Kopi, sejak abad ke-16 sejatinya memang identik sebagai minuman laki-laki. Dengan rasa pahit dan efek ‘menendang’, kopi seakan hanya bisa ditolerir oleh kaum adam. Dalam jurnal Food, Culture, & Society, artikel “Espresso: Shot of Masculinity”  bahkan mengatakan bahwa kopi sejatinya dinilai sebagai minuman maskulin.

Namun, keadaan sudah berubah, Coffeemates. Ketika proses pembuatan kopi dibawa ke rumah dan ‘diurus’ oleh perempuan, kopi kehilangan ekskulsivitas-nya untuk para lelaki. Kopi masa kini malah menjadi pencair ketegangan jurang antar pria dan wanita. Tak jarang malah menjadi jembatan hati.

Lahirlah akun instagram @baristadarlings yang penuh dengan kilasan para barista hawa dari seluruh dunia dan diikuti oleh puluhan ribu followers. Jumlah wanita yang bekerja secara profesional di industri kopi pun kian bertambah. Sebuah penelitian asal Oxford mencatat bahwa 70% pekerja industri FnB yang menerima tips (ya, siapa lagi kalau bukan barista) adalah perempuan. Bahkan di Jakarta, ada kedai kopi berisi jajaran barista yang seluruhnya perempuan. Di kancah kompetisi kopi, the The Guardian mencatat bahwa 9 dari 10 panitia rangkaian kompetisi barista sedunia alias World Coffee Events (WCE) adalah perempuan.

Namun di balik tren yang berubah ini, rupanya jejak barista wanita di atas panggung kompetisi masih sangat minim. Tidak pernah sekalipun, selama 16 tahun berjalannya World Barista Championship (WBC), barista perempuan pernah meraih gelar juara dunia.

Regina Tay, juara nasional Singapore Barista Championship 2016, adalah jarum di tumpukan jerami.

Sebagai roaster Stranger’s Reunion dan Common Grounds sekaligus, Regina rutin bolak balik Singapura-Jakarta. Saat beberapa kali menjuri kompetisi lokal di Indonesia, sering ia melihat mayoritas peserta kompetisi adalah barista laki-laki. Ia pun mendiskusikan hal ini dengan Q-Grader Mira Yudhawati & Resianri Triane saat mereka menjuri bersama di ajang kompetisi seduh manual khusus kaum hawa, MIKARIKA.

“Mereka bilang mungkin karena budaya di sini,” cerita Regina ketika ditemui tim kopikini.com usai kompetisi MIKARIKA, November 2016 lalu.

Namun nampaknya gejala ini bukan hanya di Indonesia saja. Bahkan di kompetisi tingkat dunia, diperkirakan hampir 80% pesertanya adalah barista laki-laki. Setidaknya, begitulah sepenglihatan Emily Oak, yang berada di balik kepanitiaan WBC sepanjang tahun 2002-2012. Demi mengangkat fenomena ini, Juara WBC 2009 Gwilym Davies mengenakan pakaian perempuan ketika menghadiri acara diskusi kopi di Dublin pada tahun 2011. Ia menyebut dirinya ‘Susan’ dan mengatakan bahwa ia lah pemenang perempuan pertama di WBC.

“I think the lack of females that are reaching the top end of competition is bad for us as an industry,”

– Gwilym Davies. World Barista Champion 2009

Dalam balutan lipstik merah di bibir, Davies berkata, “Saya pikir persoalan sedikitnya jumlah perempuan yang mencapai puncak kompetisi buruk bagi kita sebagai industri.” Ia pun menjuluki kompetisi barista level dunia sebagai ‘pesta sosis’.

Menurut Runner-Up I US Barista Championship 2016, Andrea Allen, sedikitnya jumlah perempuan yang mengikuti kompetisi mungkin disebabkan karena jiwa kompetitif wanita berbeda dengan laki-laki.

