di Indonesia, boleh jadi kopi robusta jadi juara dan kegemaran lidah sebagian besar masyarakat. Namun di dunia, kopi arabika secara keseluruhan mengambil porsi 70% dari nilai pasar kopi global. Kopi arabika terutama digemari karena rasanya yang lebih halus dan beragam. Jika Coffeemates membeli kopi specialty di kedai kopi manapun, kemungkinan besar Coffeemates sedang menikmati biji kopi arabika. Sementara, kebanyakan biji kopi robusta dapat kamu temukan dalam kemasan kopi instan.

Permasalahannya, kopi arabika jauh lebih sensitif pada kenaikan suhu. Cuaca yang semakin memanas akan menghambat pertumbuhannya, mekar bunganya, muncul buahnya, serta membuatnya lebih rentan terhadap hama kopi. Untuk tumbuh dengan baik, kopi arabika membutuhkan musim panas dan musim hujan. Perubahan masa berlangsung tiap musim karena pemanasan global menyebabkan produksi kopi harus dipindahkan ke area lahan yang cuacanya lebih stabil.

Jadi, kita tinggal memindahkan produksi kopi ke tempat lain, kan?
Tidak sesederhana itu, Coffeemates.

Pertama-tama, tidak semua negara memiliki dataran tinggi yang menawarkan iklim ideal untuk tumbuh kembang kopi. Otomatis, area tumbuh kopi di negara-negara ini akan berkurang.  Permasalahan lainnya adalah, negara yang punya lahan luas di area-area dengan ketinggian ideal pun masih punya halangannya sendiri. Indonesia, misalnya.

Dr Peter Laderach, spesialis perubahan iklim dalam Program Penelitian Perubahan Iklim, Agrikultur, dan Ketahanan Pangan (CGIAR Research Program on Climate Change, Agriculture, & Food Security) secara spesifik membahas tentang kasus Indonesia dalam penelitiannya. Laderach menjelaskan, meskipun Indonesia dapat memindahkan kebun-kebun kopi yang ada ke tempat yang lebih tinggi, wilayah pegunungan atau dataran tinggi tersebut kebanyakan sudah jadi tempat tinggal masyarakat adat. Selain itu, banyak pula wilayah pegunungan di Indonesia yang jadi tempat konservasi lingkungan.

Jika kebun kopi dipindahkan ke tempat-tempat tersebut, tidak sulit untuk membayangkan betapa banyak pohon yang perlu ditebang dan ekosistem yang dikorbankan demi membuat ruang. Tentunya, penebangan hutan akan menambah efek pemanasan global. Alhasil, produksi kopi Arabika Indonesia sendiri diperkirakan akan menurun sebesar 37% per tahun 2050. Sejak lima tahun terakhir, penurunan produksi kopi Indonesia sudah mulai terasa.

Menurut prediksi dari Ketua Umum AEKI Irfan Anwar pada April 2016 lalu, produksi kopi arabika tahun 2016 hanya sekitar 600ribu ton. Turun dari 620ribu ton di tahun 2015 dan kontras dengan angka 720ribu ton di tahun 2012.

Kopi arabika, khususnya, lebih rentan akan serangan hama dan perubahan cuaca dibanding kopi robusta.

Di seluruh dunia, penurunan produksi ini akan drastis terjadi jelang tahun 2050. Penelitian gabungan International Center for Tropical Agriculture yang turut melibatkan Laderach dan menemukan produksi kopi di Brazil, Vietnam, Indonesia dan Kolombia—negara-negara penghasil kopi yang memenuhi lebih setengah dari persediaan dunia Arabika—akan mengalami penurunan produksi besar-besaran di tahun 2050 jika tidak ada yang dilakukan untuk mencegah hal ini terjadi.

Jelas, jumlah produksi kopi akan memberi dampak ekonomi. Kopi adalah komoditi terbesar kedua yang diperdagangkan di dunia setelah minyak, dan memiliki keuntungan jutaan dollar bagi tiap negara yang memproduksinya. Melibatkan kerja 25 juta petani di seluruh dunia, kebun kopi jadi tumpuan ekonomi bagi lebih dari 60 negara berkembang yang terletak di wilayah tropis. Turunnya produksi dapat menyebabkan kerugian bagi tiap negara, dan tidak menutup kemungkinan akan menyebabkan krisis ekonomi.

Sulitnya, tidak ada solusi kilat untuk ini semua. Jika menanam kebun kopi jadi pilihan utama, Laderach menekankan bahwa tindakan ini harus dimulai dari sekarang.

“Akan makan waktu tiga sampai lima tahun sebelum kita dapat memanen kopi untuk pertama kalinya,” papar Laderach, dikutip dari guardian.com. “Proses awal ini cukup lama. Inilah kenapa kami bersikeras bahwa sangat krusian bagi kita untuk merancang strategi mulai dari sekarang.”

Laderach lalu menambahkan, bahwa dalam menghadapi tantangan yang besar ini, butuh kerja sama yang kuat dari kaum petani, peneliti, pemerintah, dan pemilik usaha kopi.

Salah satu peserta kegiatan tanam ulang hutan yang diselenggarakan Klasik Beans di Gunung Puntang, Desember 2016 lalu. Acara ini dihadiri ribuan pengunjung dari berbagai kalangan, melibatkan pekerja industri kopi maupun warga sekitar.

“Perubahan iklim akan memberikan dampak yang luar biasa besar,” Laderach memperingatkan. “Kami perlu menekankan bahwa semua orang harus bekerja sama, atau semua orang akan berakhir merugi.”

Bukan sekedar soal menikmati kopi di pagi hari, Coffeemates. Ini juga soal pilar ekonomi global yang menjadi alasan tambahan bagi kita berusaha lebih baik untuk menjaga lingkungan.

Pastinya, selama tidak ada hal apapun yang dilakukan untuk menghentikan perubahan iklim, tidak butuh waktu lama bagi kita untuk harus membayar lebih mahal untuk menikmati secangkir kopi.

(Disadur dari tulisan ‘Is Climate Change Going To Stop You From Enjoying Coffee’ oleh Pat dalam blog.beanhunter.com, & ‘Coffee catastrophe beckons as climate change threatens arabica plant’ dalam the guardian.com.

Tulisan oleh Lani Eleonora & Klara Virencia;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto oleh Andreansyah Dimas.)

 

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply