Coffeemates yang hobi ngopi santai di kedai kopi,

Mungkin kamu sadar, sebagian besar biji kopi yang terpajang di daftar menu datang dari tempat yang itu-itu lagi. Guatemala, Colombia, Brazil, Ethiopia, Kenya, dan—tentu saja Indonesia.

Tiap negara berada di zona yang berbeda dalam peta dunia. Namun, semuanya berbagi satu hal yang sama: mereka terletak di sabuk tropis yang berjejer sepanjang garis ekuator dan dikenal sebagai “Sabuk Biji Kopi.”

Ada alasan ilmiah kenapa kopi yang tumbuh di zona ini terasa lebih enak dibandingkan dengan kopi yang yang tumbuh di tempat lain.

Pohon kopi memang sangat pemilih soal tempat tumbuh terbaiknya. Selain lingkungan tropis yang hangat dan lembab, biji kopi terbaik juga butuh ditanam di lahan yang berada di ketinggian. Menurut juara New York Barista Championship 2015 Sam Lewontin, idealnya tanaman kopi ditanam pada ketinggian 1.300 hingga 1.400 meter diatas permukaan laut (mdpl),

Perubahan suhu siang dan malam yang ekstrim di wilayah pegunungan negara tropis menjadi “terapi kaget” unsur-unsur kimia alami dalam biji kopi. Keasaman organik, senyawa aroma, dan gula  membuat rasa kopi lebih kaya. Kombinasi magis dari panas, kelembapan, curah hujan, ketinggian dan kualitas tanah juga sangat mempengaruhi biji kopi. Hasilnya, satu tanaman dengan varietas yang sama pun dapat terasa berbeda jika tumbuh di ketinggian berbeda.

Namun, Coffeemates, seiring dengan temperatur bumi yang terus meningkat, tempat bertumbuhnya biji kopi unggulan ini pun terancam. Satu hal yang mulai dapat kamu lihat, Coffeemates, lahan untuk pertumbuhan kopi yang optimal perlahan tapi pasti mulai pindah ke tempat yang lebih tinggi.

“Jarak ketinggian lahan yang dianggap tempat pertumbuhan biji kopi unggulan mulai menyempit,” ujar Sam Lewontin.

Gawatnya, temperatur yang lebih panas juga menjadi kondisi ideal bagi berkembangnya penyakit dan hama pembunuh tanaman kopi. Sebagai contoh, “Roya” yang dikenal menyebabkan efek seperti karat pada daun kopi.

Konon, ketika sudah terjangkit Roya, daun-daun pohon kopi akan berguguran sebelum akhirnya tamat riwayat. Jikapun pohon kopi yang terjangkit mampu bertahan hingga buah kopi bermunculan, biji kopi yang masih hijau akan berangsur menguning hingga menjatuhkan diri dari pohon. Alhasil, tak akan ada biji kopi yang layak untuk disambut sebagai biji kopi specialty.

Belum lagi, reputasi Roya yang terkenal jahanam jika sudah menjangkiti pohon kopi. Satu pohon terjangkit, maka satu perkebunan pun ikut sakit.

Menurut Lewontin, meski kini para produsen kopi mulai bereksperimen untuk dapat menciptakan jenis tanaman kopi yang lebih tangguh menghadapi gempuran perubahan iklim, peta perkebunan kopi tetap berangsur menyempit.

Saat kita sadar wilayah dengan iklim yang lebih hangat menjadi semakin luas, daerah ideal tempat bertumbuhnya kopi pun akan ikut bergeser menjauhi sabuk ekuator.

Wow, solusi bukan?
Kita dapat menanam biji kopi di tempat lain!
Persediaan biji kopi tetap terjaga.
Jatah kopi tiap pagi juga tak akan terancam!

Sebentar, Coffeemates. Ini memang terdengar manis.
Namun, coba pikirkan: jika negara yang jauh dari khatulistiwa menjadi lebih hangat dan lembap, negara-negara yang ada di sabuk ekuator akan jadi terlalu panas.

Ketika Roya mewabah.

Artinya, perkebunan yang sekarang menjadi surga bagi tanaman kopi, seperti perkebunan-perkebunan kopi di Kolombia, Brazil, Ethiopia, Kenya, juga Indonesia, tak lama lagi akan kosong. Lahan-lahan tersebut akan mustahil untuk ditumbuhi kopi.

Negara-negara yang kini dikenal sebagai negara tropis tidak akan lagi menjadi tempat terbaik untuk pertumbuhan kopi enak. Masa depan perkebunan kita bisa jadi berakhir tragis.

Cuaca ekstrim dan curah hujan yang tidak biasa di dataran tinggi juga menyebabkan gelombang hama dan penyakit di perkebunan kopi.  Di Tanzania, di mana 2,4 juta orang hidup dari kopi, produksi kopi sudah menurun sebanyak 137 kg per hektar untuk setiap kenaikan 1º Celcius. Saat karat daun kopi menjangkiti setengah dari produksi kopi di seluruh Amerika Tengah di tahun 2012, beberapa produsen di Guatemala kehilangan 85% dari total hasil panen. Pada tahun itu, kerusakan pohon kopi menyebabkan kerugian sebanyak $500 juta dollar dan membuat 350.000 orang kehilangan pekerjaan.

Ilmuwan pun percaya, pada tahun 2080 kopi akan punah.

Melihat data seperti ini, masa depan kopi terlihat suram. Jika fakta pemanasan global mengancam jatah kopimu terus kami paparkan, mungkin kita akan merubah pola hidup dan pola konsumsi yang menyumbang begitu banyak polutan di bumi.

Namun Coffeemates, jika pemanasan global dan perubahan iklim bukan masalah esensial untuk kamu, silahkan untuk tidak peduli dan tidak berbuat apa-apa.

(Tulisan oleh Lani Eleonora;
suntingan oleh Klara Virencia.

Informasi disadur dari artikel-artikel:
“Even Short Term Heat Waves Can Destroy Coffee Plants”, “Climate Change Will Halve Suitable Coffee Growing Land”, & “Global Warming May Shift Where Coffee Is Grown” oleh Sprudge.com;
“The world’s best coffee-growing regions are changing” oleh businessinsider.com.

Foto buah ceri kopi oleh Andreansyah Dimas.
Gambar-gambar ilustrasi lainnya disadur dari scaa.org & usnews.com.)

Lani Eleonora

About Lani Eleonora

Lani Eleonora adalah seorang penikmat kopi yang senang berkelana, menapaki gunung, dan menyelami lautan. Musik adalah cinta pertamanya yang menuntun ia untuk menulis.

Leave a Reply