“Saya pikir, pada akhirnya, laki-laki cenderung lebih ingin menempatkan diri mereka di sebuah kompetisi dibandingkan dengan perempuan,” ujar Andrea, dikutip dari perfectdailygrind.com. Ia mengaku, ia adalah orang yang ‘memang bawaan lahirnya kompetitif’. “Dan saya pikir perempuan memiliki potensi kompetitif yang sama, namun mungkin sedikit berbeda.”

Perempuan bisa jadi kompetitif, imbuh Andrea. Tapi hanya sebatas di tempat kerja mereka, di balik bar. Di kedai kopinya sendiri, Andrea melihat para barista perempuan punya motivasi yang sama dengan para barista laki-laki untuk membuktikan bahwa mereka yang terbaik. Namun para barista perempuan ini tidak merasa perlu membuktikan kehebatan mereka di hadapan rakyat kopi sedunia.

Lain cerita, rupanya, jika kompetisinya khusus kaum hawa. Kompetisi MIKARIKA yang diadakan khusus untuk penyeduh manual perempuan, rupanya, menangkap semangat yang berbeda. Sebagai penyelenggara acara, Johni D’Roadrunner mengaku kaget saat 32 slot peserta MIKARIKA terisi dalam waktu setengah hari setelah pendaftaran dibuka. Regina Tay pun mengamini, model kompetisi khusus perempuan a la MIKARIKA dapat memberi semangat pada kaum hawa.

“Uniknya acara ini adalah dia mendorong perempuan untuk turun kompetisi,” ujar Regina Tay.

Regina menambahkan, bahwa kaum hawa tak perlu cemas akan kemampuan mereka menyeduh secangkir kopi yang nikmat. Boleh jadi, konsumen kopi sebagian besar adalah laki-laki. Namun jika berbicara soal rasa, justru perempuan lebih mampu mendeteksi detail rasa kopi dengan lebih tajam. Menurut penelitian dari Federal University of Rio de Janeiro, wanita rata-rata memiliki sensor rasa 43% lebih banyak dari pada laki-laki. Dengan kata lain, wanita dapat lebih cepat mendeteksi detail aroma dan rasa dibanding laki-laki.

“Banyak penelitian yang mengatakan bahwa perempuan itu pencicip yang lebih baik. Perempuan memiliki palet lidah yang lebih peka,” imbuh Regina Tay. “Itu tentu akan membantumu, jika kau ada di industri ini.”

Jajaran juri kompetisi seduh MIKARIKA, para hawa di industri kopi. Kiri ke kanan: Regina Tay (juara Singapore Barista Championship 2016), Mira Yudhawati (Certified World Barista Championship “Sensory” Judge), & Resianri Triane (Instruktur Kelas Q-Grader).

Tenang, Coffeemates, ini bukan soal persaingan antara laki-laki dan perempuan. Ini soal semangat saling mendukung sebagai insan yang bergerak di industri yang sama. Atau, dalam bahasa Davies, demi ‘cerminan dunia barista’ yang lebih sesuai keadaan di industri. Oleh seantero dunia kopi, barista juara WBC dianggap sebagai sosok panutan yang turut menentukan arah industri kopi. Absennya barista perempuan dari panggung juara berarti turut absennya suara kaum hawa, yang bisa saja memberi cara pandang segar bagi industri kopi.

Regina Tay pun menutup sesi wawancaranya bersama kopikini.com dengan sepotong pesan. Baik bagi para barista perempuan yang belum pernah mencoba panggung kompetisi, maupun kaum hawa yang baru akan masuk industri kopi.

“Jadi, ini bukan soal palet lidah siapa yang lebih peka. Ini soal bahwa ada kemungkinan kau akan berhasil di industri ini, mungkin lebih baik dari laki-laki,” imbuh Regina. “Jangan biarkan industri kopinya membuatmu patah semangat.”

(Tulisan oleh Lani Eleonora & Klara Virencia;
Suntingan oleh Klara Virencia.

Informasi disadur dari perfectdailygrind.com, theguardian.com, sprudge.com, ninepress.com, tandfonline.com, dailymail.co.uk, bitchmedia.org,
& akun instagram @baristadaily.

Foto-foto & suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply