Pasca kemenangan kopi Flores Manggarai di ajang Indonesia Cupping Contest 2015 lalu, pemerintah provinsi NTT berencana menyatukan kopi Flores Manggarai, Flores Bajawa, dan kopi-kopi dari daerah Flores lainnya di bawah satu nama, ‘Kopi Arabika Flores’.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTT, Yohannes Tay Rupa, menilai langkah ini akan memudahkan kopi Flores untuk melambung di tingkat nasional maupun dunia.

“Untuk sementara ini memang berdasarkan kabupaten, masih berbeda-beda lah,” papar Kadin Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTT, Yohannes Tay Rupa, pada pembukaan Festival Kopi Flores, Kamis (15/9).

“Tapi karena kopi Arabika ini satu kawasan di Flores, kami dari provinsi mau menyatakan untuk menyebut satu brand. Yaitu, ‘Kopi Arabika Flores’.”

SAMSUNG CSC

Kepala Dinas Perkebunan & Pertanian, Yohannes Tay Rupa, di acara pembukaan Festival Kopi Flores, Kamis (15/9).

Saat ini, kopi Flores Bajawa asal Kabupaten Ngada merupakan satu-satunya kopi asal Flores yang mendapatkan Sertifikasi Indikasi Geografis. Langkah selanjutnya, Pemprov NTT mengincar sertifikasi geografis untuk kopi Flores Manggarai, yang merupakan hasil panen dari tiga kabupaten Manggarai. Akhirnya, kedua jenis kopi ini, beserta kopi Flores lainnya, akan disertifikasi di bawah nama ‘Kopi Arabika Flores’.

Sejak tahun 2005, kopi Flores jenis Arabika sudah mendunia dengan kuota ekspor sebesar 1.210 ton, yang dihasilkan 15 kelompok tani. Tahun ini, Yohannes memprediksi produksi kopi Flores jenis Arabika akan mencapai kisaran 5.000 sampai 6.000 ton, dengan kuota ekspor sebesar 1.500 ton. Untuk produksi kopi gabungan Arabika dan Robusta di wilayah Flores, Yohannes membidik angka 13.000 ton.

Festival Kopi Flores, yang diselenggarakan atas kerjasama antara Bentara Budaya Jakarta, grup Komgas Gramedia, pemerintah Provinsi NTT, Bank Mandiri, dan komunitas Indonesia Latte Art Artist, merupakan eksibisi yang mempertemukan berbagai macam kopi Flores dengan para pelaku industri kopi, baik dari Flores maupun di ibukota. Acara ini sekaligus merupakan kelanjutan dari kegiatan Jelajah Sepeda Flores-Timor yang diselenggarakan harian Kompas, Agustus 2016 lalu.

Kopi, menurut Pemimpin Redaksi Harian KOMPAS, Budiman Tanuredjo, merupakan salah satu cara untuk mengenal nusantara. Kegiatan festival yang diselenggarakan oleh media semacam ini, menurutnya, juga tak lain dari bentuk kegiatan jurnalistik.

“KOMPAS hanyalah medium, hanyalah media untuk mengkomunikasikan apa yang ada di Nusa Tenggara Timur‘,” ujar Pemimpin Redaksi Harian KOMPAS, Budiman Tanuredjo, saat pembukaan Festival Kopi Flores, Kamis (15/9).

SAMSUNG CSC

Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Budiman Tanuredjo, memberikan sambutan di Festival Kopi Flores, Kamis (15/9).

Sebelumnya, Harian KOMPAS juga mengangkat kelokalan nusantara dengan melalui pembahasan mengenai kuliner, gunung api, dan batik di berbagai daerah. Untuk kopi, Budiman menjanjikan bahwa rangkaian kegiatan festival semacam ini bukanlah yang terakhir.

“Tahun depan kita akan bikin festival kopi yang lebih besar. Lebih besar, bukan hanya seperti eksibisi begini,” ungkap Budiman, saat diwawancara terpisah. Pembukaan Festival Kopi Flores juga turut diramaikan oleh 1000 cangkir kopi gratis dari komunitas Indonesia Latte Art Artist, penampilan dari kelompok musik Floresta Band, dan stand up comedian Ephy Sekuriti.

Putri Pariwisata NTT 2016, Rivani Bistolen, mencicip kopi Flores Manggarai yang disuguhkan komunitas Indonesia Latte Art Artist.

(Liputan, tulisan, & suntingan oleh Klara Virencia;

foto oleh Klara Virencia.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply