“Kita mau support, bukan menjatuhkan,” ujar Hendri Kurniawan, membuka kelas sertifikasi juri Indonesia Coffee Events 2017, Senin (6/2) kemarin. ”Namanya memang judge, tapi kita tidak menghakimi. Tujuannya adalah supaya mereka improve.”

‘Mereka’ yang dimaksud di sini tak lain tak bukan adalah para barista yang akan berlomba di rangkaian Indonesia Coffee Events (ICE) 2017. Demi mempersiapkan para juara kompetisi di Indonesia Coffee Events 2017 menuju World Coffee Events nanti, BGI selaku penyelenggara ICE melakukan perubahan dalam sistem seleksi juri. Tahun ini, BGI menggelar workshop & sertifikasi juri yang selama tiga hari berturut-turut, 6-8 Februari 2017, di ArtOtel Thamrin Jakarta.

Penilaian juri kompetisi boleh saja jadi patokan hidup mati barista di kompetisi. Namun nyatanya, juri tidak selalu harus berasal dari orang kopi. Selaku instruktur kelas sertifikasi, Hendri Kurniawan menyatakan bahwa semua orang bisa jadi juri kopi.

Selain bersikap tidak ‘menjatuhkan’ (supportive), Hendri menekankan bahwa siapapun bisa melamar jadi juri selama punya integritas (integrity), bersikap jujur (honesty), bisa dipercaya (trustworthy), dan saling menghargai satu sama lain (respect).

Juri ‘teknis’ tersertifikasi World Barista Championship (WBC), Hendri Kurniawan (kanan), bersama para calon juri.

Berdasarkan pengalamannya menjuri di kompetisi barista nasional maupun tingkat dunia, Hendri Kurniawan membagikan kiat-kiat menjadi juri kopi yang baik bagi para calon juri.

Open mind, atau memiliki pikiran terbuka, adalah hal pertama yang ditekankan oleh Hendri. Bagi Hendri, dengan pikiran terbuka maka seorang juri punya keinginan untuk menambah pengalaman. Dengan menambah pengalaman menjuri, maka semakin tinggilah standar si juri kopi.

“Misalnya, ngelihat seorang barista presentasi. Terus mikir, ‘wah keren, keren.’ Sementara di World (World Coffee Events—red), kita udah sering ngelihat kasus seperti itu,” contoh Hendri. “Jadi biasa aja.”

Willingness to learn juga jadi sikap penting untuk dimiliki seorang juri yang baik. Seorang juri diharapkan untuk selalu punya keinginan untuk belajar.

“Apa yang kita tahu sekarang, bisa jadi berubah tahun depan,” ujar Hendri Kurniawan.

Willingness to be calibrated, terakhir dan tak kalah penting.

Hendri mengingatkan, seorang juri harus mau dikalibrasi setiap kali kompetisi. Tidak ada urusan senior atau junior di sini. Juri lama ataupun baru, semuanya harus sama-sama ‘nyetel’ lidahnya sebelum menjuri. Menurut Hendri, nasib barista berada di sini. Kalibrasi ini dianggap sangat penting dan harus dilaksanakan dalam suasana profesional juga tepat waktu.

Para calon juri saat kelas uji cita rasa (sensory skill workshop).

Juri Juga Manusia

Bukan tidak mungkin, dalam kompetisi malah juri yang merasa gugup. Ketika barista menyajikan signature beverage (minuman kreasi), misalnya, barista akan menggunakan banyak bahan yang bisa jadi belum pernah juri lihat atau cicipi sebelumnya. Di titik itu, juri harus tetap fokus dan menangkap instruksi dari barista. Jika instruksi barista diangggap tidak masuk akal juri pun berhak untuk menolak melakukannya.

Selain Hendri Kurniawan, sederet juri tersertifikasi level dunia lainnya turut berbagi ilmu. Di hari pertama, Mira Yudhawati memaparkan cara kerja penjurian untuk sesi Indonesia Barista Championship (IBC). Sementara itu, Resianri Triane & Adi Taroepratjeka selaku Q-Grader tersertifikasi berbagi trik-trik mengenali rasa dan melatih kepekaan lidah.

Di hari kedua, John Chendra mengulas cara kerja penjurian di ajang lomba seduh manual atau Indonesia Brewers Cup (IBrC). Nantinya, hari terakhir akan diisi oleh Vito Adi dengan sesi penjurian lomba latte-art alias Indonesia Latte Art Championship (ILAC).

Resianri Triane, Q-Grader dari Caswell, tengah mempersiapkan kelas uji cita rasa.

Mira Yudhawati, juri ‘cita rasa’ tersertifikasi World Barista Championship (WBC).

Adi W. Taroepratjeka, Q-Grader terlisensi dari 5758 Coffee Lab, tengah mengisi materi di kelas uji cita rasa.

Di balik tuntutan standar yang tinggi ini, menjadi juri rupanya adalah pekerjaan sukarela. Demi menjuri, setiap pengeluaran harus dibiayai oleh kantong sendiri.

Full voluntary work. Begitupun di World (World Coffee Events—red),” ungkap Hendri Kurniawan. Sebagai instruktur juri, Hendri sendiri tersertifikasi sebagai World Certified ‘Technical’ Judge atau juri ‘teknis’ tersertifikasi untuk kompetisi barista dunia. “Hanya diberi recommendation letter buat visa, sisanya biaya sendiri. We volunteer ourselves, we volunteer our time, we have to commit.

Dengan pengeluaran yang tidak sedikit, Hendri mengingatkan bahwa integritas tetap harus dijaga. Bukan tidak mungkin nantinya juri bertemu peserta yang berusaha menyuap juri di tengah kompetisi. Di situlah iman juri diuji.

Pertama Kali di Indonesia

“Sebelumnya tidak ada sertifikasi juri. Baru kali ini ada.”, ungkap salah satu mentor juri, Q-Grader Adi W. Taroeprateka.

Sebagai salah satu juri yang rutin mengiring rangkaian kompetisi di Indonesia Coffee Events (ICE), Adi mengungkap bahwa selama ini ICE belum punya sistem seleksi juri yang pasti.

“Tahun-tahun sebelumnya, [juri ]yang dipakai tuh yang nganggur. Sekarang yang pengangguran diajak ikut sertifikasi,” tambah Adi, disusul gelak tawa para peserta.

Tahun ini, sistem sertifikasi juri diadakan dalam rangka meningkatkan kualitas dan peringkat barista Indonesia di tingkat dunia. Sebagai penyelenggara rangkaian ICE 2017, BGI menargetkan agar barista juara dari Indonesia dapat meraih posisi 10 besar di kompetisi tingkat dunia.

Bagi angkatan calon juri yang pertama, Mira Yudhawati berpesan agar para calon juri tidak takut kasih nilai tinggi. Ia mengamati, juri-juri baru biasanya cenderung ‘main aman’ dengan memberi nilai di 3 dari skala 1 sampai 5. Mira pun mengingatkan agar para calon juri menilai secara akurat, konsisten, dan adil.

Terakhir, Mira Yudhawati mengingatkan bahwa kompetisi kopi sejatinya adalah sarana untuk belajar. Tidak cuma untuk barista yang berlomba, tapi juga juri yang menilai.

“Semua adalah proses belajar. Juri pun belajar dari barista,” ujar Mira Yudhawati. “Kompetisi itu adalah alat paling efektif untuk barista dan semua orang belajar.”

Para calon juri teknis, sesaat sebelum ujian juri untuk Indonesia Barista Championship. Juri teknis (technical judge) dituntut untuk mampu memperkirakan gramasi bubuk kopi yang tumpah hanya dengan melihatnya saja.

(Liputan oleh Lani Eleonora & Klara Virencia;
tulisan oleh Lani Eleonora & Klara Virencia;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto oleh Clarissa Eunike;
suntingan foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply