Hari Minggu (18/12) tepat pukul 10.00 pagi, Sekar Jambu Garden sudah dipenuhi dengan aroma kopi. Panas terik tidak menurunkan niat para penonton untuk segera menyaksikan coffee competition di acara kopi terbesar di Pulau Dewata yang diadakan untuk pertama kalinya, Bali Coffee Festival.

Dilatarbelakangi oleh maraknya “demam nongkrong di kedai kopi”, Bali Coffee Festival menjadi wadah untuk para pencinta kopi agar lebih mengenal keunggulan produk daerah sendiri. Bagi para barista di Bali, acara Coffee Competition ‘V60 & Latte Art Smackdown’ pun menjadi ajang menunjukkan keahlian.

Bali Coffee Festival juga lahir dari pemikiran dasar bahwa kopi Bali asli memiliki keunggulan yang tidak kalah dari kopi-kopi daerah lainnya. Berasal dari ketinggian 1.000-1.100 mdpl dan diproses secara natural, kopi Bali Wanagiri (Buleleng) menjadi bahan dasar untuk kompetisi V60 Smackdown. Lewat keistimewaan teknik roasting yang memakan waktu relatif lama oleh jajaran panitia dari komunitas Canggu Brewers, Bali Wanagiri hadir dengan rasa dominan buah cherry.

“(Kami—red) ingin memperlihatkan kepada masyarakat bahwa beans dari Bali bukan hanya Kintamani saja yang memiliki banyak keunggulan,” ujar Bli Gung, salah satu panitia yang bertanggung jawab atas pemanggangan biji kopi. “Masih banyak beans-beans Bali lainnya yang memiliki keunggulan yang tidak kalah dari Kintamani. Contohnya, ya, Bali Wanagiri ini.”

Para juri V60 Smackdown, dalam menentukan pilihan latte art yang lolos ke babak selanjutnya.

Jajaran juri V60 Smackdown, kiri ke kanan: Rifka (BC Street coffee), Edo (Hungry Bird Coffee), Andi Fachri (Juara II IBrC Eastern Championships 2017).

Jajaran juri Latte Art Smackdown, kiri ke kanan: Rifka (BC Street Coffee), Restu Sadam (Hungry Bird Coffee, Juara I ILAC Eastern Championships 2017), Edo (Hungry Bird Coffee, Juara I Indonesia Aeropress Championships 2016).

Para Juri V60 Smackdown, saat memilih satu hasil V60 untuk lolos ke babak selanjutnya. Kiri ke kanan: Decky (Simply Brew Coffee), Michail Seno (Eleven Elephants Canggu, Juara I IBrC Eastern Championships 2017), Rifka Hamanda (BC Street Coffee, sensory judge ICE Eastern Championships 2017).

Para Juara ‘V60 Smackdown
Dengan total peserta 27 orang, dimulailah kompetisi V60 Smackdown pagi itu. Setelah melewati 3 sesi babak penyisihan, maka terpilihlah 3 juara ‘V60 Smackdown’ Bali Coffee Festival 2016.

Berikut 3 barista pemenang ‘V60 Smackdown’ Bali Coffee Festival 2016:

1) A.A Gede Jisnu Anindya asal Starbucks Lippo Mall, Juara III
Posisi ketiga dalam kompetisi V60 Smackdown justru membuat A.A Gede Jisnu Anindya, atau yang akrab disapa Jisnu, sangat senang. Pasalnya, ini kali pertama ia mengikuti ajang kompetisi kopi dan langsung bisa menduduki posisi juara. Menekuni bidang selama 6 bulan membuat Jisnu yakin untuk menggunakan suhu air dibawah 90 derajat, walaupun beans yang digunakan terbilang cukup padat.

Ngerasa yakin aja, sih, make suhu air 80 derajat. Karena selama latihan yang pas di lidah, ya, dengan suhu tersebut,” ucap Jisnu.

(Pojok kanan) Juara 3 V60 Smackdown, AA. Gd. Jisnu Anindya.

2) Agus Firman Danny asal Sensa Coffee, Juara II
Tidak jauh berbeda dari pemenang ketiga, barista yang akrab disapa Danny ini memilih suhu seduh di 82 derajat. Rasio 1:14 dan masa latihan yang terbilang cukup singkat, yakni kurang lebih selama 2 hari, membawa Danny duduk manis di posisi kedua.

(Pojok Kiri) Juara 2 V60 Smackdown, Agus Firman Danny.

3) Sugeng Wahyono asal Sensa Coffee, Juara I
Ini kali pertama Sugeng mengikuti kompetisi kopi. Walaupun hanya memiliki waktu intens latihan selama dua hari, Sugeng tidak lantas kehilangan kepercayaan dirinya.

“Sebenernya nggak nyangka bisa menang peringkat pertama dalam kompetisi ini,” ujar barista yang memulai karirnya ‘baru’ dari awal April kemarin. “Dari itu semua, saya puas dengan hasil perhitungan waktu yang saya gunakan, yakni 2 menit 20 detik dan menggunakan suhu 81 derajat.”

Juara 1 V60 Smackdown, Sugeng Wahyono.

Juri Kepala Rifka Hamanda, yang berpengalaman menjadi sensory judge dalam ajang Indonesia Brewers Cup ICE 2017 awal Desember lalu, pun membenarkan bahwa maupun teknik brewing dan suhu yang dipergunakan pun sangat mempengaruhi rasa yang akan diciptakan oleh para peserta.

Para Juara ‘Latte Art Smackdown

Seiring keseruan V60 Smackdown Competition, kompetisi Latte Art Smackdown pun berlangsung sengit. Para juri sangat mementingkan kesimetrisan dalam art yang dibuat oleh peserta. Selain itu, kualitas crema dilihat dari warna espresso serta ada tidaknya gelembung (bubbling). Hal tersebut dipaparkan langsung oleh salah satu juri yang telah menjadi senior trainee barista di Simply Brew, Decky Mulyawan.

Dalam pertandingan latte art yang terdiri dari 32 peserta, dan telah dibagi menjadi 16 grup yang terdiri dari 2 orang pada setiap grupnya, telah menemukan ketiga pemenang pada pukul 4 sore WITA.

Berikut 3 barista pemenang ‘Latte Art Smackdown’ Bali Coffee Festival 2016:

1) Sang Made Jiwatmika asal Grain Coffee, Juara III
Kemampuan melukis latte art swan dan tulip membawa made meraih posisi ketiga. Art swan pun menjadi pilihannya dalam kompetisi Latte Art Smackdown ini.

“Masih grogi banget, padahal sudah dapat latte art yang swan,” jelas barista yang sudah menekuni dunia kopi selama satu setengah tahun ini. “Maklum, baru pertama kali ikut kompetisi.”

Sang Made Jiwatmika, Juara 3 Latte Art Smackdown.

2) Dwiki Pramudito asal Pison Coffee, Juara II
Barista dari Pison Coffee ini kembali menunjukan keahliannya dalam kompetisi latte art. Sebelumnya, ia telah menjadi 4 besar dalam event bergengsi ICE 2017 yang diadakan tanggal 2 Desember lalu. Walaupun begitu, barista yang akrab disapa Dwiki ini tidak cepat besar kepala.

“Dari kompetisi sebelumnya, saya banyak mendapatkan pelajaran,” ujar Dwiki. “Bersyukur sekali, karena artinya ada perkembangan dari latte art yang saya buat hingga sudah bisa menduduki peringkat kedua kali ini.”

Kali ini, Dwiki memilih untuk membuat ‘rose’ dalam latte art-nya.

Dwiki Pramudito, Juara 2 Latte Art Smackdown.

3) Komang Ariadi maju independen, Juara I
Walaupun menduduki peringkat pertama dalam kompetisi Latte Art Smackdown, Komang Ariadi atau yang sering disapa Ari ini mengaku mengalami sedikit kesulitan menyesuaikan takaran yang pas dalam cangkir yang telah disediakan. Pasalnya, Ari yang sekarang bekerja di salah satu hotel di Bali ini mengaku lebih terbiasa menggunakan cangkir berukuran kecil ketimbang cangkir yang besar seperti di kompetisi ini. Sempat menjadi salah satu peserta ILAC dalam ajang ICE 2015, Ari membuat latte art triple swan dengan sempurna.

“Tidak menyangka bakalan dapat posisi pertama dalam kompetisi ini,” ujar mantan barista Living Stone Café ini dengan antusias. “Sangat senang, padahal latihan pun cuman sekali dua kali kalau ada kesempatan di hotel.”

Komang Ariadi dalam babak penyisihan sesi ketiga

Komang Ariadi (kanan) dalam babak penyisihan sesi ketiga Latte Art Smackdown.

Komang Ariadi, Juara 1 Latte Art Smackdown.

Terpilihnya para juara dari ‘V60 & Latte Art Smackdown’ ini otomatis menutup acara Coffee Competition yang diadakan oleh Bali Coffee Festival dan Canggu Brewers tepat pada pukul 6 sore. Namun, festival kopi yang diadakan masih terus berlanjut, dengan antusiasme para pengunjung yang notabene hadir sebagai pecinta kopi dan barista ini sampai tepat pukul 22.00 WITA. Acara pun diakhiri dengan penampilan memukau dari Roby Navicula.

Di perhelatan perdananya ini, Bali Coffee Festival sukses memikat hati pengunjung. Salah satu pengunjung, Sasha, melihat antusiasme peserta kompetisi sebagai pertanda baik. Sebagai penikmat kopi, jajaran stand kopi di Bali Coffee Festival khususnya menjadi perhatian Sasha.

“Semoga lebih banyak coffee shop yang ikut berpartisipasi dalam festival ini untuk ngebuka stand-nya,” ucap Sasha, mengutarakan harapan untuk Bali Coffee Festival ke depannya.

 

(Liputan & tulisan oleh Irma Purnama;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto oleh Budianto Aris;
suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.)

Irma Purnama

About Irma Purnama

Saya adalah seorang yang baru mendalami dunia barista selama kurang lebih 6 bulan. Kesibukan saya selain menjadi barista di salah satu coffee shop di daerah Seminyak ialah menulis. Hal-hal yang saya tulis kebanyakan mengenai esai dari suatu hal yang saya lihat dan menuliskannya kembali ke dalam blog saya. Dari hobi ngopi, saya ingin belajar lebih mengenai kopi. Hal itulah yang melatarbelakangi mengapa saya ingin menjadi barista.

Leave a Reply