Sampai sebelum kami berbincang, Ryan Wibawa masih padat kedatangan pelanggan di pojok Starbucks Reserve Grand Indonesia. Sore itu kami dijamu secangkir Colombia San Fermin dan secangkir Cape Verde sembari menunggu. Tentu, dengan gaya manual brew andalannya. Teknik penyeduhan yang ditekuninya semenjak menyandang gelar Coffee Master ini mengantarnya berlaga di ajang World Brewers Cup 2016, Juni kemarin. Sekembalinya dari Irlandia, Ryan resmi jadi barista manual brew kelas dunia pertama yang Indonesia pernah punya.

Selidik punya selidik, ia berangkat dengan perasaan tidak tenang.

“Jadi ada perasaan yang belum—istilahnya belum mateng. Apakah kopinya udah siap atau belum,” ujar Ryan.

Selesai ia bertugas hari itu, kami berbincang di Starbucks lantai UG di pojok Grand Indonesia. Juara Indonesia Brewers Cup 2015 ini masih saja terlihat bersahaja.

DSC_0001

Untuk kopi yang diseduh dengan teknik manual, kualitas air adalah segalanya. Saat ia latihan dengan segala jenis air di tanah air, kopi pilihannya tak kunjung mengeluarkan rasa yang ia inginkan.

“Dan itu cukup membuat saya panik, membuat saya berpikir apa saya harus ganti kopinya. Atau apakah ada yang salah dengan kopinya,” kisahnya. “Atau apakah ada yang salah dengan cara saya menyeduhnya.”

Bermodal nasihat mentornya, Ryan mengumpulkan keyakinan dan tetap berangkat membawa biji kopi pilihannya. “Kita bertaruh, mencari air di Ireland untuk dipake di kopi yang akan kita bawain,” ungkapnya.

Sesampainya di Irlandia, Ryan bersama rekan-rekannya langsung meluncur berburu air. Ia tiba tanggal 20 Juni, hanya tiga hari sebelum hari kompetisi. Dari segala tempat yang bisa ia kunjungi, Ryan mampir ke kedai kopi.

“Waktu itu kita beranikan diri untuk nanya ke baristanya, bahwa ‘kita salah satu kompetitor yang akan bertanding di WBC, kita di sini lagi nyari air, bisa bantu nggak.”

Nyalinya tidak sia-sia. Sang barista suka hati berbagi, memberi rekomendasi salah satu air terbaik yang ia ketahui. Ryan mencoba air pilihan sang barista, dan segera bisa bernapas lega.

“Benar-benar mengeluarkan rasa yang terbaik dari kopi yang kita dapetin.”

#73_ryan manual brew

Setidak-tidaknya sekitar dua belas jenis kopi sudah ia coba sebelum berangkat. Pilihan Ryan akhirnya jatuh pada biji kopi asal Kolombia, varietas Geisha.

“Sebenernya kita dari awal nggak ada target untuk mencari biji kopi yang seperti apa. Tapi saat saya coba [Colombian Geisha–red] ini, bener-bener saya terkejut,” kenang Ryan. “Unik. Aromanya itu seperti earl grey tea, bergamott. Saya coba, bener memang strong earl grey, bergamot flavour-nya, ada jasmine aftertaste.”

Kompleksitas rasa ini memukau Ryan. Sontak ia menjatuhkan pilihan. Meski persiapan sudah mantap, pertaruhan sesungguhnya terjadi di atas panggung. Tampil urutan ke-6 di hari pertama, Ryan pun tidak lolos dari gejala demam panggung.

Nervousnya itu sebenernya pas di backstage. Itu saya bisa ngeliat kompetitor yang lagi tampil,” kisah Ryan. “Sakit perut iya, nunggu gilirannya. Bingung, takut lupa, takut ada yang kurang.”

Namun Ryan berhasil tampil apik dalam batas waktu 15 menit.

#73_ryan lives there

“Saat di panggung, semua kayak lepas gitu aja.”

Penampilannya ini mengamankan posisi ke-23 dari total 36 peserta. Ryan menjadi barista pertama yang mencatat prestasi untuk Indonesia di ajang World Brewers Cup.

Paruh Waktu hingga Coffee Master
5 tahun yang lalu, Ryan hanya salah satu dari sekian mahasiswa yang mencari uang jajan tambahan lewat program barista paruh-waktu Starbucks.

“Waktu itu belum tahu sama sekali soal kopi. Nggak pernah minum kopi. Yang saya tahu hanya kopi itu pahit.”

Usai menuntaskan kuliah bisnis tahun 2013, Ryan berada di persimpangan. Antara melanjutkan karirnya di Starbucks, atau banting setir kerja kantoran. Sesudah pilihan ia mantapkan, karir sebagai barista penuh waktu ia jalankan. Tak berapa lama, panggilan sebagai Coffee Master datang mengundang.

Barista-barista perusahaan ritel kopi raksasa itu berkesempatan menantang diri mereka lebih lagi. Mereka yang terbukti punya passion soal kopi akan menyandang gelar Coffee Master. Setingkat di atas barista Starbucks lainnya, hanya Coffee Master yang berhak melayani pelanggan di pojok eksklusif Starbucks Reserve Store.

Gelar itu berhasil Ryan dapatkan. Ia lalu menjadi salah satu tim pertama untuk pojok Starbucks yang khusus menyajikan biji-biji kopi pilihan itu.

“Dibantu adanya Starbucks Reserve Store, itu membuat saya jadi lebih belajar lebih lagi,” papar Ryan. Eksperimen demi eksperimen yang ia lakukan membawanya bertemu dengan teknik seduh yang jadi jodohnya kini. “Karena adanya manual brewing station di Starbucks Reserve Store, saya mulai belajar mengenai manual brewing.”

Kian hari Ryan kian tidak berpuas diri. Ia mulai mencari-cari ilmu dari satu kedai ke kedai lain. Tidak segan-segan, ilmu itu ia bagikan pada para pelanggan yang menjelma jadi teman sharing soal kopi.

“Itu yang membentuk diri saya jadi kayak sekarang ini.”

DSC_0005

Simak penampilan Ryan Wibawa di ajang World Brewers Cup 2016, berikut ini.

(Liputan oleh Andreansyah Dimas, Arie Wibowo, Aris, Clarissa Eunike, & Klara Virencia;
tulisan & suntingan oleh Klara Virencia;
foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply