Untuk mereka yang baru buka kedai kopi, balada hari pertama bisa jadi suspens tersendiri. Dimas Indro, sosok di balik terbangunnya Pescara, membagi kisah di balik minuman pertama yang ia buat.

“Hari pertama gue serve lychee ice tea, itu gue stres,” ungkap Dimas Indro. ”Gue nggak pernah serve minuman ke orang.”

#71_Indro1

Dimas Indro, memulai Pescara sebagai pemula.

Akrab dipanggil Indro, ia bukan orang baru di dunia usaha. Maris, pojok ritel yang ia dirikan lebih dulu, berdiri tepat di belakang Pescara. Namun, kedai kopi terbukti punya tantangannya sendiri. Apalagi untuk dirinya dan rekan-rekannya—Tamish Aswani, Giorgi Krisno, dan Jeremy Katianda—yang belum pernah sentuh kopi sama sekali.

DSC_0272

DSC_0275

“Gue sama partner-partner gue nggak ada background FNB (food and beverage—makan dan minuman) sama sekali,” Indro mengaku.

Demi ‘kejar setoran’, Indro tidak segan-segan maraton kedai kopi 10 hari sebelum buka kedainya sendiri. Di setiap kedai, ia ngotot menyicipi espresso meski dirinya bukan peminum kopi kelas wahid.

Basically gue nggak pernah minum espresso sekalipun,” ujar Indro, buka-bukaan. Dalam waktu singkat itu, lidahnya kian terbiasa membedakan rasa asam, manis, pahit, dan variasi aroma yang ada di espresso. Ia kian sadar ada racikan rasa yang berbeda di setiap kafe. Alhasil, dari hari pertama sampai dua bulan berikutnya, Pescara dijalankan langsung oleh tangannya.

DSC_0268

DSC_0267

Serba dari nol, Indro bahkan membangun Pescara dengan bahan-bahan mandiri. Selain minimalis dari segi nuansa dan ukuran, proses pembangunannya juga tak kalah ringkas. Indro memanfaatkan semua sumber daya yang ia punya.

“Ini sederhana banget ya. Ini semua minimalis, jadi yang ngerjain pun tukang rumahannya istri gua dari kecil,” ujar Indro.

Meja kayu panjang yang menempel di dua sisi ruangan pun bermodal bahan-bahan yang ia punya sendiri.

“Kebetulan mertua gua  nanem pohon. Dan pas banget dia lagi panen. Akhirnya jadi ini meja, nih.”

Namun cita rasa memang tak bisa dipungkiri. Tempat duduk boleh terbatas, namun sentuhan serat kayu yang tersisa berhasil memberikan kesan mewah. Di bawah komando seorang barista, bar kopi Pescara apik menempati sudut ruangan tanpa membuat sesak.

DSC_0258 DSC_0292

Terletak persis di depan Maris, Pescara seolah ada khusus untuk mereka yang hendak singgah sehabis berbelanja. Meski awalnya berdiri untuk mengisi lahan kosong semata, Pescara yang unjuk gigi sebagai ‘kedai kopi’ pun kian mengundang hasrat para rakyat kopi untuk datang bertandang. Gelagat mereka sudah bisa diduga oleh Indro. Jika menangkap gerak-gerik berikut ini, Indro spontan siap siaga.

“Mereka pertama nanya kita punya house blend atau nggak. Terus mereka nanya ini beansnya dari mana. Terus mereka komentar tentang mesinnya. Terus mereka minta nggak hanya latte atau cappuccino,” papar Indro, setengah tertawa. “Mereka minta espresso, mereka minta machiato, mereka minta piccolo—menurut gua orang nggak common untuk pesen itu.”

Teror itu berlangsung selama dua minggu pertama.
Kini Pescara masih berdiri tegak, dan akan menghadirkan menu makanan baru dalam waktu dekat.

DSC_0270_resized

Pescara Coffee
JL.Kramat Pela No.42
Gandaria, Jakarta Selatan

Hari buka: Setiap hari
Jam buka: Pukul 08.00 – 21.00

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply