Laki-laki 1: “Kalo lo ketemu Raisa, lo mau ngomong apa?”
Laki-laki 2: “Raisa, ngopi yuk!”

Kemudian Raisa menyahut dari meja sebelah, “Ayok!”

Coffeemates, mungkin kamu ingat adegan ini dari sebuah iklan kopi instan. Para lelaki sedang membicarakan Raisa sambil ngopi santai, dan kemudian disahuti langsung dari belakang. Bisa jadi ini adalah mimpi banyak orang, untuk bisa mengajak Raisa ngopi bareng.

Iklan kopi yang muncul sekitar 5 tahun lalu ini nyatanya masih terekam jelas di memori para penggemar Raisa. Beruntungnya, Coffeemates, tim kopikini.com berhasil mengajak Raisa ngopi dan berbincang santai soal kebiasaan ngopi-nya.

“Sampe sekarang aku manggung itu, pasti orang-orang ada aja yang megang banner ‘Raisa ngopi yuk’, atau nggak teriak,” ungkap Raisa, mengingat kejadian yang selalu terulang di tiap konsernya. ”Itu just stuck with me.”

Meski sudah membintangi banyak iklan lain dan mengaku hanya beberapa bulan menjalin kerjasama dengan produk kopi instan itu, justru iklan itu malah membuat Raisa identik dengan ajakan ngopi.

“Di antara semua iklan-iklan lain yang mungkin durasinya lebih lama, kontraknya jauh lebih lama, tapi si ‘Raisa ngopi yuk!’ itu nempel banget sama aku entah kenapa,” Raisa seru bercerita. “Jadi, sampe sekarang kayaknya untuk ngopi-ngopi itu cukup identik dengan aku gitu deh.”

Kopi Untuk Raisa

“Kalo buat aku lebih ke booster kali ya. I love the smell of coffee. Kayak, even the smell wakes me up. In a beautiful way. Terus—relax, ” ujar Raisa. Nampak dari sesi ngopi bareng di jeda antara kesibukannya, Raisa nampak memiliki keintimannya sendiri dengan kopi.

“Jadi mungkin si bau kopi itu symbolizes easy morning. Ataupun, yah—slow morning,” tambah Raisa.

Jika Coffeemates ingin mengajak Raisa ngopi, coba tawarkan kopi Lombok. Bisa jadi, kesempatan Coffeemates akan bertambah. Saking sukanya dengan kopi Lombok, Raisa sampai dibekali berkardus-kardus untuk persediaannya di rumah.

I love kopi Lombok jadi aku punya banyak kopi lombok di apartemen. Jadi ya udah, bikin black coffee biasa,” ujar Raisa, sambil melanjutkan cerita ketika ia dibekali kopi. Kala itu, ia tengah menginap di sebuah hotel. Saat mencicipi kopinya, Raisa terkesima.

“Kayak gak pake gula, cuma rasanya tuh manis gitu,” ujar Raisa. “Baunya manis gitu kayak apa ya kayak nutty, pokoknya enak deh.”

Bertanyalah Raisa pada petugas hotel, ‘Mas beli kopinya di mana?’. Alhasil, ia dibekali tiga dus gitu dari hotelnya.

“Sejak saat itu, kalo misalnya kayak minum kopi item yang Lombok itu, yang masih dari hotel itu masih ada sisanya pasti minumnya black aja,” imbuh Raisa.

Tak menuntut harus terus menerus disajikan kopi yang sama, Raisa mengaku pilihan isi cangkirnya dipengaruhi oleh mood setiap saat.

“Aku sampe sekarang belom tau kalo dibilang aku paling suka kopi apa gitu,” ungkap Raisa. “Pesen apa, pasti depending on my mood.”

Bagi Raisa, pesanan kopi seseorang lazimnya menggambarkan suasana hati mereka saat itu. Dirinya sendiri tidak terkecuali.

“Karena ya udah, kadang-kadang aku pengennya yang manis yang vanilla latte gitu,” papar Raisa. “Tapi kadang-kadang, ‘duh i’m having a bad day, i want something strong’, kayak black.


Kopi Tubruk, Kopi Keramat

Mengaku mulai mengkonsumsi kopi saat kesibukannya bernyanyi berbenturan dengan kesibukannya menyelesaikan studi, Raisa merasa akarnya berada pada kopi tubruk. Ayah dan Ibunya, adalah sumbernya. Sepanjang ingatan Raisa, kedua orangtuanya selalu meminum kopi tubruk. Sekitar dua atau tiga tahun yang lalu, Raisa mencicip kopi tubruk untuk pertama kalinya. Di situ, ia mengalami momen pencerahan.

“Aku tuh waktu masih kecil nganggepnya, ‘gila kopi item tuh kayak orang tua banget’,” ujar Raisa. “Aku di situ kayak punya realisasi bahwa, gila gue bisa ngerasa kopi tubruk ayah-ibu yang dari dulu dianggapnya ‘wah gila ini kopi keramat’, ternyata enak. Jadi aku pada moment itu kayaknya gue emang udah beranjak dewasa deh.”

Meski kini biasa meminum kopi hitam, Raisa tidak lantas mencari kopi ketika ingin ‘melek’. Jika bagi sebagian besar manusia urban kopi dijadikan sebagai pemompa energi, bagi Raisa justru sebaliknya.

“Kalo misalnya orang  banyak yang salah satunya minum kopi juga kayak biar apa—biar pumping. Biar kayak wake up biar ‘woa waah’ dengan kafeinnya.,´ujar Raisa. Cuma kalo buat aku malah justru to relax.”

Dengan jadwal konser yang padat, Raisa tidak selalu memiliki kemewahan untuk ngopi santai di pagi hari.

“Jadinya kalo misalnya if i have time for coffee in the morning itu berarti aku punya banyak waktu untuk, kayak nafas dulu,” ujar Raisa. “Sebelum actually harus getting ready to start my day.”

Dan perbincangan hari itu pun ditutup dengan secangkir kopi.

(Tulisan oleh Lani Eleonora;
liputan oleh Andreansyah Dimas & Klara Virencia;
suntingan oleh Klara Virencia.

Relasi oleh Clarissa Eunike.

Foto-foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply