Biji kopinya—sumpah—persis sama. Kau beli langsung dari kedai kopi yang kau kunjungi tadi pagi.

Di kedai tadi, rasanya sensasional. Bisa gitu ya kopi? Ada manis yang tegas di ujung lidah, sedikit pedas-pedas ala rempah, ditutup wangi nangka di ujung tenggorokan. Tergoda, kau membeli dua bungkus sekaligus. Kau catat baik-baik resep seduh si barista. Saat beranjak pulang, sumringah si barista belum hilang juga.

Tapi begitu kau coba seduh di rumah—kok rasanya mendem.

Persis inilah pertanyaan yang sering sampai ke telinga Aang Sunaji dari Origin.co. Mudah saja untuk mengira metode seduh atau ‘tangannya emang beda’ sebagai alasan utama. Namun rupanya, penyebabnya bisa jauh lebih sederhana namun sering terlupakan: airnya beda.

Demi berbagi penemuan inilah komunitas Ngesselin mengadakan sesi Cupping Lucu Bersama Kami—alias CLBK bertema cupping air. Acara CLBK yang diadakan dalam rangkaian Pesta Kopi Mandiri, Sabtu (29/4) lalu ini memperlihatkan bagaimana air yang berbeda menghasilkan rasa kopi yang berbeda pula.Dengan biji kopi, resep, serta metode seduh yang sama persis, lima gelas kopi yang terpampang di depan diseduh dengan lima merk air yang berbeda.

Lima kopi dengan air seduhan yang berbeda.

Biji kopi yang dipakai adalah biji kopi Panama Geisha dengan varietas yang serupa dengan biji kopi andalan finalis World Barista Championship 2016 Lem Butler: Panama Geisha Finca Nuguo. Kopinya kopi pilihan barista lomba. Konsisten? Niscaya.

Dari kanan ke kiri, berjejerlah hasil seduhan dengan air keran yang difilter, Cleo, Aqua, Chromatic, dan A+. Satu per satu peserta maju ke depan ruangan dan mencoba hasil seduhan dari lima gelas tersebut. Nyatanya, memang beda.

Salah satu peserta mengaku ia paling suka dengan rasa kopi yang diseduh dengan menggunakan air filter. Sebagai pembawa acara, Aang Sunaji lalu menjelaskan bahwa perbedaan rasa-rasa kopi ini muncul dari bedanya kadar mineral dari masing-masing air. Air tanah yang difilter cenderung lebih kaya mineral dari air kemasan. Namun, Aang mengingatkan, kandungan mineral dalam air dari masing-masing daerah pastinya akan berbeda.

Selain air kemasan yang biasa kita temukan di pasar swalayan, ada pula air kemasan yang secara khusus dimodifikasi mineralnya. Hasilnya, kopi Panama Geisha yang identik dengan rasa ‘lembut seperti teh’ terasa lebih tegas di lidah. Aang mengumpamakan, efeknya seperti membesarkan volume suara ketika mendengarkan musik.

Aang Sunaji dari Komunitas Ngesselin tengah memandu CLBK bertema cupping air.

Tampil Nyeleneh a la Ngesselin

Tampil nyeleneh lewat nama dan sosial medianya, komunitas Ngesselin ini memiliki misi untuk mengundang masyarakat umum untuk ngopi dengan cara yang menyenangkan.

“Jadi kendala yang biasa kita hadapin adalah orang awam engin tahu tapi mereka sungkan untuk datang ke acara cupping dan sebagainya—karena menganggap ‘ah, gua enggak ngerti’,” ujar Andrew, salah satu pendiri komunitas Ngesselin. “Nah, itu yang kayak gitu-gitu yang kita pengin ilangkan.”

Andrew menambahkan, kelas cupping CLBK yang beberapa kali diadakan sebelumnya pun hampir selalu penuh. Umumnya menggunakan kopi Geisha, komunitas Ngesselin ingin mengenalkan pengalaman ngopi enak dengan cara yang santai.

Merupakan singkatan dari ‘NGopi Enak SErpong menggeLINjang’, komunitas Ngesselin beraspirasi jadi tempat berkumpul orang-orang kedai kopi di daerah BSD, Gading Serpong, dan Alam Sutra.

Sesi CLBK di Pesta Kopi Mandiri menjadi sesi cupping terakhir yang diadakan komunitas Ngesselin. Selain dari sesi cupping, komunitas Ngesselin juga berencana mengadakan perlombaan pada akhir September tahun ini. Bekerjasama dengan ABCD School of Coffee, Andrew menjanjikan acara dari komunitas Ngesselin kali ini akan hadir dengan skala ‘besar’.

(Liputan, tulisan, & suntingan oleh Klara Virencia;

Foto-foto oleh Klara Virencia;
suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply