Dijuluki sebagai Samurai, Shinsaku Fukuyama, tidak main-main dengan mimpinya. Sejak kecil terbiasa dalam dunia kompetisi membuatnya piawai menyusun strategi untuk memenangkan pertandingan. Ia sadar harus membuat rencana matang setiap memutuskan untuk mengikuti kompetisi. Tau bagaimana cara untuk berlatih, menang, dan menjadi lebih baik adalah kunci gelar juaranya.

Akrab disapa Samurai oleh rekan kerjanya atas kelihaiannya melukis dalam gelas latte menyerupai kelihaian seorang samurai

Dengan latar belakang keahlian memasak yang diturunkan oleh ayahnya membuat Shinsaku memulai karir sebagai seorang koki di restoran milik sang ayah di Jepang. Nyatanya, Coffeemates, ayahnya jugalah yang membuatnya berputar haluan dari dapur menuju bar kopi.

Berawal dari kebingungan saat ayahnya membeli mesin kopi untuk membuat cappuccino sendiri. Bagi Shinsaku saat itu, membuat cappuccino sendiri sangat tidak masuk akal. Ketika kedai kopi dan mesin penjual kopi otomatis bertebaran di sekitar mereka. Sampai akhirnya sang ayah menunjukkan cara membuat cappuccino dari mesin yang ia beli. Shinsaku pun seketika terpikat.

“Ayah ku menunjukkan cara membuat cappuccino dan itu membuat ku menjadi penasaran sebenarnya. Oh wow ternyata sangat menarik. Setelah itu aku menonton berbagai latte art di youtube. Itulah saat aku mulai belajar latte art.”, cerita Shinsaku saat ditemui oleh tim kopikini.com seusai kelas latte art yang diadakan oleh Sensory Lab, Jakarta (29/4).

Sejak saat itu ia sangat ingin menjadi barista. Sadar ia harus belajar langsung dari sumbernya, ia memutuskan Melbourne adalah tempat yang tepat untuknya menimba ilmu. Tak punya bekal pengalaman ataupun kemampuan berbahasa Inggris sama sekali tidak menurunkan niatnya. Bahkan gelak tawa dan keraguan orang-orang terdekatnya tak sedikit pun membuatnya ragu.

“Pengalaman jadi barista, nol. Kemampuan bahasa Inggris, nol.” Shinsaku berbagi cerita sambil tertawa. “Teman-teman ku bilang mustahil —mereka tertawa karena mereka gak percaya apa yang aku bilang. Tapi aku bener-bener pingin jadi barista. Jadi ya sudah, aku putusin buat berangkat ke Melbourne empat tahun lalu. —dan aku langsung menuju ke St. Ali.”

Shinsaku melempar dadu untuk menentukan pola yang harus dibuat oleh peserta kompetisi saat menjuri di kompetisi melukis latte yang diadakan oleh St. Ali bulan Mei lalu.

Tanpa bekal keahlian barista dan sedikitpun tidak memiliki kemampuan bahasa Inggris tentu saja membuatnya tidak diterima menjadi barista. Sesuai dengan pengalamannya di kampung halaman, diterimalah ia sebagai koki saat pertama kali bekerja di St. Ali. Dari situ ia menyempatkan diri untuk terus menerus berlatih hingga mendapatkan tempat sebagai seorang barista di Sensory Lab, Melbourne, beberapa bulan kemudian.

Perjalanan Menuju Juara Dunia Seni lukis Kopi

Coffeemates, tidak menyerah pada keterbatasan dan fokus pada mimpi adalah kunci. Shinsaku Fukuyama saksi hidupnya. Siapa sangka dari titik nol pengalaman dan keterampilan ia mampu membuktikan diri hingga menempati posisi terbaik di kelasnya.

Hanya berselang tiga bulan sejak ia diterima menjadi seorang barista di Sensory Lab, Shinsaku segera memutuskan untuk mengikuti kompetisi dan kalah. “Aku baru tiga bulan jadi barista. Masih gugup dan tangan sering bergetar.” Ujar Shinsaku saat bercerita soal pengalaman pertamanya dalam kompetisi. Tapi kekalahan justru membuatnya semakin bersemangat untuk berlatih dan menyusun strategi terbaik untuk meraih gelar juara.

Baginya kemampuan memang penting, tapi mental lebih penting lagi. Pada akhirnya ia sadar, untuk menghadapi kegugupannya di atas panggung kompetisi ia harus melatih mentalnya. Karena itu selain berlatih setidaknya lima jam sehari di balik bar ia juga melatih pikirannya dengan mempraktekkan yoga dan meditasi.

“Sebelum kompetisi selalu dua jam yoga, lalu meditasi. Selalu. Setiap hari. Dan setiap sebelum tidur juga meditasi. Aku juga banyak berlatih. Jadi aku punya kemampuan. Keahlian ku meningkat, kan? Dan mentalku juga berkembang.” Shinsaku menjelaskan rutinitasnya sebelum memulai kompetisi. “Akhirnya, di kompetisi berikut aku mendapat posisi kedua di Australia. Berikutnya, menjadi juara.”

Pada tahun 2016 Shinsaku berhasil meraih gelar juara dunia dalam kompetisi Coffee Fest Dallas, Texas. Kemudian kembali menjadi juara dua Australian Latte Art Championship yang diselenggarakan oleh Australian Specialty Coffee Association (ASCA) pada tahun 2017.

Iyak, sedikit lagi. Terus latihan. Jangan lupa yoga dan meditasi setiap pagi dan sebelum tidur. Niscaya, gelar juara di depan mata.

Setelahnya ia sempat mengatakan tidak akan mengikuti kompetisi latte art lagi. Bukan berarti ia berhenti berkompetisi, nyatanya ia mengincar untuk menjadi seorang Coffee Master. Shinsaku berujar bahwa ia mencintai seni lukis kopi, tapi ia mencintai semuanya tentang kopi. Baginya, membuat espresso sempurna, menguasai teknik seduh manual, membuat berbagai macam jenis kopi, dan menguasai seluruh pengetahuan soal kopi tak kalah penting dari seni melukis latte.

Ia kemudian menegaskan, “Aku bukan seorang seniman latte. Aku, barista.”

Memegang teguh prinsipnya sebagai seorang barista Shinsaku merasa harus menguasai profesi barista sepenuhnya. Bagi Shinsaku kini melukis sudah menjadi perkara mudah baginya. Karena ia banyak berlatih setelah menjalani profesi barista selama tiga setengah tahun.

“Tapi, jika hanya latte art aku tidak bisa mencapai level berikutnya. Aku ingin menjadi lebih baik.” Shinsaku menambahkan alasan kenapa ia ingin berhenti berkompetisi di cabang latte art. “Dan saya masih belajar. Ini pengalaman tiga setengah atau empat tahun. Aku masih suka belajar.”

Dadu seni lukis kopi ini akan menjadi salah satu produk yang akan dijual dalam website Shinsaku.

Salah satu pola latte art dalam dadu samurai yang kemudian dihadiahkan kepada salah satu peserta kompetisi melukis kopi St. Ali.

Selain mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi Coffee Master di New York pada bulan Oktober nanti, Shinsaku juga kini tengah mempersiapkan merk produk pribadinya, Samurai Jug. Diperkirakan seluruh produknya akan mulai dipasarkan dalam dua bulan ke depan melalu website pribadinya. Target awalnya ia akan bisa memasarkan di Australia, kemudian Indonesia, dan Malaysia hingga Jepang.

Related Post

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply