Coffeemates, ketika kamu berkunjung ke kedai kopi kamu pasti akrab dengan jajaran kopi spesialti yang terpajang di depan meja seduh. Umumnya, biji kopi spesialti tersebut adalah jenis kopi arabika.

Lalu, apa kabar dengan robusta?

Ketua SCAI, Syafruddin dalam Konvensi Kopi Teh dan Cokelat Indonesia (KKTC) 2017 yang diadakan di La Piazza, Kelapa Gading pada Kamis (18/5) lalu, membawa kabar baik.

“—dalam waktu dekat, kita punya 6 kopi robusta yang saat ini kita sebut fine robusta dari beberapa pulau. Ada robusta dari Bengkulu, Tanggamus, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan dari Manggarai Flores yang saat ini sedang dalam proses sertifikasi menjadi specialty robusta,” papar Syafrudin dengan optimis. “Kita hanya menunggu waktu bahwa dari 10 jenis kopi robusta di dunia yang terbaik, 6 kami pastikan akan datang dari Indonesia.”

Ketua SCAI Syafruddin saat penutupan Indonesia Coffee Events, April 2017 lalu. Pada Konvensi Kopi, Teh, dan Coklat (KKTC) 2017 yang diselenggarakan 18-21 Mei 2017, Syafruddin bicara tentang potensi kopi robusta spesialti.

Dari segi kualitas, robusta jarang menjadi unggulan dan absen sebagai pilihan utama. Perannya tersembunyi, tercampur dalam olahan espresso karena rasanya yang cenderung lebih pahit dan tebal. Lantas, bagaimana bisa biji kopi robusta layak menyandang nama ‘spesialti’?

Potensi Terpendam

Gabe Shohet, pemilik Black Sheep Coffee London, adalah salah satu orang yang percaya akan potensi robusta. Kedai kopi yang dibangun bersama beberapa orang rekannya ini hanya menyajikan kopi dengan karakter yang lebih pekat, full bodied, dan tingkat kafein yang tinggi sesuai dengan selera mereka.

Kepercayaan Shohet bukan tanpa alasan. Dalam artikelnya, ‘Fairness and E-Quality: The Case for Robusta’, Shohet mengatakan, “Meski reputasi buruk yang disandang robusta pantas diberikan, tapi bukan berarti biji kopinya sendiri yang harus disalahkan.”

Robusta biasanya dipetik dengan mesin. Artinya semua dari biji kopi yang busuk dan belum matang, hingga serangga dan ranting-rantingnya pun ikut terpanen. Kombinasi ini tentu menjamin hasil seduhan kopi yang tidak enak.

Karena itulah Shohet mencari tahu bagaimana rasa robusta jika diperlakukan dengan perhatian dan perawatan yang sama dengan kopi spesialti arabika. Shohet dan rekannya lalu mengunjungi perkebunan kopi spesialti robusta pertama di dunia.

Terletak di India, perkebunan kopi Sethuraman Estate memetik biji kopi robusta dengan tangan, mencucinya dua kali, dan mengeringkannya dengan penampan. Hasilnya, dengan kadar kafein yang tinggi, seduhan robusta ini memberikan karakter rasa biji kenari dan coklat.

Potensi robusta juga dibuktikan dalam turnamen Robusta Gold Cup  Juli 2016 lalu. Nilai sebesar 84,40 diberikan pada robusta dari perkebunan milik Calixto German Rivera Narvaez. Para juri lokal dan internasional berpendapat, kopi tersebut memiliki catatan rasa anggur, permen, kiwi, selai buah, dan juga rasa akhir (aftertaste) pisang.

Cara petik merah a la kopi arabika spesialti belum lazim dicoba pada kopi robusta.

Beri Robusta Kesempatan

Nyatanya, Coffeemates, potensi Robusta sudah lama sekali menjadi bahan perbincangan di pasar kopi spesialti yang terus berkembang. Robusta unggulan, atau seringkali disebut fine robusta, sejak tahun 2014 sudah dikembangkan oleh para peneliti di Uganda.

Demi memecah keraguan terhadap kualitas kopi robusta diantara para pembeli kopi specialty, terbentuklah Center Of Robusta Excellence (CORE) pada tahun 2015. Dengan dukungan dari Agribusiness Initiative Trust (ABI) dan Coffee Quality Institute (CQI), institusi ini membantu mengawasi sistem Q-Grading dan menentukan standar R-grading untuk robusta.

Menurut mereka, ada tiga alasan mengapa robusta harus diberi kesempatan lebih:

  • Kualitas dan Pencampuran: Robusta selama ini dikenal terbelakang dalam segi kualitas, terlepas dari perannya dalam campuran espresso. Karena pasar kopi arabika sangat ketat dan harganya di pasar dunia sangat tidak stabil, robusta punya potensi untuk memberi sedikit kelegaan harga sebagai alternatif pilihan.
  • Genetik: Robusta juga dikenal dengan ketahanannya terhadap cuaca panas, hama, dan ancaman lain yang akan terus mewabahi kopi arabika.
  • Pendapatan Petani: pengembangan kopi robusta yang lebih matang akan menolong petani, dari segi pendidikan, pelatihan, pembangunan infrastruktur juga pendapatan.

Dengan bentuk bijinya yang kecil dan lebih bulat, robusta mengandung kafein dua kali lipat lebih banyak dari arabika. Padatnya kandungan kafein di dalam biji kopi robusta ini menjadi pestisida alami yang membuatnya tahan terhadap terjangan berbagai penyakit pohon kopi dan hama. Hal ini membuat biaya perkebunan lebih murah dan mudah untuk dirawat. Robusta juga memproduksi krema lebih banyak, karena itu selalu digunakan dalam campuran espresso.

Jenis kopi Robusta pun menjadi mayoritas kopi produksi Indonesia. Menurut data dari Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI), komposisi kopi robusta kurang lebih 83% dari total produksi kopi Indonesia dan sisanya 17% berupa kopi arabika. Dengan jumlah produksi sebesar itu, kualitas biji kopi robusta Indonesia yang meningkat tentu akan sangat menguntungkan bagi industri kopi Indonesia.

Meski arabika masih menjadi biji kopi pilihan, robusta kini tampak memiliki masa depan yang menjanjikan. Kembali mengutip Gabe Shohet, Coffemates, berilah robusta kesempatan.

(Liputan oleh Lani Eleonora;
Informasi tambahan disadur dari dailycoffeenews.com, perfectdailygrind.com,
coffeestrategies.com, & gaeki.or.id.

Tulisan oleh Lani Eleonora;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply