Zaman perang Aceh, kopi jadi pertanda gencatan senjata. Tentara RI dan GAM akur mengobrol selama ada secangkir kopi. Kini, kopi melambung lebih tinggi.

Sejak 2015, warga-warga dari negara konflik berhamburan keluar mencari suaka di negara-negara tetangga. Jumlah mereka begitu membludak. Tak semua negara bersedia menerima.

#75_alan kurdi_kurdsatnews(dot)com

September 2015, sebuah sekoci pelarian menuju Kanada terbalik. Sekoci itu berkapasitas 8 orang, diisi oleh 16 orang. Balita 3 tahun asal Suriah, Alan Kurdi, merupakan salah satu penumpang yang tidak selamat.

Selain soal bentrok budaya, para pengungsi ini bisa jadi menambah beban pengangguran. Siapa sangka, kopi bisa jadi penyelamat mereka.

Melebur dengan Komunitas AS
Tidak pernah terbayang oleh Samiullah Haidari, pengungsi asal Afghanistan, bahwa dirinya sehari-hari akan meramu kopi di kedai kopi San Fransisco, Amerika Serikat. Di San Fransisco, 1951 Coffee khusus berdiri untuk para pengungsi.

Berfokus di kopi spesial (specialty coffee), kelompok non-profit ini melatih para pengungsi di area pantai San Fransisco untuk meramu kopi, sekaligus membuka peluang sebagai barista.

“Kami ingin membantu para pengungsi untuk mendapatkan pekerjaan. Saat mereka mengikuti wawancara pekerjaan, kebanyakan dari mereka bermasalah dengan budaya dan bahasa,” jelas Doug Hewitt, salah satu pendiri 1951 Coffee. Doug dan partnernya, Rachel Taber, sudah lama menangani pengungsi melalui organisasi International Rescue Committee (IRC).

Maret 2015, Rachel menemukan ruangan tidak terpakai di sebuah gereja daerah Berkeley. Ia lalu menggaet Doug, yang pernah bekerja sebagai pemanggang kopi sebelum bekerja di IRC.

“Saat kami membuat rancangan program ini dan menandatangani surat tanah, krisis pengungsi di Eropa belum marak,” ujar Doug. “Bertahun-tahun, kerjaan kami memang menangani pengungsi.”

Latar belakang para pengungsi bervariasi, namun sebagian besar dari mereka belum pernah pegang mesin kopi. Thanh Tran, asal Vietnam, sehari-harinya bekerja sebagai perancang interior.

“Aku tidak pernah bikin kopi sama sekali semasa di Vietnam,” ujarnya.

Doug dan Rachel merancang program pelatihan mereka sesuai dengan standar Asosiasi Kopi Spesial Amerika (SCAA). Ilmu menyeduh kopi, membuat berbagai variasi espresso, menjaga kebersihan kedai kopi, dan melayani pelanggan, semuanya dibagikan secara cuma-Cuma. Selain melatih menggunakan mesin kopi, program pelatihan 1951 Coffee juga menghubungkan para pengungsi dengan para pemilik bisnis.

“Kami merekomendasikan para lulusan kami pada dengan para pemilik dan manajer kedai kopi. Kami menceritakan kepribadian, budaya, dan potensi mereka masing-masing,” kisah Hewitt. “Semacam rekomendasi. Pengungsi yang baru datang biasa kesulitan mendapatkan ini.”

Memang, tidak semua pengungsi ingin jadi barista. Namun Doug dan Rachel percaya, pelatihan dan koneksi komunitas yang mereka dapatkan akan membuat para pengungsi lebih percaya diri saat melamar pekerjaan lain. Berbekalkan 19 lulusan program pelatihan yang berasal dari Afghanistan, Eritrea, Somalia, Vietnam, Pakistan, Guatemala, Mongolia, dan Myanmar, kedai 1951 Coffee akan buka September nanti.

#75_jajaran barista 1951 coffee

Jajaran barista 1951 coffee, dari berbagai negara.

Cairkan Suasana Lewat Kopi di Belanda
Selang beberapa bulan, pergerakan serupa merebak di Belanda. September 2015, seorang pengacara melangkah masuk ke dalam bangunan tak terurus yang menampung 400 pengungsi. Ia tidak membawa pakaian, alat-alat mandi, ataupun makanan untuk diberikan. Ia hanya datang dengan satu pertanyaan.

“Saya duduk dan bertanya pada beberapa orang, ‘Oke, apa yang bisa saya bantu?‘,” kenang Van der Hel. Banyak di antara para pengungsi itu dulunya bekerja sebagai akuntan, pedagang, jurnalis, bahkan penulis. “Mereka bilang, ‘Kami betul-betul bosan. Kami ingin melakukan sesuatu. Kami tidak punya bayangan harus memulai dari mana. Tidak mudah memulai percakapan dengan orang Belanda.‘,” kisah Van der Hel.

Belanda termasuk cukup terbuka menerima pengungsi. Namun para pengungsi setidak-tidaknya harus menunggu enam bulan sebelum mendapat status suaka ataupun ijin tinggal. Masa-masa penantian ini kerap membuat pengungsi bosan.

Pengacara bidang hukum bisnis itu kemudian terpikir untuk mempertemukan para pengungsi dengan orang-orang seprofesi. Mumpung mereka punya waktu 6 bulan. Sebuah grup bernama Refugee Start Force  ia bentuk di Facebook. Dari sana, para pengungsi bisa menemukan rekan-rekan seprofesi mereka di Amsterdam. Seringnya, saat Van der Hel meminta tolong para ahli untuk ikut berpartisipasi, ia ditodong pertanyaan.

“Berapa lama waktu yang akan terpakai? Apa yang harus kulakukan?,” jelas Van der Hel. “Jadi kupikir—ini cara yang sangat Belanda, ‘Ya, ayo kita ngopi’. Itu ide dasarnya.”

Melalui secangkir kopi, Van der Hel memastikan para pengungsi bertemu dengan orang-orang seprofesi dengan nuansa rileks dan kasual. Tidak serta merta bicara soal kerjaan.

“Kadang mereka mengobrol, kadang bermain catur, atau nonton sesuatu di iPad,” kisahnya. “Kurasa ini inisiatif yang hebat.”

#75_RSF meeting 1

Ide ini menyentuh insan kopi lainnya. Kedai kopi Anne & Max South di Amsterdam kini menyediakan kopi gratis untuk setiap pertemuan Refugee Start Force di tempat mereka.

Disadur dari unhcr.org & sprudge.com

Foto (sesuai urutan) disadur dari kurdsanews.com,
akun instagram @1951coffee,
& akun facebook Refugee Start Force.

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply