Sabtu (11/3) lalu, laboratorium kelas Caswell’s Ampera kembali dipenuhi para peserta yang haus akan ilmu mencicip kopi. Sebagai salah satu dari hanya dua instruktur Q-Grader tersertifikasi Specialty Coffee Association of America (SCAA) di Indonesia, Resianri Triane rutin berbagi pengalaman cicip kopinya setiap dua minggu sekali.

Resianri Triane, di tengah sesi kelas cupping Caswell’s

Ia mengaku, kelas privat yang hanya bisa diikuti 18 orang dalam sekali pertemuan ini hampir selalu penuh. Belakangan Resi mengamati, mereka yang ikut kelas cicip kopi akhir-akhir ini justru bukan orang yang berasal dari industri kopi.

“Mulai dari fotografer, ada yang dari tambang. Kayak kemarin, ada IT,” ujar Resi. “Jadi, macem-macem.”

Mengikuti kelas cupping hanyalah langkah pertama dalam perjalanan menjadi seorang Q-Grader. Nantinya, peserta cupping yang berminat mendalami ilmu cicip kopi dapat melanjutkan ke kelas Pre-Q dan mengambil ujian sertifikasi Q-Grader.

Dalam waktu tidak sampai setengah hari, kelas cupping yang dipandu Resi terbagi menjadi dua sesi. Pertama-tama, para peserta kelas mendapat wawasan tentang macam-macam karakteristik kopi dari masing-masing daerah di Indonesia.

“Supaya kita mengenal kopi di rumah kita sendiri,” jelas Resi. “Jadi, tentang daerah penghasil kopinya, tentang prosesnya, dan bagaimana kita membedakan karakter rasa dari perbedaan processing dan perbedaan daerah itu.”

Setelah mengenali jenis-jenis cita rasa yang muncul dari kopi arabika khas Indonesia, peserta akan langsung mencicip dan belajar mengenali perbedaan rasa dari berbagai jenis kopi. Tak ketinggalan, peserta kelas juga diajari cara mengisi formulir cicip rasa sesuai standar SCAA.

Peserta kelas cupping menelaah formulir cupping SCAA.

Penjaga Gawang Kualitas Rasa

Memilih terjun ke dunia Q-Grader alias pencicip kopi profesional selepas 2 tahun berkecimpung di industri kopi, Resianri mengaku tergerak oleh para petani.

“Jadi sebelumnya itu, saya lebih banyak berinteraksi dengan petani, dengan koperasi. Lebih ke hulu,” ujar Resi. “Nah, justru merekalah yang memotivasi saya dan menginspirasi saya supaya saya bisa jadi Q-Grader.”

Dengan menjadi jembatan kritik dan saran antara tiap profesi di industri kopi dari hulu hingga ke hilir, profesinya sebagai seorang Q-Grader ikut menentukan kualitas kopi Indonesia. Di kedai kopi, Q-Grader dapat membantu pemilik kedai kopi menyeleksi kopi-kopi yang akan mereka jual dan sajikan. Untuk ke petani kopi sendiri, masukan dari Q-Grader dapat mereka pakai sebagai panduan bereksperimen dengan berbagai metode pengolahan. Berkat Q-Grader yang berperan sebagai penjaga cita rasa inilah, setiap pemeran di industri kopi dapat memperbaiki kualitasnya masing-masing.

Awalnya,  Resi sendiri tidak menyangka Q-Grader ini dapat dijalani sebagai profesi. Saat ia mengikuti ujian sertifikasi Q-Grader angkatan pertama di tahun 2009, Resi hanya bermodal keyakinan bahwa ilmu cicip kopi yang ia dapatkan akan berguna nantinya.

Resianri Triane, saat tengah sesi kalibrasi juri di Indonesia Coffee Events (ICE) 2017 Western Championships.

“Menurut saya, apapun yang akan kita lakukan—entah kita mau jadi konsultan, entah kita mau buka coffee shop sendiri—quality control itu pasti diperlukan,” papar Resi. “Dan di situ peranan kita sebagai Q-Grader, gitu.”

Terbukti, kini Resi jadi andalan Caswell’s dalam memilih biji kopi yang akan dijual dan disajikan Caswell’s. Tak hanya itu, para pemilik kedai kopi juga mengandalkan kecakapan cicip mencicip Resi. Beberapa kerap datang meminta dibuatkan resep blend biji kopi langsung oleh Resi.

Sebagai salah satu Q-Grader wanita di Indonesia, Resi membenarkan bahwa perempuan sungguh memiliki bawaan sensitivitas lidah yang lebih baik daripada laki-laki. Meski begitu, Resi menambahkan, saat ini mayoritas Q-Grader profesional di Indonesia toh laki-laki.

Perempuan dan Profesi Cicip Kopi

Kedai Caswell’s tempat Resi bekerja memang menghadirkan nuansa yang berbeda. Sehari-hari, Resi dikelilingi oleh rekan-rekan kerja wanita. Resi sendiri menyadari bahwa kehadiran wanita di industri kopi Indonesia terhitung masih sedikit.

“Sebenernya ini adalah yang jadi perbincangan kita belakangan ini, sih,” ujar Resi, merujuk ke rekan-rekannya perempuannya di Caswell’s. ”Bagaimana kita bisa meng-encourage lebih banyak wanita untuk, misalnya, berkompetisi atau terjun ke dunia kopi.”

Bagi Resi, ini bukan masalah kesetaraan tapi lebih kepada keseimbangan. Bahkan jika posisinya terbalik, ia pun akan memotivasi lebih banyak laki-laki yang mengikuti kompetisi.

“Kalopun keadaannya terbalik, saya juga akan melakukan yang sama,” ujar Resi.

Para juri MIKARIKA, kompetisi seduh manual khusus wanita. Kiri ke kanan: Regina Tay (Juara I Singapore Barista Championship 2016), Mira Yudhawati (WBC Certified ‘Sensory’ Judge), Resianri Triane (Instruktur Q-Grader Tersertifikasi SCAA).

Sejak awal, Resi tidak pernah berpikir bahwa industri kopi adalah industrinya ‘laki-laki’. Semasa ia sering berinteraksi dengan petani kopi, justru kaum perempuanlah yang lebih banyak ia temui.

“Kayak di kebun, kebanyakan petaninya perempuan. Di tempat pabrik kopi yang sortasi dan lain sebagainya, itu kebanyakan perempuan,” ujar Resi. “Justru saya pikir memang ini gak didominasi sama laki-laki.”

Caswell’s, setidaknya, sungguh digerakkan oleh tangan-tangan kaum hawa. Mulai dari jajaran divisi akuntansi, pelatihan, marketing, hingga general manager Caswell’s, semuanya dijalankan oleh perempuan.

Tentang rekan-rekannya, Resi punya komentar sendiri.

“Cewek-cewek Caswell itu apa ya… mmm—gahar. Hahaha,” gelak Resi.  “They know how to have fun.

(Liputan oleh Andreansyah Dimas & Klara Virencia;
tulisan oleh Lani Eleonora & Klara Virencia;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto disadur dari video Kopikini TV ‘COFFEE PEOPLE – Resianri Triane’.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply