Desainer produk ternama sekaligus pengamat tren sosial, Leonard Theosabrata, punya cerita yang menarik tentang dua kedai kopi yang mulai buka di saat yang hampir sama.

Yang satu dikelola owner tua penuh semangat. Yang satu lagi dipegang anak muda berjiwa wirausaha. Keduanya mengambil kopi di supplier yang sama. Dari supplier inilah Leonard, yang akrab dipanggil Leo, mendapat pelajaran berharga.

Pemilik kedai yang sudah tua itu mulai usaha atas dasar iseng-iseng belaka. Dirinya sudah pensiun dan tidak mengejar keuntungan. Namun setiap hari ia hadir di kedai kopinya, mengawasi pegawai-pegawainya, dan langsung turun kalau ada masalah di lapangan. Sangat oldschool, istilah Leo. Sementara yang muda ini tidak pernah ada di kedainya. Keseharian kedai ia serahkan pada karyawannya.

Hasilnya? Kedai yang dijalankan penuh passion kian ramai, sementara kedai yang dijalankan dengan modal investasi uang saja kini menuju tutup.

If you’re not diving into the process, dan nggak ngerti market, akan sulit sekali untuk survive,” simpul Leo. Pencetus bazaar produk ritel lokal Brightspot Market dan toserba produk lokal The Goods Dept ini mengakui bahwa di setiap industri pasti akan lebih banyak pengikut (follower) dibandingkan pencetus gaya (trendsetter). Gejala yang sama ia temukan pada menjamurnya kedai kopi di ibukota. Namun baginya, menjadi follower bukanlah masalah.

I think people has to realizengerti dia mau jadi trendsetter atau follower. Even if you’re follower, tapi lu jujur, ya gue lebih respect,” ujar Leo, yang juga menggagas portal industri kreatif whiteboardjournal.com demi memetakan pasar industri kreatif di Indonesia.

Nomor satu, bagi Leo, pencetus bisnis kopi wajib passionate soal kopi. Kedua, tentu saja, kalkulasi bisnis yang jitu. Dua hal ini harus seimbang. Demi perhitungan yang cermat di dua bidang itu, belajar soal proses pun jadi tidak terhindarkan bagi pebisnis kedai kopi.

I think it’s a respect for the craft,” pesan Om Leo,” Yang semua orang harus punya in any industry. For you to be successful.

Beberapa kedai kopi di Jakarta tak segan berbagi resep di balik kopi berkualitas. Kelas-kelas ini biasanya memang dirancang untuk pemula.

Menyeduh Dengan Presisi
Anomali Coffee Senopati, misalnya, menghadirkan Indonesian Coffee Academy sejak tahun 2007.

 

Viva Barista - Jakarta-61

Baik untuk yang serius menjadi barista maupun iseng-iseng penasaran,  kursus kopi yang dirangkum dalam 9 kali pertemuan ini beranjak dari pengetahuan paling dasar tentang kopi. Mulai dari menyeduh espresso, hingga cara membuat latte art. Berdurasi 3 jam untuk masing-masing pertemuan, peserta kursus akan diberikan wawasan mengenai kopi selama kurang lebih 40% dari keseluruhan waktu pertemuan. Sisanya, peserta bisa langsung praktik membuat kopi.

Viva Barista - Jakarta-72 (1)

 

Mencicip Demi Kualitas
Setelah proses pembuatan kopi step-by-step, kualitas secangkir kopi juga perlu dijaga. Untuk inilah, Caswell’s Coffee menggelar cupping class atau kelas apresiasi rasa kopi. Di akhir kelas, peserta niscaya mantap sudah menjadi seorang Q Grader, atau penilai kopi profesional.

Viva Barista - Jakarta-98

“Sekarang Caswell udah jadi CA Campus. SCA Campus itu lab yang tersertifikasi oleh SCAA. Jadi lab kita itu sudah terstandar internasional,” Q Grader Caswell, Mira Yudhawati, mengobrol dengan kami dari balik konter. “Jadi kita (Caswell) bisa mengadakan Q Grader.”

Kedai kopi yang terletak di Ampera ini mengenalkan pesertanya dengan diagram rasa (flavor wheel), formulir apresiasi kopi (cupping form), dan, tentu saja, cara apresiasi kopi lewat indera penciuman (sniffing), penghirupan (slurping), dan penelanan (swallowing).

Tajamnya indera dan diagram rasa nantinya akan jadi modal utama Q Grader untuk menilai kopi secara objektif, tanpa dipengaruhi selera.

“Mungkin selera tetap ada. Kayak, nggak suka asem, nggak suka pahit. Tapi kalau kita terkalibrasi, kita udah tahu parameternya,” jelas Q Grader Caswell, Mira Yudhawati. “Begitu jadi Q Grader, kita udah nggak bisa lagi (ngomong) suka atau nggak suka.”

Jika soal teknik dan rasa sudah mantap, siapapun tak perlu ragu untuk mulai dari awal.

Viva Barista - Jakarta-51

Disadur dari VivaBarista (Annisa ‘Abazh’ Amalia, Gianni Fajri,
Handoko Hendroyono, & tim Maji Piktura),
anomalicoffee.com, & caswellcoffee.com.

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply