Akhir pekan lalu kota Surabaya diramaikan dengan festival kopi Urban Coffee Week 2017. Bertempat di Marvell City Surabaya, acara yang diselenggarakan oleh MVP Indonesia ini mengambil tajuk The Color of Coffee. Terinspirasi dari banyaknya warna atau ragam kopi di Indonesia, Urban Coffee Week 2017 pun ingin mengusung semangat bahwa kopi milik semua kalangan.

Diselenggarakan selama tiga hari pada tanggal 21-23 Juli pekan lalu, festival ini dipenuhi beragam acara mulai dari Latte Art Competition, enam tema gelar wicara, tujuh kelas lokakarya, dan pameran produk dari 35 peserta. Pada salah satu kelas lokakarya, Urban Coffee Week 2017 menghadirkan Nick Rozental, seorang pelatih kopi dari SCAE (Specialty Coffee Association of Europe).

Dalam kelas Nick Rozental, peserta diajak untuk mendalami berbagai pengetahuan soal kopi serta kiat menjajaki karir di dunia kopi. Di akhir lokakarya tiap peserta kemudian mendapatkan 10 point dari total 100 point yang harus dikumpulkan untuk mendapatkan sertifikat ‘Coffee Diploma’ dari SCA (Specialty Coffee Association).

Kopi Bor, Pencuri Perhatian

Di antara beragam kedai dan pameran mesin kopi di Urban Coffee Week 2017 tampak satu kedai yang memikat pandangan. Sebuah kedai bernama Kedai Simple yang berdiri sejak Juli 2017 ini diusung oleh sepasang suami istri Sriwiyanti dan Mohammad Hassan. Kehadirannya seketika mencuri perhatian. Alih-alih menggunakan grinder untuk menggiling kopi, pasangan ini memutuskan untuk menggunakan bor. Iya! Bor yang biasa kamu pakai untuk melubangi kayu atau dinding. Tentu, hal ini membuat heran siapapun yang melihat.

“Iya, banyak yang bingung dan tanya-tanya gitu,” ungkap Sriwiyanti ketika berbagi kisah. “Jadi ceritanya, di kedai itu listrik dibatasi. Awalnya saya ngengkol pakai penggilingan yang konvensional, soalnya waktu itu sehari gak banyak yang pesan kopi. Eh lama kelamaan kok banyak yang suka sama kopi saya, capek juga kalau harus ngengkol terus. Makanya bikin inovasi pakai bor.”

Bukan cuma Inul. Bu Sriwiyanti pun bisa ‘ngebor’.

Dari solusi keterbatasan, bor justru menjadi identitas baru bagi Kedai Simple hingga kedai lebih dikenal akrab dengan nama Kopi Bor. Bermula dari kegemaran mencicipi dan bereksperimen kecil-kecilan di rumah, Sriwiyanti dan Mohammad Hasan kemudian memberanikan diri untuk membuka kedai kopi sendiri. Setelah sebelumnya berkeliling Surabaya untuk mencicipi kopi dari berbagai jenis kedai.

“Supaya tau, Mbak.” Ujar Sriwiyanti sambil tersenyum. Ia pun mengaku berkenalan dengan kopi berkat sang suami. “Suami saya yang suka beli biji kopi, giling sendiri, terus ya bikin sendiri di rumah. Saya ya belajar dari suami, lihat dulu, terus tak praktekkan.”

Kedai Simple pun menggunakan beragam biji kopi dari dalam negeri. Segala tersedia, mulai dari Gayo, Kintamani, Toraja, Malabar, Flores, Bajawa, dan Lampung. Selain itu, tersedia pula biji kopi Carlos, Argopuro, Kerinci, dan Jumber Tangkil dari penyuplai kopi di Malang Selatan.

Ragam biji kopi yang tersedia di kedai kopi Simple.

Dari seluruh biji kopi yang tersedia, kopi Gayo memiliki paling banyak peminat. Tak tanggung-tanggung, dalam satu hari Kedai Simple menghabiskan kurang lebih 1 kg kopi Gayo. Sementara mereka dapat menghabiskan setidaknya seperempat kilogam untuk biji kopi lainnya.

Emang banyak yang lebih suka Gayo. Kata pelanggan saya rasanya ada sensasi kacang,” ungkap Hassan.

Bergabung di acara Urban Coffee Week tak membuat Kedai Simple gentar. Sriwiyanti dan Hassan percaya diri tetap dapat bersaing meski dikelilingi oleh banyak kedai kopi besar dari seluruh Indonesia yang memiliki beragam teknik dan alat seduh.

“Saya tetap percaya diri. Ini kan ciri khas dari Kedai Simple. Kalau yang lain pakai alat canggih ya gak papa, tapi soal rasa kami berani bersaing,” ungkap Sriwiyanti penuh percaya diri. Ketika ditanya mengenai inovasi apalagi yang akan dilakukan, Sriwiyanti pun berkata mereka pasti akan menambah alat-alat baru nantinya. “Pasti pengen nambah, Mbak. Cuma nyicil dulu ya. Hahaha… modalnya ini agak-agak.”

Setelah setahun menjalankan, kini Kedai Simple mampu menjual lebih dari 100 cangkir per hari. Meningkat sepuluh kali lipat dari sejak awal dibukanya. Di sini, konsistensi adalah kunci. Belajar dari Kedai Simple dengan Kopi Bor-nya, keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti. Pada akhirnya, rasa yang berbicara. Tak peduli menggiling kopi dengan EK 47 atau bor sekalipun.

Usai ‘ngebor’, Bu Sirwiyanti siap meladeni beragam pertanyaan dari tiap pelanggan.

Pada akhirnya, Urban Coffee Week 2017 berhasil menjadi wadah bagi siapapun yang bergerak dalam industri kopi untuk mengajak pengunjung mengenal dan mengapresiasi kopi lebih dalam. Semua pihak yang terlibat dari para petani, pemilik kedai, dan para profesional dalam industri kopi kembali berkolaborasi dengan harmonis bersama para seniman dan penikmat kopi.

 

(Tulisan oleh Virgina Sanni
Suntingan oleh Lani Eleonora
Foto-foto oleh Virgina Sanni
Suntingan foto oleh Andreansyah Dimas
Relasi oleh Clarissa Eunike)

Related Post

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply