Coffeemates, kali berikutnya kamu melipir ke kedai kopi, coba perhatikan ada berapa banyak orang yang duduk diam sambil bekerja. Bukan pemandangan langka jika setidak-tidaknya ada 3 meja yang membuka laptop atau buku catatan sambil terlihat fokus berpikir.

Kedai kopi, tak seperti bar atau terlebih lagi lantai dansa, kerap menjadi tempat pilihan untuk menyelesaikan pekerjaan. Terutama bagi para pekerja lepas, yang kantornya bisa di mana saja.

Kenapa kedai kopi?

Bernard Batubara, penulis novel best seller Radio Galau FM, pun pernah mengaku bahwa kebisingan kedai kopi justru membantunya bekerja. Ketika harus menulis, ia lebih memilih kedai kopi dibandingkan kamarnya. Suasana kamar yang hening dan nyaman justru membuatnya ingin tertidur. Sementara, kedai kopi memiliki kadar kebisingan yang tepat untuk menyelesaikan buku-bukunya.

“Dan di satu titik tuh aku sempat sadar, bahwa hal yang paling aku dapatkan dari coffee shop itu—selain inspirasi dan kemungkinan-kemungkinan yang datang dari orang-orang asing yang ada di sini—itu adalah suara-suara, suara musik, suara orang chit-chat di belakang ini, gitu,” Bara mengakui.

Dalam rangka mempelajari efek suara dalam berpikir kreatif, peneliti di University of Illinois memberikan berbagai level suara latar belakang kepada objek penelitian. Hasilnya, ditemukan bahwa suara ruang yang biasa terdapat di kedai kopi atau ruang keluarga ketika televisi menyala adalah sekitar 70 desibel. Sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan suasana hening di kamar, yang sekitar 50 desibel.

Sedangkan level suara yang lebih tinggi—sekitar 85 desibel—seperti suara blender atau gilingan sampah dianggap terlalu mengganggu menurut para peneliti. Hasil dari penelitian ini pun kembali diamini oleh Bernard Batubara.

“Suara orang buka pintu, itu tuh jadi suara latar yang bikin aku tetap melek, tapi tidak mengganggu aku untuk menulis. Kalo misalnya aku menulis di kos terlalu hening, kan,” ungkap Bara. “Aku gak bisa, kalo hening banget aku enak gitu, enaak, ngantuk jadinya kan. Kalo di tempat yang sangat hectic juga gak bisa. Karena pikiran ku terdistraksi oleh suara-suara itu yang mengganggu.”

Bernard Batubara, penulis novel bestseller Radio Galau FM, mengaku suasana terlalu hening justru bikin ngantuk.

Ravi Mehta, asisten profesor yang terlibat dalam penelitian tersebut mengatakan, keheningan yang ekstrem cenderung menajamkan fokus dan menghambatmu berpikir di ranah abstrak.

Bagaimanapun, keuntungan dari suara-suara ’latar belakang’ ini hanyalah cocok untuk pekerjaan-pekerjaan kreatif. Menurut Dr. Mehta, pekerjaan yang memerlukan perhatian penuh pada detail—seperti mengoreksi esai atau membuat salinan pajak—justru memerlukan lingkungan yang hening.

Saking populernya kedai kopi sebagai tempat untuk menyelesaikan pekerjaan, Coffeemates, sampai ada situs yang khusus menyediakan suara bising ala kedai kopi. Terinspirasi dari penelitian-penelitian yang menunjukkan “efek suara latar belakang dengan tingkat kebisingan yang sedang itu kondusif untuk berpikir kreatif”, situs bernama Coffitivity tersebut menyediakan klip-klip suara yang memadukan suara mesin espresso dan pembicaraan antar pecandu kafein di dalam kafe.

Kini kita tahu, Coffeemates, bahwa romansa antara penulis dan kopi ada bukan cuma karena minumannya. Nuansa yang dibangun dalam sebuah kedai kopi juga membantu para pekerja kreatif untuk terus berkarya. Dalam buku memoar A Moveable Feast, Novelis Amerika Ernest Hemingway bahkan pernah menyebutkan suasana kedai kopi di Paris sebagai bagian dari ritual menulisnya semasa muda.

“Kafe yang menyenangkan, hangat, bersih, dan bersahabat,
dan aku mengeringkan jaket hujan tuaku di gantungan
dan menaruh topi lusuhku di atas kursi,
dan memesan secangkir cafe au lait.

Pelayan mengantarkannya,
dan aku mengeluarkan buku catatan dari kantong jaketku
dan juga sebuah pensil
dan lalu mulai menulis.”

Ernest Hemingway

(Disadur dari fastcompany.com, well.blogs.nytimes.com,
& scientificamerican.com.

Tulisan oleh Lani Eleonora;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto Bernard Batubara oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

One Comment

Leave a Reply