Sabtu (11/6) kemarin, Menteri Thomas Lembong meresmikan program ‘Dengan Bangga Menyeduh Kopi Papua’ yang ditujukan untuk mengedukasi petani. Melibatkan sejumlah pemerhati kopi di Jakarta, program ini memberikan edukasi mengenai teknik budidaya, pengolahan pascapanen, dan pemasaran.

Kepala Pusat Penanganan Isu Strategis Kemendag Ni Made Ayu Marthini mengamini pentingnya edukasi dan dukungan sarana dan prasarana bagi petani kopi.

“Para petani kopi di Indonesia juga harus mengetahui harga kopi di pasaran agar nilai jualnya tinggi sehingga petani dapat lebih sejahtera,” tuturnya. Banyak petani kopi lokal yang tidak mengetahui harga jual kopi di pasaran. Harga coffee cherries-nya jarang dibicarakan. Padahal, banyak petani yang dibayar dalam bentuk buah untuk produk kopinya.

#48_papuacoffee_kinciakincia(dot)com

Foto: kinciakincia.com

Selain itu, petani juga seharusnya mengetahui bahwa rasio yang dihasilkan pemrosesan buah kopi menjadi biji kopi mentah (green bean) adalah 7 banding 1. Artinya, setiap 7kg buah kopi menghasilkan 1kg biji kopi mentah. Harga buah (coffee cherries) dan biji kopi yang dijual oleh para petani kopi saat ini terbilang masih rendah.

Made mencontohkan, di Kabupaten Dogiyai, para petani tidak menjual kopi dalam bentuk buah. Kopi dijual dalam bentuk biji yang sudah disangrai (roasted beans) atau kopi bubuk, dengan harga Rp 30.000-35.000/kg. Sedangkan ada petani di Jawa Barat yang menjual buah kopinya seharga Rp 7.000-8.000/kg.

“Sudah sepantasnya petani kopi memperoleh harga yang lebih tinggi untuk memberi nilai ekonomi yang baik bagi petani,” jelas Made.

#49_farmer&greenbeans_six8coffee(dot)com

Petani kopi dan biji mentah (green beans). Foto: six8coffee.com

Made berharap, kopi Papua bisa menembus pasar ekspor dalam tiga tahun ke depan dan dapat disajikan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua tahun 2020.

Disadur dari kemendag.go.id & kompas.com

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply