Tepat Jumat (25/11) kemarin di hadapan para peserta pameran internasional Indonesia Franchise & SME Expo (IFSE) 2016, Coffee Toffee mendapat tantangan langsung dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) untuk melebarkan sayap waralabanya ke kancah internasional. Tantangan ini dijawab dengan dibukanya gerai perdana Coffee Toffee di Inggris, pertengahan 2017 nanti.

odi-anindito-coffee-toffee-ke-luar-negeri-jokowi-presiden-kemendag-ifse-2016-2

Saat pembukaan IFSE 2016, Jumat (25/11), Presiden RI Joko Widodo menantang salah satu pemilik Coffee Toffee, Odi Anindito, untuk melebarkan sayap waralaba ke luar negeri tahun depan.

Di antara masyarakat ibukota sendiri, gaung Coffee Toffee mungkin masih samar-samar terdengar. Memang, dari 160 gerai Coffee Toffee yang tersebar di belantara Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi, hanya 6 gerai yang berada di wilayah Jabodetabek. Sisanya, Coffee Toffee memilih untuk menjangkau kota-kota kecil yang kerap luput dari perhatian waralaba.

“Kayak, Sangatta. Pernah denger kota Sangatta, nggak?”

Manajer Promosi Coffee Toffee Mika Affandy lalu menjelaskan, gerai Coffee Toffee di Provinsi Kalimantan Timur ini, berjarak lebih dari 6 jam perjalanan dari kota Balikpapan.

“Benar-benar masuk lagi ke tengah hutan,” papar Mika. “Kota, tapi benar-benar di pedalaman Kalimantan, gitu.”

Saat berbincang dengan Kopikini.com pada konferensi pers tur dunia ‘Juru Bicara’, Kamis (10/11), Mika Affandy turut berbagi mengenai keputusan Coffee Toffee untuk tidak ‘padat’ di kota-kota besar.

dsc03574

Manajer Promosi Coffee Toffee, saat berbincang dengan Kopikini.com di Coffee Toffee Margonda, Kamis (10/11).

“Ketika kita berbicara kopi Indonesia, ‘kopi Indonesia itu Sabang sampe Merauke’, loh. Kita mau bilang begitu,” ujar Mika. “Makanya, target kita, kita pengin ada dari Sabang sampe Merauke. Dan nggak cuma di ibukota provinsi.”

Di Jabodetabek sendiri, boleh jadi Coffee Toffee masih terasa ngumpet dari titik-titik strategis kedai kopi. Tak jarang, gerai Coffee Toffee justru hinggap di gedung perkantoran atau gedung perkuliahan. Menurut Mika, tempat-tempat ‘tidak terduga’ ini justru memudahkan Coffee Toffee untuk mempromosikan kopi Indonesia ke kalangan lebih luas yang jarang dilirik kedai-kedai kopi umumnya.

Jika pemain kopi lainnya memilih untuk menaikkan harga secangkir kopi untuk menutup biaya sewa, tidak demikian halnya dengan Coffee Toffee. Harga terjangkau bagi para pelanggannya adalah syarat yang utama.

coffee-toffee-margonda-1

Salah satu dari 6 gerai Coffee Toffee di wilayah Jabodetabek: Coffee Toffee Margonda Raya, Depok.

“Di Coffee Toffee, kalau emang kita nggak bisa bayar sewanya, kita nggak ambil. Simply like that, gitu,” ujar Mika. Ia dan timnya lebih memilih mencari ‘siasat’ lain, yakni dengan mengambil tempat-tempat yang ‘nyempil’ ataupun menjalin kerjasama dengan pemilik gedung.

Menjangkau sela-sela yang tidak terjamah keramaian kedai kopi lainnya, gerai-gerai Coffee Toffee kian tumbuh dengan semangat neighbourhood coffeeshop. Masing-masing gerai Coffee Toffee pun menjelma jadi wadah berkreasi komunitas-komunitas lokal di sekelilingnya.

Salah satu komunitas yang memiliki tali temali jangka panjang dengan Coffee Toffee, adalah komunitas stand up comedy.

Tali Temali dengan Stand Up Comedy

Jauh sebelum Pandji Pragiwaksono keliling dunia untuk mendiskusikan permasalahan nusa bangsa di atas panggung komedi, Coffee Toffee sudah jadi panggung latihan untuk para komika.

Saat itu 2011. ‘Stand Up Comedy Indonesia’ di Kompas TV baru saja dirintis Pandji dan komika lainnya. Di tengah popularitas stand up comedy yang kian menanjak, Manajer Promosi Mika Affandi justru melihat para pelaku stand up comedy kekurangan tempat untuk melatih materi-materi lawakan komiknya.

“Tidak ada restoran, coffee shop yang mau menerima mereka. Karena mereka, coffee shop, merasa tidak ada keuntungan finansial yang diberikan,” komentar Mika, melihat situasi saat itu.

Mengenal Pandji secara pribadi saat masih sesama penyiar HardRockFM, Mika tak pakai pikir panjang. Lewat Pandji, ia lantas menawarkan gerai Coffee Toffee yang tersebar di seluruh Indonesia sebagai tempat latihan cuma-cuma bagi para stand up comedian. Kabar gembira ini turut disebarkan oleh pelopor-pelopor stand up comedy di Indonesia, seperti Raditya Dika & Ernest Prakasa lewat akun sosial media mereka.

“Mereka bilang, ‘woi di seluruh Indonesia kalau kalian mau latihan stand up comedy, bisa di gerai Coffee Toffee manapun!’ Langsung lah kita dapet berbagai tawaran,” ungkap Manajer Promosi Coffee Toffee Mika Affandy. “Akhirnya kita buka tempat ini jadi open mic (panggung terbuka—red).”

5 tahun berlalu, Coffee Toffee masih berhubungan erat dengan para komika. Raditya Dika, misalnya, hadir sebagai bintang tamu di perayaan hari jadi Coffee Toffee tahun 2011. Coffee Toffee juga pernah turut serta mendukung tur stand-up comedy Ernest Prakarsa di 2012. Terkini, tentu saja, tur dunia ‘Juru Bicara’ oleh Pandji Pragiwaksono yang mengusung sosial politik nusantara di 8 negara.

Semangat Indie, Rumah Komunitas

Selain konsisten menyokong stand up Comedy, Coffee Toffee juga turut menjadi rumah bagi sejumlah komunitas lokal untuk berkarya.

Saat berbincang dengan Kopikini.com usai konferensi pers tur dunia ‘Juru Bicara’ stand-up comedian Pandji Pragiwaksono, Manajer Promosi Mika Affandi mengakui Coffee Toffee memang awalnya lahir dari semangat indie. Selain itu, Mika memaparkan, ini erat kaitannya dengan prinsip-prinsip Coffee Toffee: love, passion, & enthusiasm (cinta, semangat, & antusiasme—red).

“Itu kita bawa di semua hal. Nggak cuma di kopinya,” ujar Manajer Promosi Mika Affandy. “Tapi juga kesenian, (yang—red) punya talenta atau bakat apapun.”

Jadilah, masing-masing gerai Coffee Toffee punya ‘anak’ komunitasnya sendiri.

Sebuah gerai di Surabaya yang punya lapangan parkir luas, misalnya, menjadi ‘markas’ anak-anak automotif setempat.  Di Malang, dinding-dinding gerai dimanfaatkan komunitas pelukis menjadi ‘galeri pameran’ karya-karya mereka. Di gerai Pekan Baru, komunitas doodle art malah terang-terangan menjadikan dinding gerai sebagai ‘kanvas’.

coffee-toffee-doodle-art-pekan-baru-1

Lukisan mural komunitas doodle art memenuhi dinding gerai Coffee Toffee Pekanbaru.

coffee-toffee-doodle-art-pekan-baru-2

Corak doodle art di gerai Coffee Toffee Pekanbaru.

“Mereka coret semua dinding di Coffee Toffee dengan mural art. Terus akhirnya mereka bisa ngasih keterangan di situ,” papar Mika. “Orang kalau kepengin tempat bisnisnya dikasih mural yang kayak gini, mereka bisa hubungin siapa, kayak gitu.”

Menseriusi hubungan yang terbangun dengan berbagai macam komunitas di seluruh Indonesia, jaringan gerai kedai kopi yang mengusung slogan ‘Yes, I Drink Indonesian Coffee’ ini sampai khusus punya penghargaan ‘Best Community of The Year’ untuk komunitas yang dinilai paling keren setiap tahunnya.

kopi-juru-bicara-pandji-pragiwaksono-coffee-toffee-margonda-2

Slogan waralaba kedai Coffee Toffee, berisikan komitmen untuk mengusung kopi Indonesia.

Di samping menjadi galeri karya bagi sejumlah komunitas, Coffee Toffee juga menawarkan setiap gerainya untuk jadi tempat berlatih komunitas-komunitas yang butuh mengasah keterampilan.

Cuma-cuma pula. Terlalu indah untuk jadi nyata, sejumlah komunitas tak percaya awalnya.

“‘Emang beneran kita boleh demo magic di sini?’,” Mika menceritakan saat pertama komunitas Depok Magician menghampiri Coffee Toffee gerai Margonda. Langsung saja Mika jawab ‘boleh’.

Untuk keterampilan yang sifatnya performatif seperti stand up comedy, sulap, maupun musik, terjamin sudah kehadiran para pengunjung Coffee Toffee sebagai penonton latihan. Tanpa ikatan kontrak apapun, para komunitas bebas memilih waktu tampil yang mereka inginkan. Infomasi mengenai jadwal ‘aksi’ masing-masing komuntas ini dapat dilihat melalui akun twitter @coffeetoffeeIDN.

Saat ini, 160 outlet Coffee Toffee yang terdiri dari 50 kedai kopi (coffee shop) dan 110 tempat ngopi yang berukuran lebih mini (coffee express). Kental mengusung ‘kopi Indonesia’ sebagai identitas, waralaba kopi yang berdiri sejak 2006 ini berkomitmen menyajikan kopi Java Mocha, Toraja Kalosi, Bali Batukaro, Sumatra Gayo, & Sumatra Lintong di seluruh gerai mereka.

 

(Liputan, tulisan, & suntingan oleh Klara Virencia;

foto Odi Anindito & Jokowi dilansir dari kemendag.go.id;
foto-foto di Coffee Toffee Margonda Raya oleh Clarissa Eunike;
foto-foto ilustrasi dari berbagai gerai Coffee Toffee dilansir dari instagram @coffeetoffeeIDN.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply