TOCCATA AND FUGUE

IN D MINOR BWV 565.

Tulisan tersebut terukir di sebuah papan kayu selebar 60 x 30 cm yang terpasang di dinding dekat pintu masuk sebuah kedai kopi. Papan itu seketika mengingatkan saya pada momen tepat setahun lalu ketika menulis Jika Aku Milikmu-novel yang bercerita tentang seorang gadis violinis asal Pontianak. Saya mendengarkan cukup banyak gubahan Bach saat menulis novel tersebut. Pergi ke sebuah kedai di Yogyakarta dan menemukan papan bertuliskan judul gubahan Bach tentu saja membuat saya membayangkan siapa pemilik kedai ini.

Beruntung, saat kali pertama datang ke PITUTUR-kedai dengan papan bertuliskan judul gubahan Bach-saya langsung bersua dengan sang pemilik: Ponco. Pada kesempatan pertama saya hanya memesan kopi dan mengobrol sebentar. Kami bertemu kembali seminggu kemudian untuk berbincang lebih panjang tentang PITUTUR. Saya bertanya mengenai papan bertuliskan gubahan Bach itu.

“Itu salah satu karya Johann Sebastian Bach yang aku suka,” Ponco mengaku. “Lagu itu juga sebenarnya simbol sindiran terhadap pemerintah Jerman waktu dulu pernah melarang kopi karena takut konsumsi bir terancam.”

Tak heran Ponco fasih bicara tentang tokoh musik klasik dan sejarahnya, karena dia memang mempelajari hal tersebut di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sebagai pencinta dan akademisi, Ponco sempat menggarap blog pribadi khusus memuat ulasan-ulasan acara musik klasik. Kesenangannya menulis juga dia susupkan ke dalam visi kedainya.

PITUTUR, singkatan dari “Kopi, Tulisan, dan Kultur” mulai beroperasi 26 September 2016. Bukan tanpa alasan Ponco menggunakan Pitutur-nama yang sangat apik-sebagai tajuk kedainya, tetapi dia memang menyukai tiga hal tersebut. Terlihat dari pilihan kopi yang disajikan, buku-buku yang banyak di rak besar di satu sisi dinding kedai, dan acara-acara kebudayaan yang dia helat di tempatnya.

“Pitutur itu artinya petuah.” ujar Ponco.

Ragam kopi lokal di PITUTUR memang lebih sedap diteguk sembari membaca buku-buku di sana, yang ternyata merupakan koleksi pribadi Ponco. Saya melihat Eka Kurniawan, Haruki Murakami dan Pramoedya Ananta Toer berjejer rapi. Terdapat pula buku-buku nonfiksi.

 

“Waktu bikin tempat ini, aku ingin orang enggak hanya minum kopi, tapi aku ingin kopi jadi pemancing orang-orang untuk menulis.” kata Ponco. “Aku sendiri lebih senang membaca.”

Alas Kaki dan Lukisan-Lukisan

Selain papan kayu bertuliskan judul gubahan Johann Sebastian Bach, hal pertama yang saya rasakan tatkala melangkahkan kaki ke ruangan dalam PITUTUR adalah saya merasa sedang masuk ke rumah seorang teman. Pasalnya, saya harus melepas sepatu ketika masuk. Di luar pintu terdapat sebuah rak sepatu, di atasnya tertulis jelas: ALAS KAKI HARAP DILEPAS. Alhasil, alih-alih berada di sebuah coffee shop, saya lebih merasa sedang ngopi di rumah teman.

“Aku pengin sesuatu yang rasanya rumah.” Ponco mengonfirmasi perasaan saya. “Itu sebabnya pas cari tempat pun aku penginnya bangunan rumah.”

Butuh waktu tak kurang dari dua tahun untuk Ponco menemukan rumah yang kemudian dia jadikan PITUTUR. Dia mengaku niat awal membuat kedai karena ingin menyediakan tempat eksibisi bagi teman-teman sesama mahasiswa seni.

“Di sana (kawasan sekitar ISI; Institut Seni Indonesia Yogyakarta) kalau kita bikin pertunjukan seni, mereka udah biasa lihat, jadi enggak begitu kagum lagi.” ujar Ponco. “Tapi ketika kubawa teman-teman ke Jogja kota sini, yang nonton pada suka. Jadi aku rasa tempat ini cocok buat acara seni.”

Dinding-dinding PITUTUR dipenuhi lukisan-lukisan. Apapun yang Ponco letakkan di PITUTUR-buku-buku, lukisan-lukisan, dan papan kayu tanda kekagumannya pada sang maestro musik klasik-membuat saya menyimpulkan tempat ini adalah ruang ngopi yang nyaman dan nyeni.

Bermula dari Bali Kintamani

Lantas, bagaimana dengan kopinya?

Saya memesan secangkir Batak Tolu yang diseduh dengan Aeropress. Karena PITUTUR terasa seperti rumah, saya ingin meneguk kopi yang sempat selama sebulan setiap hari saya seduh di rumah orangtua kala pulang kampung lebaran silam. PITUTUR menyajikan ragam metode seduh manual dan espresso menggunakan ROK. Kopi-kopi yang disajikan hampir seluruhnya kopi Indonesia, kecuali satu toples yang pada saat itu berisi biji kopi Ethiopia, meski tetap disangrai oleh rumah sangrai di Yogyakarta.

Ponco, pemilik PITUTUR

“Pikiranku berubah tentang kopi waktu pertama minum Bali Kintamani di Otentik Kopi (nama kedai di Yogyakarta; red),” kenang Ponco.

Semakin lengkap meneguk kopi di PITUTUR dengan sepotong brownies keju produksi rumahan. Ongkos? Tak sampai 30 ribu rupiah untuk dapat menikmati secangkir kopi saring plus kue enak. Yogyakarta memang istimewa.

Meski berbisnis, Ponco tetap menghadirkan kegiatan-kegiatan kebudayaan di kedainya. “Kalau jualan tok rasanya hampa.” kata Ponco. “Sama seperti hidup di dunia tulisan tapi gak menulis, gak enak juga rasanya di musik tapi enggak bermusik.”

 

Pertanyaan terakhir saya kepada Ponco: “Kenapa rumah?”

Ponco menjawab: “Mungkin kuncinya ada di kata pulang, bukan balik. Aku bukan berharap mereka (customer; red) datang ke sini untuk beli lagi, tapi mereka itu pulang. Kita ingin bilang, ke mana pun kalian pergi kita di sini selalu menunggu kalian kembali.”

Satu hal yang jelas, ke mana pun saya pergi mencari kopi, saya akan selalu ingin kembali ke PITUTUR KOPI.

 

 

(Liputan dan tulisan oleh Bernard Batubara

Suntingan tulisan oleh Lani Eleonora

Foto-foto oleh Khariza Agatha & Bernard Batubara

Suntingan foto oleh Andreansyah Dimas)

Pitutur Kopi

Jalan Bausasran No. 60

Bausasran, Danurejan, Purwokinanti

Pakualaman, Yogyakarta

 

Hari Buka: Senin – Minggu

Jam Buka: Pukul 16.00 – 00.00 WIB

Related Post

Bernard Batubara

About Bernard Batubara

Bernard Batubara (Bara) lahir di Pontianak, kini tinggal di Yogyakarta. Belajar menulis sejak 2007 dan menerbitkan sejumlah karya fiksi. Kini bekerja sebagai penulis penuh waktu, editor lepas, dan sesekali mengisi kelas penulisan kreatif di kampus, sekolah, dan komunitas. Semenjak rutin menulis, kopi sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Selain menulis artikel lepas dan menerbitkan buku fiksi, Bara juga mengelola blog pribadi: bisikanbusuk.com.

Bara dapat dihubungi via twitter & instagram: @benzbara, atau e-mail: benzbara@gmail.com.

Leave a Reply